Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Lima Puluh Delapan


__ADS_3

***


"Nona Reva, ada yang ingin aku bicarakan" kata Kai berdiri di depan pintu kamar Reva yang tengah bermain dengan Dafa.


"Hemmm.. " Reva berdehem. "Seira, jaga Dafa. Ada hal yang penting yang harus aku bicarakan. Aila ikut aku. Dafa nak, Bunda pergi dulu yah" titah Reva sembari mencium pucuk kepala Dafa.


"Iyah, Bunda Segera kembali yah." pinta Dafa menyahuti. Reva mengangguk tersenyum.


***


"Nona, aku langsung saja. Nona, Aku adalah adik angkat anda. Maka, Orang Tua angkat anda adalah orang Tua kandung saya" kata Kai memulai pembicaraan di tempat yang Sepi itu.


"Lalu? Apa mau mu? " sahut Reva santai, sembari memotong tipis kulit mangga yang di kupas nya.


"Aku sudah tau siapa ibunda ku. Tapi, aku tidak tau. Siapa Ayah ku? "


"Aku juga tidak tau siapa dia sebenarnya. Yang aku tau, dia adalah Alvisen Atmaja. Presdir Atmaja Group"


"Jadi Artinya, kita tidak tau dia siapa. Dan apakah dia masih hidup atau tidak? "


"Benar, ini masih menjadi misteri yang harus di pecahkan" sahut Reva.


"Baiklah, Oh yah Nona Reva. Bagaimana perasaan anda terhadap pangeran Alden sekarang? Apakah anda membenci nya? " tanya Kai dengan tatapan penuh maksud.


"Kai! Tutup mulut mu!! Berani sekali kau!! " pekik Aila kasar.


"Cukup.. Bagaimana perasaan ku pada Alden. Itu bukan urusan kalian. Ini urusan pribadiku" lerai Reva, ia berdiri meninggalkan Kai san Aila yang masih bersitegang.


"Benar.. Ini Urusan Pribadi Anda. Tapi nona, Pernahkah anda berpikir tentang Bangsa Netcher kita? Ingat lah. Kita adalah kaum Bangsawan Bangsa Netcher. Kita bertanggung jawab penuh atas bangsa Kita" Sinis Kai yang sukses menghentikan langkah Reva.


"Heh... Riekai Arthaft. Kau memang adik dan sepupu ku. Tapi kau jangan lupa, aku tetaplah Tya Reva Atmaja. Kau tau betul, siapa sebenarnya Nona mu ini? " sinis Reva melirik Kai dari ekor mata nya. Sembari tersenyum menyeringai.


"Maafkan Aku Nona. Aku lancang. Silahkan Nona menghukum aku" kata Kai tertunduk, dia seolah ingat akan satu hal.

__ADS_1


"Berlutut lah, hingga Dua jam kemudian. Aila, kau pergi kembali ke kerajaan Flawyard. Awasi Ayah ku. Jangan sampai dia terluka" titah Reva, Aila mengangguk pasti. Tak ingin mengacaukan mood Nona nya yang buruk.


"Nona, apa kah Anda sudah mendengar cerita tentang Dewi Lautan, Tariva Arthaft. Sang pendekar Phoenix Legenda. Yang menyegel Tiga Makhluk Luar Biasa itu?!" tanya Kai lagi, saat ia sudah memastikan tak ada Aila lagi di sini.


"Aku sudah mendengar nya dari Kakek. Kau, urusi lah urusan mu." Sinis Reva melanjutkan langkah nya meninggal kan Kai begitu saja yang masih setia berlutut.


***


Akan kah Aku membenci Alden? Haha.. Ironis sekali.. Aku juga tak tau.. Tapi, kilatan ingatan ini selalu terngiang setiap malam. Membuat darah ku mendidih..


Batin Reva menatap hampa atap kamar nya. Kali ini sang Presdir Reva di buat bimbang, dengan sesuatu yang di sebut Cinta.


Dafa...


Batin nya lagi menatap nanar bocah kecil yang ada di dekapan nya ini. Reva semakin mengeratkan dekapan nya, tatkala mengingat bagaimana Dafa menanyai Alden sepanjang hari.


Reva... Kau pergilah ke Lautan Timur Besok..


Pergilah, maka kau akan tau alasan nya...


"Suka sekali bermain teka teki.. Menarik.. Oh yah, siapa Nama mu?" tanya Reva. Ia ingat, ia tidak tau siapa nama Makhluk Legenda ini.


Apa nama itu sebegitu penting?


"Mungkin bagimu itu tidak penting. Tapi bagiku itu penting. Sangat merepotkan jika harus memanggil mu dengan Phoenix Legenda yang begitu panjang"


Sayang sekali merepotkan mu. Tapi Aku tidak memiliki Nama..


"Cih.. Merepotkan saja. Baiklah, mulai saat ini. Aku panggil kau. Akrein! "


Kenapa harus Akrein?


"Karna aku suka"

__ADS_1


Dan--


"Diam lah, aku ingin tidur. Ini sangat melelahkan kan. " kilah Reva saat Akrein ingin menyahuti nya lagi. Reva memejam kan matanya, berharap besok dunia nya akan berubah.


***


Wushhhhhh


Shhhhh


"Ayah.. Apakah.. A.. Ku.. Bermimpi?? " gumam Dafa mengucek matanya, saat ia merasa ada tangan yang mengelus lembut kepala nya.


"Benar.. Ini Ayah. Ayah datang pada mu. Bicara lah berbisik, jika tidak ingin Ayah ketahuan" sahut pria serba hitam itu, dengan sedikit bercak darah di jubah nya.


"Ayah... Apa ayah akan menjemput kami, dan membawa kami pulang? "


"Belum saat nya sayang.. Suatu saat nanti ayah akan membawa ibumu dan kau pulang "


"Apa Ayah belum selesai perang? "


"Perang? " tanya Alden heran.


"Benar. Bunda bilang Ayah sedang berperang"


Alden mengangguk mengerti, ia puas dengan penjelasan Reva pada Putra kecil nya ini.


"Benar. Ayah masih perang. Ayah pulang sebentar untuk menemui mu dan ibumu. Ayah rindu pada kalian"


"Alden!! " pekik Reva terbangun atas bisikan kedua orang itu.


***


Semangat nya semakin berkurang, seiring berkurang nya like, komen, dan Vote '-'

__ADS_1


__ADS_2