
***
"Benar. Dia pasti memaksa Reva untuk melakukan perjanjian dengn nya! Entah apa yang di tawarkan Dewi kegelapan saat ini. Alden! Kau harus cepat! Cepat susul jiwa Reva dan bawa kembali! "
"Perjanjian apa yang ibu maksud? Apa yang akan Dewi kegelapan tawarkan pada Reva?! Apa dampaknya untuk permaisuri ku?! " Alden mulai gusar, ia selalu gusar saat itu mengenaik keselamatan permaisurinya.
"Yang Dewi kegelapan Tawarkan adalah hal yang paling di inginkan oleh seorang perempuan, yaitu. Menjadi seorang ibu. Perempuan mana yang tak ingin memiliki anak. Ibu yakin, Reva juga ingin. Yang aku takutkan adalah, Reva tergiur oleh tawaran itu." terang ibu Ratu dengan nafas yang memburu, terkadang juga tersengal.
"Aku sangat takut. Karna dulu, aku juga sempat tergiur. Nafsu menjadi seorang ibu itu begitu menggebu di hati kami para Ratu. Hingga kami tak bisa menahannya. Menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan tersendiri untuk kami. Bahkan, Ratu Naysil saja tergiur. Alden! Kau harus cepat! Cepat selamatkan Reva! Atau semua akan tertambat dan sia - sia! " Tambahnya lagi, kali ini dengan Air mata hangat yang mengaliri pipi putih mulusnya.
"Sial! Artinya jika Reva tergiur memiliki Anak. Dia akan menjadi budak Dewi kegelapan seperti Ratu Naysil?!! "
"Itu benar! Untuk itu kau harus mencegahnya! Tarik kembali jiwanya! "
"Tapi bagaimana caranya?! Jiwanya tersesat! Tidak! Aku harus membunuh Dewi kegelapan! Dimana perempuan licik itu! " frustrasi Raja besar itu.
"yang mulia, anda tidak akan pernah bertemu dengan Dewi kegelapan. Karna pada dasarnya Dewi kegelapan adalah ilusi. Tapi, aku tau bagaimana anda bisa mencari Ratu Reva! " Terang tabib perempuan itu lagi. Seketika wajahnya berubah. Wajah yang sangat dikenali oleh Raja terdahulu. Wajah yang mengiris Hati Ibu Ratu.
"Kak Naysil... " lirih ibu Ratu, ia berjalan perlahan ke arah Tabib wanita yang baru saja merubay wajahnya.
"Jangan menangis Ratu payah... " Sahut Naysil menyambut pelukan hangat dari Ibu Ratu. Wajahnya tersenyum sendu.
__ADS_1
"Ratu Naysil?! " mata Raja terdahulu sudah berkaca - kaca. Ia berjalan pelan dan ikut memeluk dua ratunya itu.
"Bibi, Naysil? " Kini Alden lah yang memanggil Naysil. Naysil menatap senyum ke arah Alden.
"Kau sudah tau aku bibi mu? " tanya nya melepas pelukan, dan berjalan ke arah Alden.
"Aku tau dari Kakek. Bibi... Aku mohon, selamatkan permaisuri ku! Aku bisa lakukan apapun untuk mu! "
"Kau dan Istrimu sudah melakukan segalanya untuk ku! Terutama permaisuri kecilmu, Kalian mengadopsi Dafa, memberinya nama dan kasih sayang hangatnya Keluarga. Ayah dan ibu. Sehingga Dafa tak perlu lagi merindukan Nadya dan Futa orant tua kandungnya. Tanpa kau minta pun, aku akan senang hati menolong perempuan baik ini. Dia luar biasa! Perempuan yang hanya ada satu di Dunia ini! " Mata Naysil tertuju pada wajah Reva yang pucat, badan nya terbaring begitu lemah.
"Tapi, bagaimana dengan Jiwa Reva? Dia bisa di selamatkan kah bibi?! "
"Kau bisa menyusulnya. Aku akan berikan petunjuk nya, tapi... Hal yang harus kita butuhkan adalah. Bunga Sfenari Putih, dari Kerajaan Battarath! Kerajaan tetangga dengan Raja bengis nya! "
"Apakah dia akan memberikan bunga itu? Bunga itu adalah bunga utama keluarga kerajaan mereka, yang mekar 100 tahun sekali. Aku tak yakin dia akan memberikannya. " Pikir Raja terdahulu. Agak masuk akal, mana mungkin Kerajaan Battarath ingin memberikan begitu saja bunga utama mereka.
"Jika tidak diberikan! Aku tak keberatan merampas nya! Akan aku lakukan apapun dengan segala cara agar permaisuri ku kembali sehat! " Alden mulai serius, tekadnya kuat.
Reva... Akan aku pertaruhkan apapun. Untuk keselamatan mu, kau tau? Aku sangat mencintai mu. Jadi, ku mohon. Jangan terima tawaran menjijikan itu!! aku lebih memilih kau di sisiku!!
Batin Alden. Matanya erat penuh makna menatap Reva yang diam.
__ADS_1
-
-
-
Ratu Reva, anda tidak boleh mengecewakan Yang mulia Raja. Ku mohon jangan tersesat dan tergiur oleh tawaran Dewi kegelapan! Jika anda pergi. Maka, Yang mulia Raja bisa gila nantinya! Dan kerajaan Flawyard akan hancur menanggung akibat kemarahannya.
Batin Ferry, sembari ia terus menulis surat untuk Raja kerajaan Battarath. Dia melabuhkan harapannya di surat itu.
Tidak memiliki anak tak masalah. Asal Anda tetap di sisi Yang mulia Raja. Dia akan sangat bahagia dan tak kan pernah merasa kurang!
Lanjut Ferry, ia mulai menggulung dan memasukkan suratnya ke tempat bulat panjang itu. Mengutus burung terlatih untuk mengirimnya.
"Jika aku tak bisa mendapatkan bunga Spenari itu! Maka aku tak layak di sebut Tangan Kanan Presdir Reva! Tunggu Nona! Ailamu akan mendapatkan bunga itu untukmu! " gumam Aila, ia memandang langit biru cerah, dengan adanya burung pembawa surat. Yah, Aila memang memperhatikan Ferry sedari tadi.
***
Beberapa hari telah berlalu sejak Ferry mengirimkan surat itu atas titah mutlak Raja nya. Begitu juga kondisi tubuh Reva yang kian lama kian melemah. Semakin Lama Reva jauh dari Jiwanya, ada kemungkinan bahwa jiwanya tak kan lagi kembali pada Reva.
Akhirnya penantian pun berakhir , surat yang di tunggu telah tiba dan saat ini di genggam oleh Ferry.
__ADS_1
"Yang mulia Raja, mereka akan memberikan bunganya. Dengan syarat, anda harus menikahi putri Sofia dari Kerajaan Battarath." ujar Ferry yang menggetarkan satu Aula.
***