Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tujuh Belas


__ADS_3

***


"woah.. Beberapa hari tidak bertemu,  pangeran ke empat dan putri ke empat semakin mesra saja yah... " sambung Raja, yang datang bersama Ratu  dan yang di sebut pangeran ke lima.


Hanya senyuman yang terpancar dari kedua orang ini.


Pandangan Reva jatuh pada pangeran itu.  "Riekai si bodoh.. " gumamnya.


"kau bilang apa barusan??" tanya Alden.


"aku bilang ..akting mu sangat bagus"


"jelas - jelas, tadi bukan itu yang kau ucapkan.  Humph!! "


"Ayo semuanya... Kita bersulang demi pangeran kelima. Pangeran Riekai Kertlan" titah Raja.


Semuanya bersulang,  tertawa ria gembira. Namun,  dapat dilihat dengan jelas,  itu semua palsu.  Terdapat banyak sekali niat kotor dan rencana jahat di mata mereka.


"Kepalsuan yang membosankan" gumam Reva,  pandanganya kembali menuju pada Kai,  dan ternyata Kai sudah sedari tadi memperhatikan Reva,  Kai memberikan Senyuman hangat pada Reva. Reva sedikit terkejut,  ia mengernyitkan dahinya heran. Mencoba menerka apa yang sebenarnya di ingin kan pria ini.


"Bahkan saat suamimu ini masih hidup kau berani menatap pria lain saat bersama ku. Bagaimana jika aku mati?? " senggak pangeran Alden,  membuyarkan tatapan Reva pada Riekai.


"kau tak perlu khawatir,  orang jahat biasanya matinya lama.  Jadi,  santaj aja" ketus Reva meminum minuman nya.


"oh?  Semakin berani??  Kita lihat bagaimana caraku menghukum mu nanti malam! "


Ucapan ini sukses membuat Reva melotot tak percaya,  rasanya hampir jatuh bola matanya.  Beraninya Alden menggoda Reva di tempat umum bahkan di siang bolong begini.


"Pelankan suaramu" pinta Reva berbisik.


"Apa Permaisuri ku malu?  Bukan kah ini hal yang wajar bagi suami istri seperti kita?? "


"suami ku orang yang cacat,  dia tidak bisa berdiri" lirik Reva penuh maksud.


"oh,  bermaksud mengancam ku? "


"jika kau bisa mengancam ku,  kenapa aku tidak?!  Humph!!  Jika kau melakukan hal diluar batas, aku tidak akan segan membongkar semuanya!! "


"oh?  Bongkar saja!  Tak masalah.  Hanya rahasia kecil,  mana bisa di bandingkan dengan permaisuri tercinta ku ini"

__ADS_1


"ehem.. Ehem.. Pangeran ke empat,  kalian tengah berada di penjamuan istana.  Jika ingin bermesraan kalian lanjutkan nanti saja" Sentak Raja,  yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jauh,  meski tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Tapi dari pengelihatan nya,  putra nya lah yang sedari tadi menggoda Reva.  "ppfttt anak ku ini" gumam nya masih merasa geli dengan pasutri baru ini.


"maafkan kami Ayahanda" ucap Reva dan Alden serentak.


"mereka benar - benar terlihat sangat mesra"


"apakah ini yang di sebut cinta sejati?? "


"Cinta yang murni"


Dalam sekejap mereka sudah mengubah pandangan mereka.  Memang benar, ucapan Raja itu sangat berpengaruh.


Terlihat seorang pria berpakaian mewah tengah menatap tajam kearah Alden dan Reva,  matanya melambangkan amarah,  kebencian dan dendam yang medalam.  Dia adalah pangeran ke dua Zefan.


"Selamat yah adik kedua~ semoga kalian segera di berkahi" ucapan selamat dari pangeran Zefan itu seketika menjadi pusat perhatian.


Mantan yang mengucapkan selamat?  Mungkin begitulah yang mereka pikirkan.


"Terima kasih kakak kedua"


"Kalian berbincang lah, aku ingin menemui Ayah dan kedua kakak ku dulu" segera Reva bangkit dan ingin pergi,  namun tertahan oleh Alden.


Perbuatan Alden barusan,  sukses menyulut api kemarahan pangeran Zefan. Tubuh nya bergetar,  samar - samar terdengar suara gertakan gigi yang mengerikan.  Matanya tajam menatap Akurat Alden.


"Ada apa kakak?  Apakah ada yang mengganggu mu? Apa kau kurang sehat?? " tanya Alden dengan nada dan tatapan meremehkan.  Dia tersenyum menyeringai.


"oh?  Jangan khawatir kan aku.  Tapi  adik ke empat, harus khawatirkan rumah tangga mu sendiri. Bagaimana pun,  putri Reva begitu cantik,  dan dia juga memiliki latar belakang. Banyak sekali bangswan muda yang menginginkan nya,  adik ke empat harus hati - hati loh.  Jika memang tidak ingin kehilangan "


"haha.. Jika hanya orang lain tak masalah,  asal kakak para saudara seayah ku tidak mencoba merebut permaisuri ku itu akan lebih  baik. Iyah kan?? "


"haha.. Adik suka sekali bercanda. Kakak dan putri Reva memang punya hubungan yang erat dulu,  yah itu  memang dulu. Dulu,  kami terlihat sangat mesra,  bahkan seluruh ibu kota juga tahu.  Tapi,  siapa yang menduga bahwa ayah akan menjodohkan nya dengan adik ke empat"


"kakak salah.  Bukan ayah  yang menjodohkan kami.  Tapi kami menikah,  karna memang 'permaisuri tercinta ku' lah yang memilih ku"


"Kau.. Nikmatilah pestanya" ucap Zefan melenggang pergi,  merasa sudah kehabisan kata - kata.


"Ayah,  kakak Reyza, Kakak ku yang bodoh Ryuza!! " teriak Reva pada kumpulan orang yang berada di satu meja.  Meja khusus untuk keluarga perdana mentri.


"putri ku tersayang,  akhirnya ingat mengunjungi ayah nya ini" ujar Perdana mentri Regata.

__ADS_1


"Ayah~ apa yang ayah katakan?  Putri mu ini sangat merindukan mu~ " katanya memeluk erat pria paruh baya itu.


"oh?  Jika memang masih ingat?  Kenapa tak mengunjungi kami? " sambung Ryuza menepuk pelan jidat adiknya ini.


"Kak Reyza~" Rengek nya. Tentu saja, suara seperti inilah yang Reyza rindukan.


"Ryuza. Jangan terlalu keras,  lagi pula Reva bahkan belum pergi selama seminggu" sambung Reyza,  adik nya sudah meminta bantuan nya.  Mana mungkin,  dia akan menolak nya.


"eh belum seminggu?  Tapi aku sudah merasa kehilangan nya selama bertahun - tahun"


"ahaha!  Kalian  ini,  benar - benar... Kebahagiaan terbesar ku adalah saat kalian bertiga berkumpul tertawa dan bercanda seperti ini" Tambah Regata.


"Ayah~" mereka bertiga serentak memeluk ayah nya ini.


"Kakak Reva,  apakah baik - baik saja di kediaman pangeran ke empat?  Kau terlihat agak kurusan?? " ucap Wanita itu,  suara yang paling tidak ingin  Reva dengar.  Suara Riana.  Reva lupa,  masih ada Tiga wanita ular di sana,  ibu tirinya Selly,  dan dua saudari tirinya Rania dan Riana.


"benar.. Apakah kakak Reva baik - baik saja?? " sambung Rania.


"oh aku sangat baik,  suami ku memberikan semua yang ku inginkan~ " jawaban Reva,  membuat mereka diam. Jawaban ini jauh dari ekspetasi mereka.


"meskipun begitu,  Semuanya tahu pangeran Alden itu lumpuh dan cacat" sambung Selly,  masih ingin memprovikasi Reva.


"Cukup!!  Jangan mengatakan hal buruk tentang suami ku lagi!  Bagaimana pun juga dia adalah Suami ku!  Kehormatan nya adalah kehormatan ku.  Kalau sampai kau menghinanya lagi,  aku tak kan melepaskan mu"


"akh.. Maafkan ibu Reva,  ibu hanya merasa khawatir dengan mu saja.  Ibu takut kau tidak baik - baik saja"


"Tutup mulut mu,  perhatikan cara bicaramu,  kau sekarang sebagai selir resmi perdana mentri,  meskipun begitu aku bukan lah putri mu,  kau tak kan pernah jadi ibu ku"


"putri ku Reva benar. Selly,  jaga sikap mu,  bagaimana pun juga pangeran ke empat adalah menantu ku sekarang" tambah perdana mentri Regata.


"Ayah mertua baik sekali,  menantu mu ini memberi hormat padamu" potong Alden,  yang entah sejak kapan sudah berada di sana.  Entah dia mendengar atau tidak nya percakapan keluarga perdana mentri barusan.


"bagus sekali kau di sini,  ayo.. Sebagai menantu perdana mentri mari makan bersama" ajak Ryuza,  sikap Ryuza sedikit berubah dari yang terakhir kalinya.


***


Ayoo like,  komen, and vote yah


Jangan lupa like juga.

__ADS_1


__ADS_2