Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tiga Puluh


__ADS_3

***


Secara diam - diam, Reva,  Aila dan Kai bertemu lagi. Yah di tempat yang sama. Di Bar milik Reva.


"Nona, kami sudah mendapatkan informasi nya, tentang bangsa Netchet dan Rambell" ucap Kai memulai diskusi.


"oh,  apa yang kau dapat kan? " sahut Reva yang kelihatan begitu tenang.


"Bangsa Rambell memiliki tanda di lengan nya. Tanda itu berwarna hitam,  apabila merah artinya dia adalah keturunan bangsawan pemimpin nya Nona.  Aku dengar mereka di sebut sebagai bangsawan Lakats"


"lalu,  begaimana dengan bangsa Netcher? "


"bangsa Netcher memiliki tanda mawar di bahu.  Bila mawarnya berwarna hitam maka orang biasa,  dan bila merah maka dia bangsawab Arthaft,  keturunan pemimpin " sambar Aila. "dan masalah nya,  tidak ada keterangan soal mawar biru " tambah nya lagi terlihat khawatir.


"Nona jangan khawatir,  aku dan Aila pasti akan menemukan kejelasan nya"


"jangan pikirkan aku,  pikirkan dirimu sendiri Kai. Kau memiliki tanda mawar merah.  Mungkin kah kau adalah bangsawan Arthaft??" tanya balik Reva.


Aila dan Kai diam.  Mereka sebelum nya terlalu sibuk dengan mawar biru Nona nya.  Sampai lupa bahwa Kai memiliki tanda mawar merah.


"itu benar,  apa mungkin kau keturunan Arthaft? " timpal Aila.


"Aku juga tidak tau,  yang ku tau aku memang anak angkat dari orang tua ku yang dulu"


"jika memang kalian berasal dari bangsa Netcher, kita harus berhati - hati. Terhadap oranb istana,  dan juga bangsa Rambell" peringat Reva, kali ini ia cukup serius.  Mengingat hanya ada mereka bertiga,  yang tak mungkin melawan bangsa kstaria dan bangsa Rambell. "Kalian,  cari tahu keberadaan bangsa Netcher,  mungkin jika kita bergabung dengan mereka itu lebih aman"


"Nona,  anda benar. Ayo kita kembali,  aku khawatir pada Dafa" kata Aila.


Reva mengangguk,  mereka segera bergegas kembali ke kediaman.


***


"Alden,  ayah tau kau pura - pura lumpuh" pekik halus Raja,  saat hanya ada dia dan putra ke empat nya ini di kamarnya.  Raja memang memanggil secara pribadi pangeran Alden.


Mendengar ucapan Ayah nya ini Alden tersentak,  namun ia mencoba untuk tetap tenang. Yah bagaimana pun juga,  pria paruh baya di hadapan nya adalah sang Raja.  Memang bukan hal mudah untuk menipunya.


"Maafkan Alden ayah, silahkan hukum saya" sahut nya tertunduk.

__ADS_1


"Apa kau punya alasan khusus untuk ini? "


"Aku, aku hanya tidak ingin terlibat konflik dengan pangeran lain nya"


"Baiklah.  Akhiri semua ini" titah Raja. Tentu saja Alden memberontak,  ini bukan saat nya.


"Ayah. Maaf, Alden rasa ini bukan saat nya. Akan sangat aneh bila aku langsung membuka rahasia ini"


"Benar,  maka dari itu ayah sudah memikirkan caranya. Kau,  pergilah ke perbatasan Utara. Selesaikan bangsa Rambell yang ada di sana. Setelah kau kembali,  Ayah akan mengumumkan kau sembuh dengan seorang tabib hebat disana" titah Ayah nya.


Alden tahu dengan jelas apa maksud ayah nya kali ini. Yah dia memang seorang ayah, tapi dia juga seorang Raja.  Tenti saja akan memanfaatkan Alden memusnahkan musuh nya.


"Baiklah ayah,  Alden mengerti.  Besok aku akan pergi ke perbatasan Utara"


"Ayah sudah tua,  ayah ingin istirahat.  Kau boleh kembali"


"Alden undur diri Ayah" ucapnya Membalikkan badan nya. Melangkah keluar dari kamar megah Ayah nya.


Saat di luar,  dan ingin berjalan pulang,  entah kebetulan ataupun kesengajaan. Alden berpapasan dengan pangeran pertama yang sepertinya juga ingin menemui Raja. Bukan hal baru bagi kedua saudara tiri itu tak menyapa jika tak ada orang. Mereka hanya saling tatap dan berlalu pergi begitu saja.


"Ahkkk... Selalu seperti ini,  kenapa begini saat selalu bertemu dengan nya?! " desis pangeran pertama, Faras Kertlan. Ia memegang erat lengan sebelah kanan nya. Terlihat jelas ekspresi nya menahan sakit. Tiba - tiba dari lengan itu,  terpancar sedikit cahaya merah.


***


"Hal terbaik yang pernah terjadi padaku adalah, kehadiran mu dalam hidup ku.  Kau menghipnotis aku untuk melupakan segala ambisi besar ku,  hanya untuk bersama gadis kecil seperti mu.  Ada apa dengan mu?  Kenapa aku selalu terikat padamu?  Yah..aku seperti nya telah terjerat terlalu dalam dengan cintamu" gumam Alden duduk di sebelah Reva,  menatap lalu mengelus wajah cantik Reva.  Tak lupa, ia juga mendaratkan beberapa ciuman hangat di sana.


"Besok aku pergi ke perbatasan Utara.  Saat ini,  hal yang paling aku takutkan bukan lah bangsa Rambell atau siapapun.  Aku hanha takut, saat kita berjauhan kau akan melupakan ku" keluh nya lagi yang sudah terbaring memeluk erat badan mungil Reva.


Dia?  Apakah dia begitu mencintaiku?  Aku..,  perasaan apa ini? Dia bilang perbatasan Utara, itukan tempat bangsa Rambell membuat kekacawan?!  Mau apa orang ini kesana?!  Menghantarkan nyawa?!


Batin Reva yang masih terpejam dalam pelukan Alden.


***


Sejak subuh sudah terdengar kasak kusuk keributan pengangkatan Barang.  Membuat tidur Reva terganggu. Ia menyadari sudah tak ada sosok pria yang memeluknya hangat kemarin malam. Dengan wajah khas bangun tidur,  ia keluar kamar.  Untuk melihat kasak kusuk itu.


"Alden, apa yang terjadi?! " tanya Reva mengucek matanya,  karna pandangan nya masih belum jelas.

__ADS_1


"Kenapa kau bangun begitu cepat?  Matahari bahkan belum naik?" sahut Alden menghampiri permaisurinya,  membuka jubahnya yang langsung di letakkan di bahu istrinya,  guna membalut tubuh mungil Reva.


Apa?!  Dia bilang apa?!  Alden?!  Tanpa embel - embel pangeran atau yang mulia?!  Putri Reva memang luar biasa!


Batin Devan menatap takjub. Berbeda dengan Ferry,  ia tersenyum tipis melihat keromantisan dua orang ini. Sekilas ia mengingat wajah Aila,  yah dia dan Aila sering juga bertengkar beradu argumen. Wajar,  sikap Aila itu keras kepala,  dan dia selalu menjunjung tinggi prinsip 'Cewek gak pernah salah'


"kau bertanya mengapa aku bangun saat suara ini begitu berisik" keluh nya,  entah kenapa ia mengatakan ini dengan nada sedikit manja. Membuat Alden tersenyum senang.


"maaf kan aku,  aku sudah mengatakan pada mereka agar tetap tenang" bela Alden.


"Terserahlah...  Apa yang sebenarnya terjadi? "


"aku akan pergi ke perbatasan Utara hari ini"


Ternyata yang diucapkan nya kemarin malam itu benar,  dan itu bukan mimpi ku.  Aish... Apa pernyataan cinta nya juga bukan ilusi ku?


"Kenapa baru memberitahu ku sekarang?!  Aish... Aku belum bersiap"


"kau tak perlu ikut, ini sangat berbahaya,  tetaplah di kediaman ini"


"Sebenarnya aku juga tak ingin merepotkan diri dengan ikut dengan mu.  Hanya saja, didikan keluarga Wisbrith ku terlalu baik. Bagaimana pun aku adalah Istrimu yang harus mengikuti kemana pun kau pergi. Bahkan jika itu nyawa taruhan nya"


Alden dan semua orang disana begitu tertegun,  Kali ini sikap Reva yang itu menambah rasa cinta Alden padanya berkali - kali lipat. Alden mengusung senyum yang lebar,  pertanda dirinya sedang sangat senang.


"kau tak perlu khawatir,  aku tak ingin menjadi duda,  dan kau tak boleh menjadi janda" ucap Alden mencium pucuk kepala Reva,  membuat pipi putihnya menjadi merah merona.


"Hei, kalian. Panggil Seira, Aruna,  dan Aila untuk bersiap.  Khusus nya Aila,  jika ia tak bangun.  Katakan padanya aku akan menghukum nya dengan 'cara lama' "


"Cara lama?  Cara apa itu?! " tanya Alden sedikit bingung.


"membunuh Tanpa menyentuh" sahutnya dengan nada sok menakutkan.


***


Ayoo like, komen. And Vote yah...


Makasih atas dukungan kalian yah..

__ADS_1


Kalau bisa di setiap chap,  komen dong.  Hehe


__ADS_2