
Risa bingung dengan jawaban yang akan ia berikan untuk Farhan, padahal ini sudah lebih dari dua bulan sejak Farhan mengatakan perasaan padanya.
"Ris, kenapa?" tiba tiba Syakira muncul dari arah belakangnya membuat Risa kaget hingga melemparkan kain lap di tangnnya ke lantai.
"Bu Syakira.." Risa segera mengambil kain lap yang tadi terjatuh.
"Melamun?" tanya Syakira saat melihat Risa
"E..nggak Bu.." jawab Risa terbata terlihat jelas jika ia sedang menyembunyikan sesuatu. Syakira tersenyum kemudian mengajak Risa ke tempat duduk pojok yang agak sepi untuk bicara dari hati ke hati.
Ya Syakira memang wanita yang sangat baik, selain cantik ia juga tak pernah menyimpan dendam pada seseorang termaksud Regar mantan suaminya ataupun Maya si pelakor.
Syakira tetap memperlakukan Risa dengan baik, bahkan ia selalu berusaha memperhatikan anak dari Maya, karena ia paham bagaimana rasanya tak memiliki Mamah di sampingnya.
"Kenapa? hari ini Risa terlihat gak konsen!" tanya Syakira saat mereka sudah duduk di kursi.
"Hmm, Bu Risa..."
"Panggil tante saja.." ucap Syakira saat Risa menghentikan ucapannya
"kenapa? coba cerita sama tante.."
"Risa di lamar tan, tapi Risa masih bingung sama perasaan Risa dan Risa gak tahu harus jawab apa." terang Risa dengan raut wajah sedih sekaligus bingung.
Syakira tersenyum ia kembali mengingat kisahnya dengan Rangga yang kini sudah menjadi suami tercintanya. Sangat mirip.
"Kamu harus bisa melihat dia dengan hati kamu, baru kamu bisa tahu jawaban apa yang harus kamu berikan padanya." Risa bingung dengan penjelasan Syakira.
"Begini, bagaimana dia memperlakukan kamu selama ini?" tanya Syakira dengan sabar.
"Sangat baik tan, bahkan ia selalu ada ketika Risa sedang sedih dan butuh bahu." ucap Risa tersenyum saat mengingat dan menceritakan Farhan yang selalu tahu akan kesedihannya.
"Lihat, sebenarnya kamu juga memiliki perasaan pada nya, hanya saja kamu belum bisa menyadarinya.." ucap Syakira tersenyum Benar benar mirip kisahnya..
"Benarkah tante?" tanya Risa tak yakin
"Ya, saat kamu menceritakan tentang dia Risa selalu tersenyum bahkan sangat terlihat jika Risa bahagia. Berarti Risa juga memiliki perasaan yang sama ke dia Nak.." jelas Syakira, Risa tertegun.
"Benar, Risa gak bisa menyadarinya tan.." jawab Risa menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pada Farhan sudah menggantung jawaban padanya hingga dua bulan ini dan bahkan Farhan masih setia menunggu jawaban darinya.
"Makasih tan, Risa jadi tahu jawaban apa yang harus Risa beri sama Farhan.." ucap Risa memeluk Syakira secara spontan karena bahagia.
"Sama sama.." jawab Syakira membalas pelukan Risa.
"Maaf tante.." Risa segera melepas pelukannya saat tersadar jika saat ini ia sedang memeluk Syakira bosnya.
"Gak papa.." jawab Syakira tersenyum hangat pada Risa.
Sejak bicara dengan Syakira, hati Risa jauh lebih baik dan tenang ia bahkan semakin bersemangat saat mengerjakan pekerjaannya hingga selesai bahkan senyumannya tak pernah lepas dari bibirnya.
"Ris, keknya habis ngobrol sama Bu Syakira kamu kelihatan bahagia banget habis di kasih bonus ya?" tanya salah satu teman ketjanya. Risa tersenyum menatap ke arah temannya itu.
"Nggak kok, kalo aku dapet bonus kalian juga dapet lah.." jawab Risa. Benar Syakira dan Rani selalu memperlakukan mereka semua dengan adil.
__ADS_1
"Iya sih ya..." ucapnya kemudian kembali ketempatnya. Risapun segera bersiap untuk ke kampus karena jam kerjanya sudah usai.
"Balik dulu ya!" ucap Risa saat ia sudah berganti pakaian dan hendak keluar dari Cafe. Semua karyawan yang memang sudah mengenal Risa hanya mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
"Aku akan mengatakannya pada Farhan, jika aku juga memiliki perasaan yang sama untuknya.." ucap Risa pelan saat ia sedang berjalan keluar dari Cafe.
"Mbak Risa?" suara seorang di hadapannya dengan baju ojol.
"Eh, iya pak.." jawab Risa kemudian menaiki motor setelah memakai helm.
Risa merasa aneh dengan orang yang saat ini sedang membonceng dirinya karena orang itu melewati jalur yang bukan ke arah Kampusnya.
"Pak, ini bukan jaalan arah ke Kampus saya!" ucap Risa menegur pengendara ojol yang membawanya. Namun pengendara ojol itu hanya diam dan semakin mengencangkan laju kendaraannya membuat Risa terperanjat kaget dan berpegangan kuat di belakangnya.
"Pak berhenti.." teriak Risa menepuk pundak pengendara ojol dengan satu tangan.
"Pak..." teriak Risa semakin kencang, pengendara ojol itupun berhenti dan menarik Risa dengan kasar.
"Lepasin, mau di bawak ke mana saya.." teriak Risa, ia melihat sekitarnya yang sepi tak ada satu kendaraanpun yang lewat jalur itu.
Risa semakin takut, namun ia juga tak bisa melakukan apapun ia hnya bisa berteriak hingga suaranya serak dan tenggorokkannya terasa sakit.
"Siapa kamu? apa yang kamu mau hah!" ucap Risa dengan suara ketakutannya membuat pria di hadapannya tersenyum menatap Risa yang terjatuh di hadapannya.
Pria itu semakin mendekati Risa yang berusaha mundur meskipun ia saat ini tak bisa bangkit karena kakinya yang terluka akibat terkena ranting hingga mengeluarkan darah cukup banyak.
"Tolong jangan lakukan itu.." Mohon Risa ia sangat takut.
Risa terus memberontak, membuat Pria yang sudah berada di atasnya menjadi kesal dan menamparnya cukup kuat hingga Risa mengeluarkan darah dari ujung bibirnya membuat ia merasa lemah dan hampir tak sadarkan diri, namun ia tak sepenuhnya pingsan hingga ia masih bisa merasakan sentuhan dari pria di atasnya bahkan ia hanya bisa menangis dan tak mampu berbuat apapun.
"Ha ha ha, akhirnya aku bisa menikmati tubuhmu gadis cantik..." ucap Pria itu dengan bahagia, ia tertawa melihat kondisi Risa yang sudah tak berdaya karena ulahnya kemudian meninggalkan Risa yang benar benar tak sadarkan diri.
Miris sekali nasib Risa....
Selama berminggu minggu Risa tak pernah keluar dari apartemennya setelah kejadian pemerkosaan hari itu, bahkan ia tak ingin bertemu dengan siapapun termaksud Papah, Adik apa lagi Farhan. Risa tak sanggup menatap wajah mereka yang sangat menyayangi dirinya.
"Kak Risa..." teriak Wulan sejak tadi gadis itu sudah berada di apartemen Risa dan memanggil namanya namun yang di panggil tak kunjung keluar.
"Kak Risa buka pintunya." Wulan terus berusaha memanggil Kakaknya namun tetap tak ada jawaban.
Wulan semakin cemas, sedangkan Papahnya tak kunjung datang sejak setengah jam yang lalu setelah ia menelpon.
"Di mana Kakak?" tanya Regar saat ia baru sampai dan mendapati Wulan yang terduduk di depan pintu apartemen Risa yang masih tertutup rapat.
Wulan hanya mengisayaratkan pada Papahnya jika Risa ada di dalam.
"Risa ini Papah Nak, tolong buka pintunya sayang!" ucap Regar mencoba membujuk putrinya agar mau membukakan pintu untuk mereka, namun tetap saja pintu itu masih terkunci.
"Pah, gimana ini! Wulan khawatir sama Kakak.." Wulan membuka suaranya dan menunjukkan wajah cemasnya
"Papah juga sayang."jawab Regar tak kalah cemas..
"Kita dobrak aja Pah.." usul Wulan dan segera di setujui Regar.
__ADS_1
Regar mendobrak pintu apartemen dengan kuat, di percobaan pertama dan kedua gagal hingga percobaan ke tiga saat ia akan mendobrak Farhan datang dengan segala kecemasannya.
"Om Risa mana?" tanya Farhan dengan nafas ngos ngosan karena ia harus naik dengan tangga darurat hingga ke lantai lima.
"Di dalam.." jawab Regar memperbaiki posisinya.
"Kenapa kamu bisa di sini?" selidik Regar menatap Farhan.
"Nanti aku jelasin Om, sekarang sebaiknya kita dobrak pintu itu aku khawatir dengan Risa.." ucap Farhan. Regar mengangguk setuju kemudian mereka berdua mengambil ancang ancang dan mendobrak pintu apartemen Risa hingga terbuka lebar.
Farhan segera berlari masuk ke dalam mencari keberadaan Risa, untungnya hanya ada satu kamar di apartemen itu hingga Farhan bisa tiba di sana.
"Risa.." panggil Farhan sambil membuka pintu yang tak terkunci.
Farhan terpaku saat melihat Risa di hadapannya, sedangkan Regar dan Wulan yang baru sampai juga sangat terkejut dengan keadaan Risa.
Risa sudah pingsan di bawah ranjangnya dengan busa yang keluar dari bibirnya karena mengalami overdosis akibat meminum obat yang berlebihan.
Farhan segera mengangkat Risa sebelum Regar dan segera membawanya ke rumah sakit dengan mengendarai mobil Regar atas perintahnya.
"Ris bertahan, ku mohon bertahanlah.." isak tangis Farhan terdengar jelas di telingan Regar yang sedang menyetir sedang Wulan hanya bisa menangisi kondisi Kakaknya yang sangat buruk.
Satu jam perjalanan mereka baru sampai di rumah sakit milik Regar, mereka segera membawa Risa ke ruang ICU bahkan Farhan sendiri yang memeriksa kondisi Risa.
"Ris aku di sini.." ucap Farhan mulai memeriksa kondisi Risa yang mulai lemah.
Farhan sangat terkejut dengan kondisi yang di alami Risa, ia akhirnya tahu mengapa Risa meminum obat obat itu hingga membuat ia mengalami overdosis.
"Hamil..." lirihnya merasa sedih, pasalnya ia tahu jika Risa tak pernah berhubungan dengan pria manapun, lalu bagaimana Risa bisa hamil?
"Bagaiamana mungkin!" ucapnya pelan, ia sangat terkejut hingga lupa jika saat ini Risa sedang dalam masa kritis dan membutuhkan pertolongannya.
"Dokter, pasienn..." ucap Suster yang mendampinginya saat melihat kondisi Risa yang semakin kritis. Farhan yang tersadar kembali memeriksa kondiai Risa, hingga akhirnya ia mampu menyelamatkan nyawa Risa.
Farhan keluar dari ruang ICU dengan wajah yang tak bisa di tebak, ia bahagia karena Risa masih bisa di selamatkan, namun ia sedih dan kecewa karena gadis yang ia cintai ternyata tengah hamil dan entah siapa Ayahnya.
"Farhan, Risa?" tanya Regar saat melihat Farhan yang keluar dari ruangan ICU
"Risa selamat Om, tapi.." Farhan menggantung ucapannya membuat Regar kembali khawatir.
"Tapi Risa hamil..." ungkapnya membuat Regar membulatkan matanya sempurna. Wulan hanya menutup mulutnya karena ia juga sangat terkejut, bagaimana mungkin Kakaknya bisa hamil sedang ia tahu jika Risa tak pernah berhungungan dengan pria manapun.
"Nggak mungkin..." ucap Wulan tak percaya....
Lanjut up...
Kasihan Risa,😕
Makasih yang dah mampir baca loh, tapi jangan lupa buat like sama kasih dukungannya ya... he he he
Makasih orang baik....
🙏🙏🙏
__ADS_1