Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

***


"Benar.  Ayah masih perang. Ayah pulang sebentar untuk menemui mu dan ibumu.  Ayah rindu pada kalian"


"Alden!! " pekik Reva terbangun atas bisikan kedua orang itu.


"Reva? "


"Bunda"


Lirih kedua nya terkejut.


"Alden apa yang kau lakukan?! " sinis Reva lagi.


"Menemui mu dan Dafa. Aku merindukan kaliam" sahut Alden begitu santai.


"Alden!  Kau tidak waras!  Ini bangsa Netcher!"


"Lupakan itu.. Biarkan aku yang menanggung nya. Asal bisa menemui mu,  apapun bisa aku lakukan"


Deg


Reva terdiam.  Bagai hentakan yang menyenggol hati kecil nya.


"Tapi,  kan --"


"Sudah lah,  karna kau sudah bangun.  Bagaimana jika kita tidur lagi? " celetuk Alden santai,  menarik Reva untuk kembali terbaring.


"Sudah lah ibu,  ayo tidur.. Dafa mengantuk " keluh Dafa. Reva sendiri hanya bisa menghela napas kasar.  Sulit sekali menghadapi kedua orang iti jika sudah bersamaan.


Apa yang Alden inginkan?  Apakah murni hanya untuk menemui ku?  Ataukah ia memiliki tujuan lain?  Tapi,  Apa?


Batin Reva gusar di balik mata nya yang terpejam itu.


***

__ADS_1


"Bunda... "lirih Dafa.  Lirihan putra sulung nya itu membangun kan tidur manis nya Reva.


"Ada apa Dafa? Kenapa anak bunda ini terlihat sedih? " tanya Reva mengusap Lembut wajah manis putra nya.


"Dimana Ayah? "


"Ayah?  Ayah sudah pergi.  Bukan kah Dafa tau Ayah akan segera pergi.  Ayah di sini hanya sebentar"


"kapan Ayah kembali Bunda? "


"Suatu saat nanti sayang. Oh yah,  bukan kah kau ingin bermain bersama kakek Buyut."


"ah,  iyah Bunda.  Dafa akan pergi bersama kakek Buyut hari ini"


"Pergilah,  dan yah Jangan pernah mengatakan pada siapapun soal kedatangan Ayah"


"Iyah bunda.  Baik, Dafa mengerti"


"pintar sekali anak bunda. Dan yah,  Bunda akan pergi beberapa hari.. Dafa baik - baik di sini yah" pesan Reva,  mengingat dirinya akan pergi ke Lautan Timur,  seperti yang Akrein sang Phoenix Legenda pinta.


***


Kau tenang saja. Kau akan menemukan banyak hal menarik nanti. Hingga membuat kepala mu serasa hampir pecah karna memikir kan nya. Sahut Akrein tak kalah sombong dengan Reva.


"Menarik.. Membuat ku semakin berdebar. Apa Bangsa Netcher akan baik - baik saja, saat aku meninggalkan mereka? Apa kakek masih bisa mengurusi nya? "


Seperti nya kau keliru. Sebenarnya yang saat ini menjadi Raja Bangsa Netcher adalah Reyza. Bukan kakek Tua Arthaft itu.


"Apa maksud mu Akrein? Bagaimana mungkin aku keliru? Dan kak Reyza?? "


Yah kau keliru. Sebenarnya Kakek Tua Arthaft sudah memberikan pedang Api Sphinx pada Reyza. Pedang itu adalah simbol bahwa dia adalah Raja Bangsa Netcher. Pedang yang di dalam nya terdapat Burung Api Raksasa.


"Jadi maksud mu, Kakek Arthaft sudah memberikan pedang sphinx pada kakak Reyza"


Begitulah yang aku rasakan.

__ADS_1


"Baiklah, setidak nya aku masih bisa tenang"


Tidak masalah untuk meninggalkan mereka beberapa hari saja kan?


Batin Reva mempercepat jalan nya.


***


"Eh? Merpati? " Seira melihat dari dalam jendela. Ia menyipitkan matanya, menatap apa yang tengah merpati itu bawa. " Sebuah Surat? " gumam Seira, saat Surat itu kini terlempar pada nya.


"Ini kamar Putri Reva. Harus nya ini surat untuk putri Reva? Putri sedang pergi? Haruskah aku membuka nya? Tidak! Tidak sopan sekali kau Seira!!" Gumam Seira si polos berbicara sendiri. Beradu argumen dengan hati dan pikiran nya.


"Bagaimana jika ini penting? " Gumam nya lagi, saat mendapat pikiran itu dari otak nya.. Ia ingin membuka nya, namun terhalangi oleh hati Nurani nya.


"Seira. Apa yang kau lakukan? " Teriak seseorang menganget kan Seira si polos.


"Ahhh, Tuan muda Ryuza, aku.. " Seira tidak bisa menahan kegugupan nya.


"Apa yang kau sembunyikan? Berikan pada ku"


Dengan Ragu - ragu Seira memberikan surat itu. Diri nya sendiri tidak tau, apakah keputusan nya benar, atau kah salah.


"Sebuah Surat merpati? " tanya Ryuza menatap heran Seira.


"Iyah, Tuan muda. Seekor merpati putih yang membawa surat ini entah dari mana" sahut Seira masih tertunduk.


Ryuza mengernyitkan dahi nya heran. Perlahan ia membuka surat nya.


Nona Muda. Bahaya! Aku tidak menemukan Perdana Mentri Regata di Kediaman. Beliau tidak ada. Dan tidak ada yang tau di mana Dia. Nona Reva, Bagaimana ini? Tapi yang jelas. Aku mendapat sebuah petunjuk aneh. Anda segera datang, Aku menunggu anda di Hutan Amon. Segeralah, sebelum semuanya terlambat.


Aila~


***


Nananana

__ADS_1


__ADS_2