Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Sisi lain Regar


__ADS_3

Siangnya, Syakira beserta keluarga datang ke rumah sakit begitupun Risa. Mereka baru saja di beritahu oleh Arka dan Bibi.


"Pah Wulan!" Risa memeluk Papahnya saat ia baru saja tiba di ruang rawat Wulan dan melihat wajah Papahnya yang begitu sedih.


"Di dalam Nak, Papah baru saja keluar.." jawab Regar dengan senyum terpaksa. Risa mengerti akan kesedihan Papahnya, ia memeluk Papah Regar dan malah ikut menangis.


"Wulan pasti sembuhkan Pah!" lirihnya tak bisa lagi membendung air mata, Farhan yang menggendong Baby Ziyan hanya bisa diam melihat interaksi antara anak dan Papah.


"Pasti Nak, pasti.." jawab Regar ragu.


"Kamu sudah makan sayang?" tanya Syakira, ia memegang pundak anaknya yang terlihat rapuh. Arka menoleh ke arah samping di mana Bundanya duduk. Seketika air matanya kembali jatuh, ia memeluk Bunda erat dengan penuh kesedihan.


"Kita berdoa sama sama ya sayang, Wulan pasti kuat dan akan sembuh.." ucap Syakira menenangkan hati anaknya, dan itu tak lepas dari pandangan Regar yang masih menaruh hati pada mantan istrinya.


"Arka takut Wulan pergi Bun..." lirih Arka di sela tangisannya.


"Jangan bilang gitu, kita harus berfikir positif. Wulan pasti bisa bertahan dan melewati semuanya dengan baik Nak.." Syakira mengusap punggung Arka yang bergetar.


"Hmmm." jawab Arka tak lagi menyahut sebab bibirnya sudah terasa keluh.


Rangga mengusap pucuk kepala Arka, ia memberikan senyumannya saat Arka mendongak menatapnya.


"Arka harus kuat, kalo Arka kayak gini gimana Wulan bisa berjuang! hmmm..." sahut Rangga. Arka mengangguk dalam diam namun ia mengikuti ucapan Papah Rangga dan segera menghapus air matanya asal.


"Sekarang Arka makan ya Nak, ini sudah siang.." ucap Syakira ia memberikan rantang yang berisi berbagai macam masakannya yang ia buat sendiri. Arka kembali mengangguk dan menerima salah satu rantang yang sudah berisi nasi juga lauk pauknya.


"Mas kamu juga makan, ini sudah siang jangan sampai kamu sakit..." Syakira memberikan rantang lain pada Regar yang sedikit kaget. Matanya melirik Rangga yang nampak biasa saja dan tetap memperhatikan putranya yang sedang makan.


Ragu ragu Regar menerima rantang dari Syakira dan mulai menyantapnya dalam keheningan. 'masih sama, tetap enak.' batin Regar melirik Syakira lalu melirik Rangga, sekita ia menggeleng pelan saat membayangkan Syakira yang menjadi istrinya dan menemaninya di saat sulit seperti ini.


Risa juga Farhan baru saja keluar dari ruang rawat Wulan, mereka cukup terkejut saat mendengar kabar tentang Wulan yang mengidap kanker jantung bahkan sudah sampai ke stadium akhir.

__ADS_1


"Mas, bagaiman bisa Wulan mengidap penyakit ganas ini..." lirih Risa, ia memeluk Farhan dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya sedang Ziyan yang sudah besar Farhan letakan di kursi dekat Regar.


"Mas juga gak nyangka sayang, tapi Mas yakin Wulan pasti sembuh.." jawab Farhan walau ia pun sama ragunya dengan Regar tapi tak ada kata lain untuk menguatkan istrinya yang ia tahu sangat menyayangi Wulan walau mereka bukanlah Kakak dan Adik kandung.


"Semoga..." gumam Risa, ia pun sebenarnya tak yakin namun hati kecilnya tetap berharap jika adiknya akan sembuh dan bisa berkumpul bersama mereka lagi.


Hari makin sore, Arka dan Regar masih duduk di sana menunggu Wulan yang belum juga sadar, di temani Syakira, Rangga juga Baby Daneen yang sudah tertidur dalam gendongan Rangga. Risa juga Farhan sudah kembali ke rumah karena Ziyan yang terus menangis.


"Sebaiknya Arka pulang dulu ya Nak, nanti kamu bisa ke sini lagi!" ajak Syakira yang hendak pulang bersama Rangga juga putri mereka. Arka menggeleng, ia menatap sendu ke arah Bunda.


Syakira menghembuskan nafasnya pelan, ia menatap kasihan pada putranya lalu beralih pada suaminya.


"Ya sudah nanti malam Papah akan ke sini buat anterin baju Arka ya Nak!" Rangga memegang pundak Arka, ia memberikan senyuman hangat pada putranya. Seolah terhipnotis akan senyuman Rangga, Arka membalas senyuman itu dan hatinyapun sedikit merasa tenang.


"Ya Pah, makasih..." jawab Arka. Rangga hanya mengangguk kecil dan tetap memberikan senyuman hangatnya.


"Kita pulang, kamu juga harus istirahat sayang.." ucap Rangga mengajak istrinya pulang, Syakira hanya mengangguk saja ia beralih pada Arka dan mencium pucuk kepala anaknya.


"Ya Bun..." jawab Arka, kali ini senyumnya sedikit di paksa.


Arka dan Rangga sudah kembali ke kediamannya, begitupun dengan Risa juga Farhan yang lebih dulu pulang sebab Ziyan yang sudah lelah dan menangis terus membuat mereka harus pulang lebih cepat.


Tinggal lah Arka juga Regar di sana, keduanya masih sama sama diam menunggu Wulan yang belum ada tanda tanda akan bangun.


"Sebaiknya Arka masuk aja Nak, dan istirahat di dalam." ucap Regar melihat putranya yang kelelahan.


"Ayah!" Arka menoleh pada Regar yang tersenyum hangat.


"Ayah harus mengurus administrasi dulu nanti baru nyusul masuk ke dalam.." jawab Regar. Arka mengangguk, tanpa berkata kata lagi ia segera masuk ke dalam ruang rawat Wulan dan mendudukkan dirinya di atas kursi samping tempat tidur.


Arka menatap wajah adiknya yang sangat pucat, ia menggenggam erat tangan Wulan. "Bangun dek, Kakak rindu..." lirih Arka

__ADS_1


"Maaf, Kakak belum bisa buat kamu bahagia dan bahkan Kakak gak sadar kalo kamu sakit bahkan penyakit kamu separah ini.." Arka berusaha menahan air matanya yang sudah menumpuk, sekali saja ia berkedip di pastikan semuanya akan langsung tumpah.


"Kakak sayang sama Wulan, jadi Wulan harus bangun ya dek!" lanjutnya, Arka membuang wajahnya ke arah lain ia tak ingin menangis walau sebenarnya ia justru ingin menjerit sekuat kuatnya. Bagaiman tidak, dulu Bundanya yang harus terbaring seperti ini dan sekarang adiknya, dua orang yang sama sama ia sayangi.


"Kakak akan jaga kamu sayang, dan Kakak gak akan ninggalin kamu kita akan hidup sama sama mulai sekarang. Jadi, bangunlah dek!" Arka mencium punggung tangan Wulan, hatinya kembali sakit saat ia melihat wajah pucat Wulan yang tak merespon ucapannya sejak tadi.


Arka menghembuskan nafasnya pelan, sungguh ia juga sangat lelah bahkan Arka belum mandi sejak pagi sampai sore ini. Arka meletakkan kepalanya di atas ranjang Wulan sekejap ia sudah tidur dengan posisi itu.


Regar yang baru selesai membayar biaya rumah sakit Wulan pun segera kembali ke ruang rawat anaknya, namun baru saja membuka pintu ia sudah melihat Arka yang tertidur. Regar mengangkat tubuh Arka dan memindahkannya ke atas sofa yang ada di sana tak lupa ia menyelimuti anaknya dengan jas kerja yang ia pakai.


"Maaf, Papah jadi merepotkan kamu Nak.." bisik Regar, ia mencium kening Arka sayang lalu berpindah pada Wulan dan duduk di kursi yang sebelumnya Arka duduki.


"Nak, Papah kangen sekali sama Wulan, kapan Wulan mau bangun dan membuka mata sayang!" lirih Regar, tak seperti Arka Regar sudah menjatuhkan air matanya. Jujur ada rasa takut jika harus kehilangan putrinya walaupun Wulan hadir ke dunia karena sebuah kesalahan akan tetapi rasa sayang juga cintanya tak bisa di uraikan. Ya, Regar sangat menyayangi putri satu satunya yang sudah ia jaga dan rawat hingga saat ini.


"Papah minta maaf, gak bisa jaga Wulan dengan baik." Regar menghapus air matanya ia menatap wajah pucat anaknya dan juga mata Wulan yang masih tertutup rapat.


"Cepatlah bangun, kita akan tinggal bersama dengan Kak Arka." lanjutnya semakin lirih. Regar membuang wajahnya ke arah samping, kemudian menatap Arka yang masih tidur dengan pulas.


Senyum getir terpaut di wajahnya, mengingat Arka yang akan tinggal bersama mereka namun mengapa harus di saat salah satu anaknya sakit seperti ini.


Regar memejamkan matanya, ia kembali menatap Wulan yang tetap setia menutup mata.


"Cepat bangun ya Nak, Papah dan Kak Arka akan menunggu kamu sayang..." setelah mengatakan itu, Regar ikut tertidur seperti yang di lakukan Arka tadi dan meletakkan tangan Wulan tepat di wajahnya.


"Papah sayang kalian..." ucap Regar, sebelum ia benar benar tertidur.


Lanjut....


Makasih....


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2