
***
putri Reva kembalilah pada pangeran zefan"
"benar sudah menjadi rahasia umum bahwa kalian saling mencintai"
"cinta kalian begitu murni dan tulus, sangat di sayangkan apabila kandas karna pernikahan politik"
"putri Reva jangan takut, kami akan membantu anda berbicara pada Raja"
"menikahlah dengan pangeran Zefan, pangeran yang anda cintai"
Desakan - desakan itu terus terlontar dari mulut para rakyat, membuat Reva semakin bingung.
"pangeran, bagaimana ini, mereka terus mendesak putri Reva??" tanya Devan sangat khawatir. Begitu juga Ferry wajah nya diam membeku. Sangat kaku.
Hanya gumaman dan tatapan kosong yang Alden tampilkan. Benar - benar tidak ada ekspresi dan respon. Membuat Devan dan Ferry semakin khawatir.
"hadeuhhh,, trik menggunakan rakyat yah? Sangat rendahan dan tidak berkelas. Syukurlah aku berpindah waktu sebelum aku menikah dengan Zefan. Jika tidak. Aish,,, merepotkan!!" batin Reva masih menatap santai Pelayan Zefan itu, yang terus memainkan trik.
"putri Reva aku mohon.. Mohon anda kembali lah ke pelukan pangeran Zefan" pinta pelayan itu sekali lagi dengan nada merengek.
Bukkk!! Emosi Ryuza sudah tak tertahankan lagi, melihat adiknya terus di desak. Satu pukulan maut sukses dia layangkan pada pelayan Zefan. Membuat mereka semua diam terpaku. Reyza yang sabar, kini juga sudah memikirkan cara paling menyakitkan membalaskan perlakuan Zefan ini.
"Cukup sudah!! Kesabaran ku telah habis!! Beraninya kau mendesak adik ku!! Tidak kah kau pernah bercermin!!Tak ada yang boleh menindas adik ku, selain aku kakaknya!!" bentak Ryuza yang di suluti emosi.
"aish... Kakak ku ini, aku semakin mencintai nya saja. Hanya saja, saat ini rakyat pasti semakin mengasihani Zefan dan pelayan nya ini!!"
"Keterlaluan!! Pelayan pangeran Zefan berlutut dan meminta sopan pada putri Reva. Lalu anda memukul nya dengan kasar. Tidak kah kau merasa ini berlebihan" bela salah seorang rakyat itu angkat bicara.
__ADS_1
"nggak berlebihan tuh" tambah Reyza dengan santai nya.
Membuat para Rakyat geram akan tindakan kedua orang ini.
"hehe, sepertinya... Pertunjukkan akan di mulai. Lihat bagaimana akting kelas atas milik ku!!" batin Reva masih menganggap remeh permasalah di depan nya ini.
"cukup!! Hiks..hikss..." ringis Reva, air matanya mengalir. Bulir hangat yang keluar dari mata indah nya yang jatuh mengairi pipi nya, membuat sendu semua orang yang di sana. Suara ringisan Reva seorang bagai suara tangisan satu Negara, sangat sedih rasanya. Membumuat orang di sekitarnya semakin simpati.
"Devan!! Ferry!! Seret dan penggal pelayan Zefan itu!! Aku mau kepalanya!! Beraninya dia membuat calon permaisuri ku menangis!!" perintah Alden dengan aura membunuh yang sangat kuat.
"pamgeran..."
"kenapa kalian menyalahkan kakakku??! Hiks..dia hanya membela ku... Kalian telah mendesak ku, membuatku berada dalam dilema dan tidak berdaya. Salah kah kakakku jika ia membela adiknya ini? Adiknya yang kini tengah tak berdaya?? Aku tau dia keterlaluan karna memukul orang. Hanya saja, dia melakukan nya karna sangat menyayangi adik nya ini. Salahkah seorang kakak jika melindungi adik nya?? Jika kalian ada di posisinya. Tidak kah kalian melakukan hal yang sama??"
"haha!! Memang adik ku!!" batin Reyza menyeringai senang.
Pertanyaan Reva ini membuat seluruh rakyat yang ada di sana bungkam. Hanya saling pandang yang dapat mereka lakukan. Pertanyaan beruntun Reva ini sangat sulit di bantah.
"hanya apa??!! Lalu aku...aku...aku tidak pernah mencintai pangeran Zefan. Saat itu aku berhutang budi padanya, dia pernah menyelamatkan nyawa ku! jadi aku berhubungan dekat dengan pangeran Zefan. Aku tidak tau, ini akan menimbulkan salah paham yang begitu besar" ujar Reva dengan akting luar biasa, benar benar membuat orang tertegun dan kagum. "Aku tidak pernah menyukai pangeran Zefan. Tapi,, pangeran Alden saat dia menolong seorang kakek tua. Aku tidak tau, aku tertarik padanya. Makanya aku akan menikahinya" senyuman insah dan hangat tengah di tampilkan nya, meski hanya sekejap, tapi bayangan senyuman indah di wajah nya tak dapat dilupakan. "Tapi..kalian sekarang...."
"akh, jadi anda tidak pernah mencintai pangeran Zefan??"
Anggukan pelan namun pasti yang Reva tunjukkan, membuat mereka semakin merasa bersalah.
"Dua hari lagi, segeralah datang" gumam Alden tersenyum bahagia di kereta nya.
"akh iyah!! Aku pernah melihat pangeran Alden membantu seorang kakek tua. Jadi, karna itukah anda menyukainya putri Reva??"
"aku tidak tau, hanya saja aku merasa bahagia saat dia bahagia"
__ADS_1
"*maafkan kami putri, kami kira anda menikah karna terpaksa"
"ini salah kami yang mengambil kesimpulan sendiri"
"semoga pangeran dan putri, bahagia selalu"
"kami akan selalu mendukung keputusan anda putri Reva*"
Ucapan, dan gumaman itu lah yang Reva tunggu sedari tadi. Telinga nya di banjiri dengan suara nyaring para rakyat.
"terimakasih" senyuman Reva itu membuat semua orang terkejut tertegun.
"ayo jalan.. Oh yah, apa kalian sudah mengirimkan hadiah yang kuminta pada Reva??" tanya Alden. Suasana hatinya amat sangat baik.
"pangeran tenang saja, sudah aman terkendali" jelas Devan dengan wajah cengengesan.
***
"putri!! Anda sudah kembali! Seira sangat merindukan nona. Huhu" teriak Seira yang menyambut nona nya dari gerbang depan.
"gadis bodoh. Haha. Apa Aila sudah kembali??"
"Aila belum kembali. Tapi, hadiah dari pangeran Alden sudah datang. Hadiah nya sangat mewah nona. Dan ada gaun yang sangat indah juga. Sangat cantik!" ucap Seira Antusias.
"oh begitukah? Ada hadiah dari calon adik ipar ku??" tanya Reyza melihat barang - barang nya. Sangat indah dan mewah.
"cari muka!" desis Ryuza yang berjalan pergi.
***
__ADS_1
Ayooo like, komen and vote
Maaf hari ini ceritanya pendek , soalnya author lagi gak enak badan. Demi readers Author up meski pendek😅