Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Puluh enam


__ADS_3

***


Alden?!  Apa yang di lakukan nya di sini?!  devan Dan Ferry tentu ada karna Alden di sini. Tunggu... Apa dia mengenali aku?!  Harusnya tidak kan?  Jubah ini sudah rapat akurat


Batin Reva,  diam membeku.  Entah apa yang harus di lakukan nya sekarang.


"Ahhh, Kami bukan pembunuh,  kami hanya sedang membersihkan beberapa monster yang menjijikan" sahut Reva mengubah suara nya.  Tentu harus dengan nada yang santai agar tak ada yang mencurigai nya.


Bodoamat!!  Aku,  Tya Reva Atmaja. Nona Presdir Atmaja.  Tak kan pernah gentar dengan masalah apapun. Apalagi gemetar!


"Monster? Apa Maksud anda Nona? " sahut Alden lagi,  kini ia menatap intes Reva yang ada di balik Jubah itu.


"Kami hanya menyelamatkan gadis ini dari Kepungan tiga bangsa Rambell yang menyamar menjadi prajurit Kerajaan. Mohon pangeran Alden melepaskan kami"


"Terima kasih Kalau begitu Nona muda.  Sudah menyelamat kan Warga Desa kami. Saya Jendral Fatas Mengucapkan Terima kasih pada Nona" sambar seorang pria membawa api obor di tangan nya. datang dari kegelapan di sana.


Jendral Fatas?!  Bukan kah tadi ada di Perbatasan?!


Batin Reva,  ia mulai merasa curiga dengan situasi saat ini.


"Ahh iyah,  maafkan aku Nona muda.  Anda telah menyelamatkan saya.  Tapi saya belum mengucapkan terima kasih pada anda" lirih Maudy tertunduk, ia merasa bersalah.


"Terima kasih Nona.  Kami Warga Desa Muran akan selalu berterima kasih pada anda. Dan saya pribadi sebagai Ayah Maudy berterima kasih pada anda" timpal Pria paruh baya itu,  dengan janggut pendek di dagu nya. Sudah tua namun terlihat sangat berwibawa. Di lihat dari pakaian nya. Reva berpikir bahwa dia lah kepala Desa Muran.


"ehh,  yah.  Tak masalah" sahut Reva yang tak tau lagi harus memgatakan apa. Reva sebagai Presdir yang dingin, ia selalu diam saat ada yang berterima kasih padanya.. hanya menyahut jika yang berbicara padanya adalah Anak - Anak.


"Oh yah Nona,  Tinggal lah di sini.  Masih banyak ruang. sebagai tanda terima kasih kami" pinta Jendral Fatas.


"Ahh,  tak perlu.  Aku harus pergi.. Oh yah?  Kau Jendral Fatas?  Tadi aku baru saja melihat nya di Benteng perbatasan. Gerakan mu cukup cepat untuk orang seusia mu"


"Dia? Jendral yang ada di Perbatasan itu, Dia Palsu Nona.  Dia bangsa Rambell yang menyamar menjadi aku.  Dan mengambil posisi ku memegang kendali atas Benteng Perbatasan "

__ADS_1


Reva diam,  ia tersentak halus.  Namun,  dia mencoba untuk menenangkan diri nya.


"Ahh? Begitu rupanya? Pantas sekali serasa janggal"


"Ekhmm.. Nona bisa kah anda membuka jubah Anda. Kita sedang di dalam ruang tertutup" sambar Alden, tampak jelas bahwa Alden tengah ada dalam rasa penasaran nya.


"Ah, tidak perlu. Kami sudah mengatakan nya, bahwa kami harus pergi. Terima kasih atas kehormatan bertemu dan berbicara dengan Pangeran kerajaan Flawyard" sahut Reva, ia membalikkan badan nya segera melangkah kan kaki nya. Ia sudah tak ingin sedetik pun lebih lama di sini.


"Siapa Nama Anda? Mungkin kami akan membutuhkan kemampuan Anda lain kali" tanya Alden, menatap intens.


"Hormat saya, Tya Atmaja" sahut nya segera pergi.


"Lalu, gadis berjubah hitam itu, teman anda? " sambar Ferry.


"menjawab, Saya Aliya Atmaja" sahut Aila mengikuti langkah Nona nya.


Alden tersenyum puas menatap punggung gadis berjubah merah maroon itu.


"Pangeran Alden? Ada apa? Apa anda mengenal mereka? Dan kenapa anda membiarkan mereka keluar hidup - hidup dari markas kita? " tanya Fatas berbisik di telinga Alden.


***


"Nona? Apa mereka mengenali kita? Ah, aku rasa tidak.. Kita menyamar begitu baik" ucap Aila bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan nya itu. Membuat Reva tak ingin menggubris nya.


"Nona kenapa anda diam? " tanya Aila lagi, menyadari pertanyaan nya tak di gubris oleh Nona nya.


"Untuk apa aku menjawab nya, saat kau sendiri sudah menjawab nya"


"Aishhh.. Benar juga. Tapi, menurut Nona bagaimana? "


"Entah lah, Aku mengantuk. Mau tidur, kau juga pergilah tidur. Masih banyak sekali misi yang harus kita jalankan"

__ADS_1


"Ah yah Nona. Syukur lah anda menikah dengan pangeran Alden.. Kita bisa lebih mudah memainkan trik dalam nya. Pangeran Alden begitu lugu dan Polos, haha terlalu naif"


"Bukan dia yang naif. Kita yang terlalu bodoh dan Naif. Alden, jauh dari kata lugu dan polos. Terlalu banyak Rahasia dan misteri yanh di simpan nya"


"Apa Maksud Anda? Apa ada orang yang lebih licik dari anda? "


Reva memutar bola matanya jengah, ah sangat jengah maksud nya.


"Berhati - hati lah. Alden mengincar bangsa Netcher. Lindungi napas mu" peringat Reva yang langsung meninggal kan Aila di tempat.


"Apa maksud Nona?! Jangan meninggalkan aku begitu saja!! "


***


Tatapan Alden tadi? Apa dia mengenali ku? Ini sangat aneh. Tidak mungkin kan, dia melepaskan begitu saja orang yang mengetahui markas persembunyian nya. apa dia punya rencana? Apa Rencana nya sebenarnya?!


Batin Reva, memegang kening kepala nya. Yah saat ini kepala nya terasa sangat sakit. Saat Tanda mAwar biru nya tak memberikan kesakitan seperti biasa nya. Kini beban dan minsteri itu memenuhi otak kecil gadis licik itu.


Guru Arriva... Dimana? Segeralah datang. Temui aku, Murid kecil mu sangat membutuh kan bantuan mu. Guru Arriva..


Batin nya lagi. Kini kepala nya sudah di hinggapi kenangan nya bersama Guru nya selama mereka berkelana delapan tahun.


"Ahhh, Permaisuri tercinta ku belum tidur?" Suara yang sangat Reva kenali. Suara pria yang selalu membuat jantung nya berdegub tak beraturan.


"Alden? Kau baru kembali? Dari mana Saja?? " tanya Reva menyambut Suami nya yang tengah berjalan menghampiri nya.


"Ahhh.. Kenapa pura - pura tidak tau? Bukan kah tadi kita bertemu di Goa itu? Nona jubah Merah? " Sinis Alden, menatap intens mata Reva, dengan senyum menyeringai yang begitu mengerikan.


Alden tau? Dia tau itu aku?!


Batin Reva tercengang. Ia menatap Serius Alden yang ada di hadapan nya, sekilas Pria di hadapan nya ini terlihat bukan seperti Alden yang biasanya.

__ADS_1


***


Author : No komen. Vote nya turun '-'


__ADS_2