Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Sembilan belas


__ADS_3

Spesial untuk kalian yang kasih komenan positif sama aku,  dan dukung aku terus.  Spesial part ini aku panjangin deh.  Hehe... Semakin banyak komen kalian yang bersifat membangun,  semakin semangat pula authornya dalam merangkai cerita.


Selamat membaca~


Salam manis Rini Ir


***


PLAKK!!  tamparan keras dari Reva membuat sedikit lebam di wajah Seira. Bukan pipinya yang sakit,  namun hatinya yang hancur. Seira diam tak bergeming,  menatap kearah bawah,  terasa sakit dan kaku di pipi sebelah kanan nya.


"Tau kesalahan mu dimana?? " tanya Reva tegas.  Seira tersentak,  ia masih bingung,  sedari tadi ia hanya memperingatkan nyonya nya. Lalu,  dimana salah nya?


"Nyonya,  aku--"


"Renungkan itu,  sampai kau menyadarinya"


Tak terasa langkah mereka terhenti,  tepat di hadapan mereka ada bangunan yang tak layak huni. Yah,  itu adalah tempat tinggal nya bocah itu.


"ini,  tempat tinggal mu? " tanya Reva menurunkan tubuh mungil bocah itu.


"iyah bibi,  jika tidak suka. Tak perlu masuk"


"kenapa tidak?  Ayo masuk"


"Hei 'Anak haram'!!  Kau darimana saja?!!  Cepat ambilkan kami air! " perintah seorang pelayan yang sedang bergosip dengan salah seorang pelayan lain nya.  Yah memang,  dikediaman ini hanya ada tiga orang pelayan.


"Seira,  ambil kan air"


"ini.. Nyonya" ujar Seira menyodorkan sebuah gelas berisi air.


Reva jalan beberapa langkah menuju kedua pelayan itu.


Byurrr!!


Reva menumpah kan air itu tepat dari atas kepala pelayan itu,  membuat mereka menoleh dengan geram.  Siapa yang berani melakukan itu pada mereka.


"lancang!!  Siapa kau?!!  Baraninya--" ucapan nya terputus.


"Aku,  TyaReva Wisbrith,  putri perdana mentri.  Istri pangeran ke empat,  Alden Kertlan!!"


"putri Re-va?! " sahut mereka terbata serentak.


"Keluar!  Berlutut di depan,  bangkit setelah gelap! Segera!! "


"perintah putri di terima" mereka menunduk sopan sebelum akhirnya berjalan mengikuti perintah Reva,  tentu saja dengan cukup banyak mengumpat surapat di dalam hati.


Apa anak ini selalu mendapat perlakuan seperti ini?!  Di tindas oleh pelayan nya sendiri,  yang dari status jelas berbeda?!!  Anak yang semuda ini,  sudah harus kehilangan orang tuanya,  bahkan membenci mereka sampai menusuk ketulang.  Harus menanggung hukuman sebutan 'Anak haram' karna kesalahan yang tak pernah di lakukan olehnya,  anak dari putri yang di tindas oleh para pelayan.  Masih belum cukup dengan itu, dia juga harus tinggal di tempat yang tak layak huni ini. Kenapa di usia semuda ini,  dia harus menanggung beban seberat ini??  Sakit!!  Sakit sekali rasanya menatapnya!!  Tidak,  aku.. Aku pasti akan membawanya!! Pasti akan ku bawa dari penderitaan ini!!


Reva menatap akurat bangunan di hadapan nya ini,  ia mengedarkan pandangan nya menyusuri sudut - sudut ruangan nya. Dengan tangan kecil yang menggandeng nya masuk. Was - was,  bila tiba - tiba bangunan nya ini runtuh.  Itulah yang ada di benak Reva sekarang. Makin tersayat hatinya melihat kondisi anak ini yang bahkan jauh lebih buruk dari seorang pengemis di pasar. Tak tahan,  Reva menangis,  deras air mata nya yang mengalir.  Sekali lagi,  Seira tertegun dan kali ini Sepertinya Seira memahami apa yang di rasakan nyonya nya.  Meskipun belum semuanya.


"bibi kenapa menangis?? apa karna debu dirumah ini??  Bibi merasa sesak kah??  Ini pasti karna aku.. Aku memang di takdirkan untuk menjadi penderitaan bagi semua orang, aku memang lebih baik mati--"


"Ssshhh.. Diam... Jangan berkata seperti itu lagi yah,  kau ini sumber kebahagiaan bagi bibi" bantah Reva dengan argumen Bocah itu yang menyayat hati. "Siapa nama mu?? "


"nama?? Bibi,  sejak lahir aku tak di beri nama oleh siapapun"

__ADS_1


Teriris tipis rasa hati Reva mendengar cerita bocah ini.


"kau tak perlu khawatir,  nyonya akan memberikan mu nama.  Iyah kan,  nyonya?? " sambar Seira berlutut mensejajarkan tingginya dengan anak itu.


Seketika senyum bahagia terlihat di wajah Reva. akhirnya Seira mengerti dan paham akan pandangan Reva.


"Dafandra Wisbrith!  Jika Raja tidak ingin memberimu gelar Kertlan. Maka aku akan memberimu nama belakang keluarga ku,  Wisbrith! "


"Nama ku,  Dafandra Wisbrith??! "


***


Reva sudah duduk  di kereta bersama Alden,  hari hampir gelap,  acara jamuan selesai.  Sesaat sebelum nya Reva masih menggenggam erat tangan Dafa. Sebelum akhirnya ia meninggalkan Dafa yang tertidur.


Reva masih ingat dengan jelas,  bagaimana Dafa memanggil nya dengan sebutan ibu saat Reva akan pulang. Perasaan bahagia itu masih terasa sangat jelas di hatinya.  Sebelum itu juga,  Reva sudah berjanji bahwa ia akan membawa Dafa bersama nya. Harus!!  Itulah yang Reva pikirkan.


Melihat istrinya yang sedari tadi diam melamun,  Alden mengernyitkan dahinya heran,  menatap Reva penuh selidik.


"memikirkan Zefan?? " tanya Alden memecah lamunan Perempuan cantik di samping nya itu.


"Dia?  Itu hanya membuang waktu ku!" bantah Reva melirik tajam mata Alden.


"aku tidak takut dengan lirikan mu,  aku bahkan semakin tertarik!" tiba - tiba Alden sudah menyerang Reva.


BUKK!!


"jaga sikap mu,  kali ini aku hanya memukul mu,  siapa yang tau di masa depan aku akan membunuh mu atau tidak?" peringat Reva.


"humph!!  Coba saja!! "


***


Batin nya itu terus terucap.  Matanya menatap hampa langit kamarnya.  Di edarkan nya pandangan nya ke seluruh ruangan. Berharap ada jalan keluarnya.


sebenarnya siapa yang di temui perempuan ini??  Kenapa sejak tadi dia selalu melamun dan tatapan nya kosong??


Batin Alden menatap lekat Reva dari pintu,  sudah beberapa saat Alden berdiam diri di sana,  terus memperhatikan Reva tanpa mengalihkan pandangan nya. sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melangkah kan kakinya masuk.


"Sebenarnya siapa yang permaisuri ku temui hingga bisa membuatnya melamun terus?? " tanya Alden,  bangkit dari kursi khusus nya saat sudah pasti tak ada orang di sekitar sana.


"bukan urusan mu!! "


"tentu saja ini urusan ku,  harus tidur bersama permaisuri yang wajah nya murung itu tidak menyenangkan "


Ini?  Apa aku bisa meminta bantuan nya?  Mungkin akan kucoba...


"akh... Suamiku tercinta sudah datang.. Aku menunggu mu lama sekali~" ujar Reva yang terperanjak dari baringan nya,  menghampiri Alden dengan memasang senyum semanis mungkin.


Ppfftt... Ada apa dengan nya hari ini?  Salah makan kah?  Oh... Aku tau,  pasti karna dia ingin meminta bantuan ku.


"ingin minta bantuan apa dari ku?? Tiba - tiba bersikap baik.  Heh.. "


"aih... Secepat ini yah ketahuan nya?  Benar juga,  saat seseorang tiba-tiba berubah sifat pasti ada intrik di baliknya.  Iyah kan,  suamiku?? "


"jadi,  ayo katakan apa yang 'permaisuri' ku ingin kan?" dalam sekejap dorongan Alden sudah membuatnya mengurung badan mungil Reva. "berdisukusi seperti ini saja,  jauh lebih menarik" tambah nya.

__ADS_1


Jika bukan karna Dafa,  aku pasti sudah mendorong mu!!  Tapi,  detak jantung yang tak beraturan ini maksudnya apa??


Batin nya menatap lekat retina Alden.


"Aku ingin mengadopsi seorang anak! "


Sontak kata - kata ini membuat Alden tertawa keras.


"haha!!  Kau ini!!  Kita bisa memiliki anak sendiri,  untuk apa mengadopsi anak orang lain?? Aku hanya pura - pura lumpuh,  jadi masih bisa memiliki banyak anak. "


"tapi aku ingin mengadopsinya!! " tukas Reva. Dimatanya Alden melihat begitu banyak keyakinan dan tekad disana.


Huh.. Sebenarnya siapa anak yang ingin di adopsinya?! 


"Baiklah... Katakan siapa anak yang begitu beruntung yang ingin di adopsi permaisuri ku??


"Dafandra Wisbrith!"


"anak siapa dia?  Mengapa ada nama keluarga mu juga di sana?  Apa kerabat jauh mu?? "


"anak nya putri Nadya Kertlan,  dapat nama keluargaku karna aku yang memberikan nya! " sahut Reva singkat,  tapi jawaban ini  begitu membuat Alden terkesan.


"oh,  dia?  Sudah tahu kisah nya dan hukuman apa yang akan di berikan jika menemuinya?? " tanya Alden menaikkan sebelah alisnya.


"humm" Reva mengangguk pelan.


"Jadi masih berani mengadopsi 'anak haram' itu?? "


"Dia bukan anak haram!!" bentak Reva melotot mengerikan tepat di mata Alden.


Memang permaisuri ku...


"kalau sudah permaisuri ku yang memintanya,  aku tak kuasa menolak nya" mendengar itu,  Reva mengulum senyum nya "tapi,  sesuai kepribadian permaisuri ku ini yang suka main kesepakatan.  Bagaimana jika kita membuat kesepakatan juga??" Tambahnya coba tawar menawar dengan Reva. Seketika,  senyum manis yang tadi hadir,  sirna seketika.


"Kesepakatan bagaimana maksudmu?? " tanya Reva menaikkan sebelah alisnya merasa curiga


"sangat mudah,  di malam saat aku berhasil membawa bocah itu ke rumah ini. Kau,  harus menjalankan kewajiban mu sebagai seorang istri yang sesungguhnya " sahut Alden senyum menyeringai mengerikan,  Alden terlihat serius kali ini. Membuat Reva mengerjapkan matanya beberapa kali. Menelan saliva nya susah payah.


Apa aku harus membayar harga semahal ini?? Tapi... Dafandra dia...


Sekilas bayangan wajah Dafa terlihat,  kadang berwajah penuh kebencian,  kesedihan,  kesepian,  dan dendam menyatu padu di sana.


Ini demi Dafandra!!  Harga apapun itu akan aku bayar!!


"aku setuju, itupun jika pangeran berhasil "


"tenang saja,  jika imbalan pekerjaan beratku adalah 'hal ini' meski tidak berhasil,  aku juga akan paksakan agar berhasil"


"humph!!  Gila!! "


"iyah aku gila karna mu,  malam ini kita tidur dengan hanya berpelukan okeh?? " tanpa menunggu anggukan dari Reva,  Alden sudah melilit erat tubuh mungil Reva lebih dulu.


***


Ayooo like,  komen,  and vote yha

__ADS_1


Aku tau kalian ini baik.


__ADS_2