
"Ada apa Aila? " Sahut Ryuza yang menghampiri Aila di tempat nya.
"Ituuu... " Tunjuk Aila pada sesuatu.
"Ayah!!!! " Teriak Ryuza saat melihat jasat yang tergantung dengan kedua tangan yang sudah tidak ada.
Byashhhhh
Ryuza dengan cepat memotong tali yang menggantung pria itu, di lihat nya lagi intens pria itu.
"Ayah... Ayah.. " lirih Ryuza, saat ia sudah memastikan bahwa itu adalah Ayah nya. Tubuh yang sudah terbujur kaku.
Aila dengan cepat memeriksa tubuh Perdana Mentri.
Deg.
Aila tercengang, sudah tidak ada denyut nadi lagi. Regata telah tiada, Ryuza menatap Aila intens, berharap bahwa Regata tetap hidup.
"Maaf Tuan Ryuza" lirih Aila melepas Tangan Regata, menatap nanar Ryuza yang sudah hampir gila rasanya.
"Tidak!! Tidak!! Ayah!! Ayah! " Teriak Ryuza berulang kali. Memeluk erat tubuh Ayah angkat nya itu. "Ayah!! Kenapa Ayah cepat sekali meninggalkan Ryuza!! Bagaimana dengan Reva!!"
"Tuan Ryuza--"
Aila diam, ia tak kuasa menahan tangis nya. Gadis dingin itu masih memiliki hati untuk menangis melihat tragedi itu.
__ADS_1
"Mereka! Mereka harus membayar nya!!! " Pipi Ryuza bergetar menahan amarah, tangan nya di kepal kan erat - erat.
"Aila, ku mohon bawalah Jasad ayah ku. Ku mohon pergilah, beritahu berita ini pada Kakek ku" Titah Ryuza lagi.
"Tidak! Tidak! Bagaimana mungkin! Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Tuan. Tuan ini terlalu berbahaya"
"lakukan titah ku" Ryuza dengan suara berat nya. Tanpa menoleh lagi Ryuza dengan cepat berjalan keluar meninggalkan Aila dan jasad perdana mentri Regata.
"Tidak perlu Repot - repot mencari kami. Kami dengan sangat bahagia akan bermain dengan mu" Ujar Salah seorang dari mereka.
Ryuza mengenali pria dengan suara menekan itu, yah dia adalah Diaz. Tampak beberapa orang bergerak cepat mengelilingi Aila dan Ryuza.
Aila menelan saliva nya payah, saat merasakan suhu udara sudah tak lagi sama. Ada yang aneh, entah lah itu semua terasa menekan tubuh Aila.
"Apa kau sudah siap mati Ryuza? Jika belum siap, tapi aku sudah siap membunuh mu" Sinis Diaz lagi, menatap rendah Ryuza yang ada di hadapan nya.
"Haha! Haha! Kau ini lucu sekali yah? Tidak kah kau sadar, kau sedang di kandang Harimau saat ini. Dan dengan lantang nya masih berkoar! Harus nya kau berlutut dan mencium kaki ku saat ini!! "
"Siapa yang akan mati masih belum jelas. Meskipun aku mati, aku akan mati sebagai pahlawan yang kalah melawan belasan jendral bangsa Rambell" Sinis Ryuza, menatap sekeliling nya. Yah memang sudah banyak Jendrak Rambell yang mengelilingi mereka.
"Terima kasih untuk kesadar dirian mu. Tapi, sayang nya aku tak akan membagi Kehormatan kematian itu padamu. Aku Diaz! Pangeran bangsa Rambell lah yang akan menghabisi mu" Diaz sudah bersiap dengan pedang nya. Begitu juga Ryuza yang sudah bersiap mencengkram habis wajah Diaz
Klankkk
Diaz bergerak cepat, ia Menyerang Ryuza lebih dulu menggunakan pedang milik nya. Tak kalah cepat, Ryuza juga menangkis nya.
__ADS_1
Kedua pasang mata yang di penuhi hasrat kebencian ity saling bertatap. Kekuatan masing-masing membuat mereka mundur berjarak.
"Kalian, tangkap gadis itu. Aku akan beristirahat dengan nya, saat aku telah selesai dengan Pria sampah ini" Titah Diaz sembari menjilati bibir nya sendiri penuh Nafsu.
Entah lah, mendengar perkataan Diaz yang ingin memiliki Aila rasanya Tubuh Ryuza panas bergetar. Dengan Cepat dan teratur Ryuza menyerang Diaz. Memukul mundur Diaz. Diaz bukan lah lawan untuk Ryuza.
Diaz kewalahan menghadapi berbagai serangan beruntun dari Ryuza yang tengah berjiwa panas. Panas akan kematian ayah nya, emosi bergejolak karna mendengar akan ada yang menyentuh Aila..
Uhukkkk
Diaz terbatuk, tampak ada darah merah segar keluar dari mulut nya. Tentu itu karna serangan Ryuza.
"Serang dia!! " Titah salah satu Jendral itu. Tiba - tiba belasan Jendral Bangsa Rambell itu menyerang Ryuza bersamaan. Lalu di mana letak kesepakatan awal nya?
"Pecundang!! Pengecut kau Diaz! Kau sama sekali tidak bisa di sebut sebagai Pahlawan!! " Cibir Kasar Ryuza, masih terus bertahan melawan belasan orang itu.
"Haha... Bukan nya aku tak ingin menepati kesepakatan kita. Hanya saja, aku sedang mempersiapkan diri pada suatu hal yang lebih besar. Kau hanya tikus kecil mainan ku" Tawa menjijikan Diaz terdengar begitu nyaring. membuat siapapun yang mendengar nya akan merasa jijik.
"Dasar pecundang! Sama sekali tak memiliki harga diri! " Aila sang lidah tajam, mana bisa diam. Aila juga ikut membantu Ryuza melawab belasan orang itu. Tampak tubuh kekar Ryuza sudah mengalami banyak luka ringan di sana.
"menarik.. Aku tak ingin kehilangan gadis itu. Kalian, jangan sampai melukai nya. Aku pergi dulu" titah Diaz dengan sombong nya meninggalkan ruangan itu.
***
Assalamualaikum
__ADS_1
Maaf yah, hampir setengah bulan gak up. Ini di karenakan Kondisi tangan Author yang kurang memungkin kan untuk up.
In shaa Allah, mulai hari ini aku bakal Up tiap hari kayak biasa nya yah^^