
***
Hari ini adalah upacara Persiapan keberangkatan Raja dan Ratu beserta para selirnya. Mereka semua sudah bersiap dari Aula istana menuju Gerbang Utama Istana. Mengantat kepergian Raja dan Ratu, juga selirnya.
Entah lah. Raja masih tidak tenang untuk pergi jika Alden masih belum memiliki selir.
"Alden! Aku sebagai Raja! Ini hari terakhir ku! Aku mengingkan mu memiliki selir! " Titah Raja lagi yang sudah menjadi pusat perhatian.
"Aku mengatakannya lagi. Aku menolak! " Sahut Alden enteng.
"Alden! Kau boleh melakukan apapun dan mengambil keputusan apapun. Asal kau sebagai Raja memiliki selir dan penerus! " Titah nya lagi.
"Mohon Raja muda memiliki selir! Ini demi kebaikan kerajaan Fkawyard kita. Demi kamakmuran kerajaan kita! " Timpal penasihat Raja, dia sudah berlutut di hadapan Alden.
"Itu benar. Mohon Raja muda untuk memilih selir! "Tambah Jendral Utama. Yang juga ikut berlutut.
"Raja muda yang agung dan bijak." seru semua orang di Aula, dan berlutut pada Alden.
Deg.
Alden menatap Reva sekilas. Reva menebarkan senyuman semringah.
Rencanaku lancar haha!
Alden juga tersenyum puas. Alden ingat, dia sempat mendengar rengekan permaisuri kecil nya di pagi hari.
Kejadian Pagi Hari:
Reva membuka matanya perlahan.
__ADS_1
Uh sesak..
Batinnya. Bagaimana tidak sesak? Saat Alden mendekap nya dengan begitu erat. Entah apa Maksudnya.
"Permaisuri ku. Jangan bergerak. Aku masih ingin tidur. " Racau Alden, semakin mempererat pelukan nya.
"Alden, Dengar kan aku. Kau harus menerima para selir itu. Tapi, dengan syarat kau tak boleh menyentuh nya atau aku akan membunuh mu." Bisik Reva tepat di telinga Alden. Membuat pangeran tampan itu menggeliat geli.
"Ada apa dengan mu? Kenapa tiba - tiba sekali? Apa kau bercanda? " Racau Alden. Dia memukul pucuk kepala istrinya pelan.
"Ayolah. Aku mohon, Katakan iyah. Ini semua demi hasil yang memuaskan. percaya padaku. "
Reva ingat, ia sudah berjanji tak akan menceritakan kesepakatan nya dengan Dewi kegelapan tidak akan pernah bocor. Tak boleh ada seorang pun yang tau.
"Aku tidak bisa! Aku tak ingin menyakiti mu. " Sahut Alden, masih memejamkan matanya.
"Aku tidak tersakiti asal kau tak menyentuh mereka. Ku mohon. Dengarkan aku~ jika kau menuruti ku kali ini. Aku akan memberikan mu hadiah luar biasa. "
"baiklah, Hadiah nya harus berkaitan dengan tubuh mu dan Ranjang. " Kata Alden enteng, sembari mendaratkan sebuah kecupan manis di pelipis Reva.
***
Kembali Ke Aula Istana.
"Apa Alden? Apa yang kau katakan ini benar?! Kau setuju memiliki selir?! Aku tidak salah dengar kan?! " Tanya Raja memastikan. Takut, jika telinga tuanya salah mendengar.
"Hidup dan Sejahtera Raja Alden! " Seru mereka semua bersamaan.
"Aku menrima mereka dengan satu syarat. " Alden mulai menunjukkan senyuman menyeringainya.
__ADS_1
"Nona, melihat dari tingkat kebucinannya pangeran Alden. Dia tak kan mungkin menerima para selir itu. Apa yang terjadi? Siapa yang berani memaksa nya menerima selir itu? " bisik Aila di telinga Reva.
"Aku yang memaksa nya, " Sahut Reva enteng.
"Nona? Apakah anda masih waras? Wanita mana yang ingin membagi suaminya? "
"Tentu tidak ada. Oh yah Aila. Tutup mulut mu. Itu sedang tak di perlukan. "
Nona? Anda waras kah? Kalau gila tolong ada batasannya dong.
Batin Aila geleng - geleng kepala sendiri, melihat gelagat aneh Nonanya.
"Apa yang kau inginkan Alden? Syarat apa yang kau maksud?! "
"Aku hanya akan memiliki selir, Jika Permaisuri ku Reva menjadi Ratu. Tapi, bukan sembarang Ratu. Dia akan menjadi Ratu yang memiliki kekuasaan sama Dengan Raja. Artinya! Tak ada satu orangpun yang bisa mengatur Ratu kecuali Raja! Bahkan Perdana Mentri, Penasihat Raja, atau bahkan Jendral utama tak bisa melawan titah Ratu! " Titah Alden sudah turun langsung dari mulutnya.
"Titah Ratu sama mutlaknya dengan Titah Raja. Kedudukan Ratu Reva harus sama dengan Kedudukan Raja Alden. Bagaimana? Kalian setuju bukan? " Tanya Alden.
"Ini syarat sederhana dariku!" Lanjutnya saat tak mendapat respon dari Para Tokoh politik ataupun Ayahnya, sang Raja terdahulu.
Semua diam membeku, bisu membatu. Tak ada yang berani menanggapi ucapan Alden sekarang. Kecuali.
"Alden! Apa yang kau katakan?! Kedudukan Ratu tak seharusnya sama dengan kedudukan Raja! Kau sudah merusak sistem kerajaan kita! " Bantah Raja, menyuarkan penolakan nya atas Syarat gila yang putranya Ajukan.
Ini sungguh di luar rencana...
Aku tak pernah merencanakan ini semua. Alden? Kau? Sebegitu melindungi Hak ku?
Batin Reva, ia tak bisa bohong. Senyuman bahagia terbit di wajah cantik nya.
__ADS_1
"Raja Alden, mohon anda pikirkan lagi. Mengangkat Ratu dengan kekuasaan yan sama dengan Raja. Bukan kah itu cukup aneh? " Timpal penasihat Raja. Sangat merepotkan jika Reva akan memiliki kekuasaan yang sama seperti Raja.
***