
***
"Ayah?! Bagaimana ini?! Raja Alden tidak pernah menginjakkan kakinya ke Mansion Selir. Dia hanya datang sekali, dan saat itupun dengan Ratu Reva! Bagaimana mungkin aku bisa melahirkan seorang pangeran tanpa di sentuh olehnya?! " Gerutu Mira, merengek manja pada Ayahnya yang seorang Jendral Utama.
Ayahnya diam, tampak memikirkan jalan keluar dari masalah putri Tunggal nya ini.
"Ayah?! Sangat sulit mendapat kan hati Raja Alden! Bahkan saat dia ingin ku sentuh saja tidak bisa! Sudah ada pelayan nya Ferry yang menghentikan ku! Ayah ini sangat sulit! Semua ini karna Ratu menjijikan itu! Ini pasti karna ulahnya! Dia yang meminta Kami untuk tak pernah menyentuh Raja! " umpat Mira lagi. Ia mondar mandir berjalan tidak tenang. Impian nya yang ingin duduk di kursi Ratu sampai sekarang tidak terpenuhi juga.
"Ayah! Bagaimana ini?! "
"Ayah punya satu jalan keluarnya Mira, " kata Ayahnya. Sontak Mira pun mendekati Ayahnya.
"Apa rencana Ayah? Ayah! Kita harus cepat sebelum Fina anak penasihat itulah yang akan mendapatkan Anugrah dari Raja! "
"Shhttt diamlah. Kau, Nanti malam pulang lah ke kediaman Jendral Utama. Disana, Ayah akan meminta Raja untuk datang. Tanpa dia sadari, Ayah akan memasukkan obat perangsang di dalam makanan dan minuman nya. Lalu, saat itu kau datanglah. Dan Rayu dia. Berdandan yang sangat cantik. Tak kan mungkin dia tidak tertarik pada putri tercantik Ayah ini. " serunya sembari membelai lembut rambut putri kesayangan nya.
"Ayah! Ini rencana yang sangat luar biasa! Ayah hebat! Luar biasa hebat! " Puji Mira, ia memeluk erat tubuh Ayahnya itu.
"Tapi Ayah? Apakah Raja akan mau datang ke kediaman kita? Ayah tau kan, dia Raja terarogan sepanjang sejarah. " Ucap Mira lagi membuka pembicaraan nya.
"Ayah akan memberinya alasan tentang membicarakan Keamanan Kerajaan dan Perbatasan. Kau lupa? Ayahmu seorang jendrak sekarang. "
"Terima kasih ayah! Aku mencintai mu! "
__ADS_1
***
"Yang Mulia Raja. Malam ini anda mendapat undangan makan oleh Jendral Utama di kediaman nya. Dia ingin membahas soal Benteng Perbatasan kerajaan kita. " Lapor Ferry berdiri di belakang Alden.
"Oh? Benarkah? Kirim saja Jendral Yasha kesana." Sahut Alden enteng. Sembari memakan Anggur dari suapan Istri kesayangan nya, yang tengag duduk di pangkuannya.
"Baiklah yang mulia. Saya akan meminta Jendral Yasha untuk datang. Mohon undur diri. " Kata Ferry, ia menunduk dan pergi. Meninggalkan Reva dan Alden berdua saja disana.
"Eh? Bukan kah itu penting? Kau harus memperhatikan daerah perbatasan mu. Kau tau? Mungkin saja Jendral Utama akan merebutnya darimu. " Kata Reva, sembari terus memberikan Anggur pada suami kesayangan nya itu.
"Jika Aku kesana, maka kau yang akan kehilangan suami mu. Kau mau? "
"Apa maksudmu Alden? "
Alden memukul pelan jidat mulus Reva. Hingga gadis mungil itu mengaduh kesakitan.
"Alden!!! "
"Maafkan Aku, apa itu sakit? Apa aku memukul nya terlalu kuat? " Alden langsung mendarat kan kecupan manisnya di tempat jitakannya mendarat.
"Humphhh!! " Reva mengerucut kan gemas bibir nya.
"Aishhh... Sayang, dengarkan Aku.
__ADS_1
Mereka tentu memiliki motif untuk aku datang ke kediaman nya. Jika dia memang ingin membicarakan tentang perbatasan, dia akan mengatakan nya di istana tadi. Sore tadi, dan bukan malam hari. "
"Maksudnya? "
"Sejak kapan permaisuri ku berubah menjadi begitu bodoh seperti ini? Heii, Motif yang paling memungkinkan adalah Dia ingin aku menyentuh putrinya, dengan memberikan obat perangsang di makanan dan minuman ku. Hingga aku menyentuh putrinya. Reva, Aku adalah seorang Raja. Tak mungkin bisa di bodohi begitu saja. "
"Aku tidak bodoh! Aku hanya kurang paham! " protes Reva. Dia memiliki identitas presdir, mana mungkin ingin dikatakan bodoh begitu saja?
"Kau tau? Seorang Yang di sebut Raja itu adalah orang yang luar biasa, dalam hal kebijakan dan juga kekuatan . Dia adalah orang yang diutamakan di sebuah kerajaan. Jadi, Aku tak mungkin tertipu. Raja bodoh mana yang akan tertipu hanya dengan trik murahan begini. Itu tidak masuk akal. Bukan kah dia tak layak disebut Raja, saat melawan trik murah dari selirnya? " lanjut Alden lagi, ia mengecup lembut pipi kanan dan kiri istrinya, yang terlihat begitu menggemaskan.
Oh ya Ampun! Bagaimana bisa aku melupakan trik klasik ciri khas ini! Menggunakan Obat perangsang?!
Batin Reva, ia menepuk jidatnya sendiri .
"Bagaimana mungkin kau tau Trik Selir itu dan Ayahnya?"
"Aku adalah Rajanya. Dan ini adalah kerajaan ku. Bukan kah aku adalah Raja yang payah, jika tidak mengetahui Rencana mereka ini? "
Reva mengangguk mengerti, akan kesongongan suaminya kali ini.
"Biar aku tebak. Kau ingin menjebak balik Jendral dan anaknta itu. Dengan mengirimkan Orang lain?" Terka Reva.
"Kecerdasan Permaisuri ku sudah kembali ternyata. " Sahut Alden, lagi dan lagi. Ia sangat suka sekali menciumi pipi menggemaskan Reva.
__ADS_1
***