Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Penantian yang Tak Sia Sia


__ADS_3

Setiap hari, jam, menit bahkan detik, mata Mara selalu menatap Regar yang masih berbaring di kamarnya dengan segala alat alat medes yang melekat di tubuhnya yang semakin kurus. Mara selalu setia mendampingi calon suaminya yang benar benar telah mengisi hati Mara sepenuhnya.


"Kakak tahu, hari ini Kak Maira masak enak banget, nanti kalo Kakak bangun Kakak harus mencobanya!" ucap Mara bibirnya tersenyum namun matanya meneteskan air mata.


"Kak, Arka selalu ngeselin kalo ke sini, pokoknya kalo Kakak bangun Kakak harus kasih Arka pelajaran ya! janji!" Mara terus mengajak Regar berbicara dan itu memang yang di sarankan oleh Dokter Erick langsung. Bukan hanya Mara yang sering berbincang pada Regar namun seluruh keluarga juga melakukan hal yang sama


Air mata Mara terus jatuh bahkan sampai mengenai tangan Regar, namun bibirnya terus berbicara aapun dan tersenyum layaknya orang yang sedang bahagia.


"Kak, kapan sih bangunnya Mara kangen tahu!" lanjut Mara bibirnya ia kerucutkan layaknya orang yang sedang ngambek


"Kakak tega tahu, biarin Mara nunggu lama kayak gini.." lanjut Mara menggoyang goyangkan lengan Regar.


"Kakak gak mau lihat Mara lagi ya! Kakak marah ya sama Mara?" Mara tak henti berbicara, bahkan air matanyapun semakin deras membasahi pipinya yang mulus.


Hari itu semua keluarga memang sedang berkumpul, mereka sedang berdiskusi tentang Regar dan masa. depan Mara. Mereka akan memutuskan jika sampai dua bulan ini tak ada perkembangan Regar, maka mereka memutuskan untuk mencabut semua alat alat yang telah di pasang di tubuh Regar sebagai alat penyambung nyawanya, dan membiarkan Mara hidup tenang tanpa bayang bayang Regar lagi.


Mara kecewa dengan keputusan keluarganya juga keluarga Regar, ia sama sekali tak setuju maka dari itu ia semakin intens mengajak Regar berbicara.


"Kakak tahu, Mereka ingin memisahkan kita jika Kakak gak bangun bangun, jadi aku mohon bangunlah Kak, Mara gak mau di pisahin sam Kakak.." lanjut Mara semakin terisak..


Tiba tiba tangan Regar bergerak, namun Mara tak menyadarinya karena ia masih terisak dengan kepalanya tertunduk. Tangan Regar terus bergerak seolah ingin memberitahu pada Mara jika ia masih ingin bersamanya.


Mara menggenggam tngan Regar, dan sontak ia sangat terkejut dan mengangkat kepalanya menatap tangan Regar yang baru saja ia rasa bergerak.


"Kak..." ucap Mara lirih matanya melotot karena sekali lagi ia bisa merasakan tangan Regar yang bergerak dan melihatnya secara langsung.


Mara berteriak. memanggil semua orang yang sedang duduk di ruang tamu, untunglah Dokter Erick juga ada di sana.


"Tante tangan Kak Regar bergerak.." ucap Mara keras dari ambang pintu menatap semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.


Semua orang segera berdiri dan mendekati Mara, begitupun Dokter Erick yang segera berlari masuk ke dalam kamar Regar untuk memeriksa keadaannya.


Mara dan yang lain menunggu di luar atas perintah Dokter Erick, karena ia akan memeriksa kondisi Regar.


"Mara berhasil membangunkanmu ya!" ujar Dokter Erick tersenyum puas atas perkembangan Regar yang meningkat.


"Aku yakin kau sangat mencintainya begitupun Mara.."lanjut Dokter Erick memperhatikan pasiennya dengan sudut bibirnya yang nampak tersenyum.


"Dok, adikku.." tanya Maira saat melihat Dokter Erick yang sudah keluar dari kamar Regar dengan wajah cerah.


"Hahhhh.." Dokter Erick membuang nafasnya kasar, membuat semua orang menjadi gelisah dan. khawatir. Namun engan segera Dokter Erick merubah mimik wajahnya menjadi bahagia dan tersenyum.


"Mara, aku yakin Regar sangat mencintaimu bahkan diapun tak ingin berpisah darimu.." ujar Dokter Erick menatap Mara yang bingung dengan ucapannya


"Regar sudah jauh lebih baik, dan mungkin besok regar akan membuka matanya.." lanjut Dokter Erick membuat rasa lega pada semua orang yang mendengar kabar itu termaksud Mara yang terduduk lemas karena terlalu bahagia ia menangis tapi bibirnya tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Aku, aku mau lihat Kak Regar.." ucap Mara menatap Dokter Erick yang segera mengangguk dan tersenyum.


Mara kembali berdiri ia segera masuk ke dalam kamar Regar dan berjalan perlahan menuju ranjang milik Regar.


"Aku tahu Kakak akan bertahan untuk Mara.." ujar Mara kembali menggenggam erat tangan Regar


"Terima kasih Kak, kau sudah berjuang.." lanjut Mara ia semakin terisak.


"Aku takkan mati semudah itu.." suara orang yang begitu ia rindukan kembali ia dengar dengan jelas di telinga Mara.


Mara mengangkat kepalanya menatap Regar, dan ia kembali terkejut dengan mata yang semakin deras mengeluarkan cairan beningnya. Regar sedang tersenyum kearahnya menatap wajah gadis yang terlihat berantakan dengan wajah pucat pula namun tak mengurangi kecantikan gadis itu.


"Ka...kak..." panggil Mara pelan matanya masih menatp Regar tak percaya.


"Kau merindukanku?" tanya Regar membalas genggaman tangan Mara yang menoleh pada tangannya yang sedang di genggan oleh Regar, air matanya kembali menetes.


"Kak... hiks hiks hiks..." tangis Mara pecah hingga terdengar sampai ke luar kamar Regar. Semua orang yang mendengar tangisan Mara segera masuk ke dlam dan mereka sangat terkejut melihat Regar yang sudah sadar.


"Regar..." panggil Maira di sisi lain tempat Regar berbaring.


"Kak..." jawab Regar tersenyum, meskipun wajahnya masih di perban namun senyumannya masih bisa di lihat oleh semua orang yng turut bahagia atas sadarnya Regar dari koma.


"Kau sangat membuat kami takut dek.." ujar Syakira memeluk Rangga ia juga sedang terisak melihat Regar yang akhirnya bangun dari tidur panjngnya.


"Paman..." panggil Arka, remaja itupun tak mampu menahan tangisnya.


"Kau selalu menjahili calon Tantemu ya?" tanya Regar menatap Arka. Mereka yang mendengar cukup kaget nmun segera tersenyum menatap Regar yang juga tersenyum. menatap keponkannya.


"Maaf Paman, aku hanya ingin menghibur Kak Mara." jawab Arka juga tersenyum.


Mara menatap Regar, ia merasa selama ini Regar selalu mendengarkan ceritanya hingga air matanya yang tadi sudah berhenti kembali jatuh dan mengenai tangan Regar yang menggenggam tangannya. Regar menoleh pada Mara yang menatapnya dengan air mata yang semakin jatuh.


"Kenapa?" tanya Regar menghapus air mata Mara dwngan tangan satunya, karena Maira sudah tak memeluknya lagi dan mundur ke samping Dokter Erick.


"Kakak mendengar semua yang aku katakan?" Mara balik bertanya, ia sangat penasaran.


"Tentu, aku selalu mendengarkan mu." jawab Regar kembali tersenyum ke arah Mara yang semakin terisak, namun hatinya sangat bahagia.


"Makasih Kak, makasih.." ujar Mara kembali menundukkan pandangannya


"Kaka yang makasih, karena kamu sudah mau nunggu Kakak sampai detik ini." jawab Regar, ia memegang dagu Mara dan menariknya ke atas hingga kepala Mara kembali menatap ke arahnya


"Maaf, Kakak gak bisa dateng di hari bahagia kita." sesal Regar. Mara segera menggelengkan kepalanya ia membalas genggamn tangan Regar dengan tangan sebelahnya.


"Mara akan terap menikah sama Kakak, kemarin atau besok, karena Mara sangat mencintai Kakak." ujar Mara yakin dan tanpa ragu mengatakannya membuat Regar tersenyum bahagia, sangat bahagia.

__ADS_1


Semua mata yang melihat keromantisan mereka hanya bisa ikut bahagia, akhirnya cepat atau lambat Mara dan Regar akan kembali bersama.


"Oh, Ya Allah tolonglah hamba yang jomblo ini.." ujar Arka membuat lelucon, dan tentu saja semua orang tertawa setelah mendengar ucapannya.


Maira juga tertawa melihat Arka, dan Dokter Erick tersenyum melihat Maira, entah sejak kapan tapi Dokter Erick merasa jika ia sudah terpikat pada Maira.


"Cantik.." ujar Dokter Erick pelan


"Kenapa Dok?" tanya Maira yang berdiri di sampingnya, ia mendengar gumaman Dokter Erick namun tak jelas di telinganya hingga ia bertanya


"Saya akan periksa pasien." jawab Dokter Erick segera mengalihkan pembicaraan. Rangga yang mengerti akan kegugupan sahabatnya itu hnya bisa tersenyum, dan Syakira menatap suaminya seolah ingin minta penjelasan mengapa ia tersenyum.


"Seertinya Dokter Erick menyukai Kak Maira." ucap Rangga membuat Syakira menutup mulutnya, namun ia tersenyum juga menatap Maira.


Regar sedang di periksa Dokter Erick, namun tangannya tak pernah melepaskan genggamannya pada Mara, dan Mara selalu setia duduk di sampingnya.


"Syukurlah keadaan Regar sangat baik, bahkan bisa saya katakan ini mukjizat baginya karena ia bisa sadar dalam waktu yang terbilang cepat." ujar Dokter Erick. memberi penjelasannya


"Alhamdulillah.." jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Baiklah saya akan kembali ke rumah sakit untuk membuat jadwal terapi bagi Regar.." ucap Dokter Erick dan hendak keluar dari kamar Regar setelah ia rasa keadaan pasiennya sudah lebih baik.


"Saya antar Dok.." tawar Rangga, Dokter Erick hanya mengangguk setuju. Mereka berduapun segera keluar beriringan.


"Kau menyukai Kak Maira?" tanya Rangga tanpa basa basi lagi saat mereka sudah di luar


"Sepertinya.." jawab Dokter Erick tak juga mengelak


"Jika benar, kejarlah jangan sampai keduluan orang lain Bro.." ujar Rangga menepuk oundak Dokter Erick yang hnya tersenyum dan segwra masuk ke dalam mobilnya.


"Ya, lihat saja nanti.." jawabnya kemudian mobil melaju meninggalkan kediaman Maira dan Regar.


"Ku harap kalian berjodoh..." ujar Rangga nenatap mkbil sahabatnya yang kian menjauh dan hilang di balik jalanan.


Lanjut up....


Uhhh, akhirnya sampe juga di season Regar sadar..


Makasih yang masih setia baca novelku ini ya, tapi jangan lupa buat kasih like sama dukungannya biar Author juga makin semangat...


Dannn....


Makasih orang baik....


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2