Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku

Pengkhianatanmu Ku Balas Dengan Bahagiaku
Cinta Habibi


__ADS_3

Hari berlalu, dan tergantikan dengan bulan. Sekarang tepat tiga bulan sudah Wulan masih koma dan belum sadarkan diri setelah hari itu. Wulan masih begitu setia dengan tidurnya yang panjang dengan wajah yang tetap pucat dan sayu serta tubuh yang tadinya berisi berangsut kurus.


"Dek..." panggil Arka lemah, setiap hari ia datang ke sana untuk berinteraksi dengan adiknya, Arka hanya akan menceritakan tentang kegiatannya di kampus juga Habibi yang lebih sering diam sejak tahu tentang kondisi Wulan. Habibi juga sering datang ke rumah sakit untuk menjenguk atau bahkan menginap atas izin dari dua pria yang sangat menyayangi Wulan.


"Kau tahu! Habibi sekarang lebih sering diam, dia selalu murung akhir akhir ini dan Wulan pasti tahu siapa yang sudah membuatnya jadi pendiam seperti ini kan!" ucap Arka, bibirnya tersenyum namun wajah sedih masih terpaut di sana.


"Kakak sudah sering menghiburnya tapi tetap saja sama gak mau bicara seperti biasanya." lanjut Arka, ia menggenggam tangan adiknya sambil mengusap punggung tangannya.


"kapan sih kmu bangun dek! Kakak kangen tahu.." Arka menatap lekat wajah Wulan, ia sungguh merasa sangat sedih karen tak lagi bisa melihat senyum manis adiknya yang sudah dua bulan ini tak lagi ia lihat.


"Hahhh..." Arka menghela nafas berat.


"Kakak berangkat kuliah dulu ya! nanti siang mungkin Habibi bakalan main ke sini..." Arka kembali mencium punggung tangan Wulan ia juga mencium kening Wulan dan segera keluar ruang rawat adiknya untuk ke kampus.


"Assalamualaikum..." tak ada balasan dari Wulan tentunya dan Arka hanya bisa tersenyum masam.


Di kampus Arka bertemu dengan Habibi, tak seperti biasanya di mana Habibi yang begitu ceria dan selalu bisa mencairkan suasana. Habibi berubah menjadi sosok pendiam dan lebih suka menyendiri, dan kalian tentu tahu siapa penyebabnya. Benar, dia adalah Wulan gadis yang ia suka sejak kecil dan sudah ia tembak namun belum juga dapat jawaban dari gadis itu sampai pada akhirnya Wulan koma karena kanker yang di derita.


"Bi..." panggil Arka saat melihat Habibi yang juga baru saja tiba dan memarkirkan mobilnya di tempat biasa.


"Ka..." jawab Habibi tersenyum tipis.


"Nanti siang kamu jadi ke rumah sakit kan?" tanya Arka dan Habibi hanya mengangguk pelan.


Arka tak lagi berniat untuk melanjutkan obrolan mereka karena ia juga tahu jika Habibi hanya akan menjawab dengan anggukan atau gelengan saja.


Keduanya segera masuk ke kelas masing masing. Arka yang mengambil jurusan kedokteran sedangkan Habibi dan Wulan yang mengambil jurusan seni hingga mereka harus berpisah.


Arka selalu fokus saat pelajaran ia akan berjuang keras untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang Dokter dan kelak tak akan dia biarkan keluarganya mengalami hal seperti yang di alami adiknya meskipun semua sudah menjadi takdir Illahi, hanya saja ia akan berusa dan berjuang demi keluarga yang ia cintai.


Berbeda dengan Habibi, ia justru selalu melamaun bahkan di jam pelajaran sekalipun akan tetapi Habibi tak pernah melewatkan pelajaran dan tetap mengikuti arahan dari dosen. Hanya saat awal awal Wulan masuk rumah sakit saja ia selalu mengurung diri di kamar dan menangisi nasib gadis yang ia cintai, namun berkat bujukan dari Arkalah Habibi mau kembali menjalankan aktifitasnya dan sering berkunjung ke rumah sakit.


Siang hari seperti yang sudah di rencanakan, Habibi sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit kebetulan jam kuliahnya sudah kosong.


Selama perjalanan pun Habibi hanya diam saja dan hanya memikirkan Wulan saja. "Wulan..." lirihnya, tepat dengan mobilnya yang berhenti di depan gedung rumah sakit. Habibi segera mencari parkir dan menuju ke ruang rawat Wulan.

__ADS_1


"Assalamualaikum...." salam Habibi saat ia baru saja membuka pintu ruangan Wulan.


Habibi berjalan mendekati Wulan dan berhenti tepat di samping ranjang di mana Wulan masih terbaring. Habibi duduk di kursi yang ada di samping Wulan, ia tak menyentuh gadis itu namun pandangannya terus terarah pada wajah Wulan yang masih pucat dan sayu tak lupa tubuh yang kian kurus.


"Apa kabar? semoga selalu baik ya, karena gue gak mau loe pergi..." ucap Habibi memaksakan senyumannya. Ingin sekali rasanya ia menggenggam tangan Wulan akan tetapi ia selalu mengingat dengan ucapan Arka yang hanya membolehkannya menemani dan mengajak adiknya bercerita tanpa menyentuh, dengan alasan jika mereka bukan mukhrim tentu saja.


"Loe jahat banget tahu Lan! sampe sekarang gak bangun bangun padahal gue selalu dateng buat nemenin loe tapi loe nya tetep aja gak mau buka mata dan lihat gue di sini.." lirih Habibi, seketika pandangannya jatuh ke bawah menatap kedua tangannya yang terkepal menahan rasa sedihnya.


"Gue kangen loe Lan, gue kangen senyuman loe." lanjutnya, suara Habibi semakin melemah seiring dengan jatuhnya air mata.


"Gue harap loe bisa segera bangun dan lihat gue di sini yang selalu nunggu loe dan nunggu jawaban cinta loe Lan..." Habibi kembali mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Wulan. Tanpa sadar tangannya terangkat dan mengelus pipi Wulan dengan penuh perasaan, namun saat ia sadar Habibi segera menarik tangannya kembali.


"Sorry, gue reflek.." ucapnya tersenyum dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


Cukup lama Habibi di ruangan Wulan, bahkan ia juga sampai tertidur di sana sampai Papah Regar datang dan melihat nya yang masih tertidur dengan nyenyak di kursi samping ranjang anaknya.


"Anak ini selalu saja seperti itu..." ucap Regar tersenyum melihat pemandangan yang memang sudah sering ia lihat.


Regar segera membangunkan Habibi karena hari yang sudah semakin sore, ia takut jika Habibi akan di cari oleh Mamahnya seperti beberapa hari yang lalu karena tak pulang seharian padahal tak ada jam kuliah.


"Om..." gumam Habibi masih bisa di dengar oleh Regar yang hanya tersenyum hangat.


"Habibi gak pulang Nak? nanti kamu di cariin sama Mamahmu lagi!" tanya Regar sembari meletakkan makanan di atas meja.


"Gak Om, kalo boleh Habibi mau nginep di sini ya nemenin Wulan! Habibi janji gak macem macem kok Om!" pinta Habibi, matanya menatap Regar memohon. Regar tak mampu menolak setiap kali melihat tatapan Habibi yang memelas seperti itu, Regar menggeleng dan tersenyum tipis.


"Ya sudah, malam ini Habibi yang nemenin Wulan tapi harus izin dulu sama Mamah ya!" ucap Regar memberikan izinnya dengan syarat harus memberitahukan keberadaannya pada sang Mamah. Habibi mengangguk setuju dengan senyuman lebar.


Regar merasa terharu akan Habibi yang selalu menemani putrinya, ia juga sudah di beritahu Arka tentang Habibi yang sebenarnya mencintai Wulan karena itulah Regar mengizinkan dan memberikan keleluasaan bagi remaja itu untuk bisa menemani anknya atau bahkan menginap di sana.


"Om titip Wulan kalo gitu ya, jangn macam macam!" ucap Regar di sertai ancaman namun itu hanya sebagai candaan saja. Habibi mengangguk dan kembali tersenyum mendengar ucapan Regar yang juga tersenyum hangat.


"Om pulang dulu, dan jangan lupa untuk mengabari Mamah kamu!" Regar kembali mengingatkan Habibi yang hanya mengangguk saja.


Regar pun meninggalkan ruangan Wulan dan mempercayakan putrinya pada Habibi yang akan menjaga anaknya di sana, karena sebenarnya Regar juga cukup merasa kelelahan hari ini sebab ada banyak pekerjaan yang harus ia tunda sejak anaknya melakukan oprasi transplantasi jantung dua bulan lalu dan berakhir Pada Wulan yang koma sekarang namun kankernya masih belum bisa di pastikan hilang sepenuhnya dan masih harus melakukan beberapa pengobatan lagi, namun sayangnya Wulan justru koma sampai saat ini.

__ADS_1


"Mah, Habibi gak pulang malam ini karena mau nemenin Wulan di rumah sakit." ucap Habibi saat telponenya baru saja di angkat oleh orang yang ia panggil Mamah.


"Ya sudah, tapi besok harus pulang!" jawab Mamah memberikan izinnya.


"Hmmm, besok siang Habibi langsung pulang. Makasih.." ucap Habibi dan hanya mendapat helaan nafas dari sebrang sana. Habibi pun mengakhiri sambungan telpone dan kembali fokus pada Wulan saja.


"Love you Lan, gue harap loe segera bangun dan mau membals cinta gue ke loe.." ucap Habibi, kedua tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya. Ia masih setia menatap wajah gadis di hadapannya, walau wajahnya pucat namun tak membuat kecantikan gadis itu hilang.


"Loe tetep cantik walaupun muka loe pucat Lan, tapi loe bakal lebih cantik kalo loe bangun dan buka mata loe itu!" lanjutnya tersenyum tipis, lagi tangannya tanpa sadar mengelus pipi Wulan namun saat sadar ia segera menariknya dan menghembuskan nafasnya kasar karena mengingat ucapan Arka yang selalu mengingatkannya untuk tidak menyentuh adiknya.


"Kakak loe nyebelin tahu! masa gue gak boleh megang loe dan entah gue yang takut ama Kakak loe atau emang Kakak loe yang nyeremin sampe gue malah ngikutin ucapannya!" kesal Habibi, ia kembali meletakkan tangannya ke bawah dagunya.


"Tapi, gak papa lah yang penting gue masih di izinin buat nemenin loe di sini." lanjut Habibi kembali tersenyum tipis meski hatinya merasa sedih karena tak bisa melihat senyum manis gadis yang ia sukai.


"Gue tidur di sini ya! gak papa kan?" tanya Habibi ia menepuk sisi ranjang Wulan yang kosong.


Habibi hanya tersenyum, ia segera meletakkan kepalanya di dekat wajah Wulan hingga ia bisa melihat wajah gadisnya dengan dekat.


"Sekali kali gak papalah ya gue tidur kek gini.." ucapnya terkekeh geli karena ia tahu jika Arka melihat posisinya sekarang pasti pria itu akan marah marah dan mengusirnya detik itu juga.


"Nanti bangunin ya kalo Arka dateng.." bisik Habibi, meski tahu tak akan ada jawaban ia tetap mengatakannya. Habibi kembali tersenyum dan mulai memejamkan mata.


"Selamat malam, istirahat dan besok harus bangun ya.." lirih Habibi yang sudah setengah sadar karena rasa kantuk yang mulai mendera.


Setiap kali Habibi menginap di ruang rawat Wulan, Habibi tak pernah lupa mengatakan itu saat akan tidur walau sampai saat ini pun Wulan masih belum juga bangun namun Habibi tak pernah berhenti mengatakannya dan berharap jika besoknya Wulan akan bangun dan menyambutnya dengan senyuman.


Habibi tidur dengan nyaman di sana, tanpa ia sadari jika Wulan mengeluarkan air mata dari ujung matanya hingga mengenai tangan Habibi yang di letakkan dekat dengan wajah gadis itu namun karena Habibi yang sudah terlalu nyenyak akan tidurnya hingga tak bisa merasakan hangatnya air mata Wulan.


Lanjut up....


Makasih jangan lupa like sama votenya ya, juga dukungan kalian semua....


Makasih...


😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2