Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Satu


__ADS_3

***


"Reva memberi salam pada baginda Raja" kata Reva tertunduk hormat di hadapan Raja. Terlihat senyum puas di wajah Raja,  tatkala melihat putri perdana mentri kini duduk bersanding dengan putranya. Sedangkan Reva,  merutuki nasibnya,  mengapa dia harus berada di antara dua orang gila ini.


"Wah.. Menantuku sudah datang ternyata" tawa nya yang terlihat mengerikan. Alden menatap Reva,  tatapan itu mengisyaratkan suatu hal. 'maaf kan aku' mungkin itulah maksud pangeran Alden. Namun, Reva membalasnya dengan mendelik membuang muka,  yah jika di translate mungkin artinya 'kau gagal.. Mengecewakan aku' . Sepertinya mereka memang cinta sejati. Saling tahu apa yang dipikirkan.


"Menantu ke empat,  apa kau tahu kenapa kau di panggil?? " tambahnya lagi membuka pembicaraan.


"menantu menjawab,  tidak tahu Ayah"


Sang Raja hanya tersenyum menyeringai,  sebelum akhirnya...


"Bawa dia masuk! " titah Raja,  dua orang pengawal berbadan tegap dan tinggi sudah memboyong bocah lelaki usia empat tahun. Iyah dia adalah Dafa. Terlihat beberapa kali Dafa mencoba meronta,  namun hasilnya nihil. Pandangan Dafa terarah pada Reva yang tengah tunduk hormat.


Bunda... Batin nya.


"Apa kau kenal dengan anak ini??? " tanya Raja dengan tatapan penuh selidik.


"Reva kenal dengan nya ayahanda. Aku bertemu dengan nya saat acara penjamuan kemarin,  dan itu semua tanpa sengaja" sahut Reva masih tertunduk sopan. Layak nya menantu yang tau etika.


"Tidak!!  Dia berbohong!  Aku tidak mengenalnya!  Hei bibi,  jangan berpura - pura bahwa kita saling mengenal!  Aku tidak mengenal mu dan tak ingin mengenal mu!! " teriak Dafa mengejutkan semua orang.


Ada apa dengan nya?  Apakah ada yang mengancam nya??


Batin Reva mencoba menerka maksud perkataan bocah empat tahun ini yang sukses mengobrak abrik hatinya.


Maafkan Dafa bunda... Dafa sangat menyayangi bunda... Jika aku bilang kita saling mengenal, maka pria tua ini akan menghukum Bunda.  Aku tidak bisa melihat bunda di hukum karna aku. Bunda adalah satu - satunya orang yang sayang dan perduli padaku. Tak kan kubiarkan satu orang pun menyakiti bunda!


"Oh,  apakah menantu ke empat ku sedang berbohong padaku? " pekik Raja halus,  namun sudah jelas maksudnya,  untuk menyudutkan Reva.


Ayah ku ini memang seorang Rubah tua licik...


Batin Alden yang sudah melayangkan sedikitnya sumpah jika sampai sang ayah menghukum permaisurinya. Maka Alden tak kan segan lagi.


"Reva tidak berani membohongi Ayah,  Reva memang kenal dengan nya.  Dia anak yang tinggal di halaman belakang dengan tiga orang pelayan. Reva,  benar kan Yang mulia?? "


"ah... Putri Reva benar sekali,  jadi putri Reva memang tidak berbohong.  Lalu, kau tahu dia anak siapa?? "


"Reva tau,  dia anak nya putri Nadia kertlan"


"Dan kau masih berani menemuinya saat kau tau identitasnya.  Tidak kah kau juga tahu hukuman apa yang akan kau terima karna menemuinya"


"Reva siap menanggung segala hukuman nya"


"oh,  sepertinya bertemu dengan anak ini memang membawa kesialan yah?? "

__ADS_1


"bagi Reva,  bertemu dengan anak ini adalah suatu berkah tersendiri"


"oh, kalau begitu--" ucapan Raja terputus oleh sanggahan Alden.


"Ayah,  permaisuri ku tidak bersalah.  Jika ada kesalahan maka hukum aku saja.  Itu semua karna salah ku yang lalai menjaga nya,  dan ini bukan salah nya.  Karna dia tak pernah salah"


Alden... Kau?  Apa benar - benar mencintai ku?  Atau hanya ingin memanfaatkan ku karna aku putri perdana mentri??


Batin Reva tertegun akan ucapan Alden.  Sekali lagi,  hatinya goyah, benteng pertahanan nya berguncang hebat.


"Tidak!!  Jika kau ingin menghukum.  Hukum saja aku pria tua!  Kau bebas melakukan apapun padaku!!  Ingin membunuh ku!  Menyiksaku!  Memukul ku! Atau menjual ku!  Lakukan sesuka mu,  tapi jangan pernah kau menyakiti bunda ku!! Aku tak kan terima siapapun menyakitinya!! " sambar Dafa yang langsung berlari memeluk Reva. Dua orang pria ini membuat Reva tertegun secara beruntun. Mereka berhasil mencubit hati Reva yang keras itu.


Apakah ini rasanya menjadi seorang ibu?  Sangat menyenangkan... Hehe...


Batin Reva menyambut pelukan hangat Dafa,  seraya mendaratkan kecupan hangat di pucuk kepala bocah itu. Alden tersenyum tipis,  yah kini dia menyadari mengapa Reva ingin mengadopsi Dafa.  Tentu saja karna cinta polos Dafa yang begitu kuat pada Reva.


"Bawa anak itu pergi! " titah Raja yang sifatnya mutlak.  Dengan enggan dan terpaksa secara perlahan mereka menarik paksa Dafa dari pelukan Reva,  ada rasa gelisah,  dan khawatir menyelimuti Reva. Genggaman tangan halus Reva dan tangan kecil Dafa,  perlahan terlepas.  Di iringi dengan suara teriakan isak tangis Dafa yang terus memanggilnya bunda,  membuat Reva semakin gelisah untuk melepaskan Dafa.


"sudah tenang?  Jika masih ingin menangis,  maka lakukan lah dulu" pekik Raja,  mendapati beberapa tetes air sudah membasahi wajah Reva.


"Ayah. Tolong pikirkan lagi masalah ini dengan seksama" sanggah Alden yang juga mulai tak tenang.


Aku. TyaReva Atmaja,  manusia dari abad 21. Dengan pemikiran ku,  dan pengalaman ku selama 15 tahun yang sudah berkecimbung dalam dunia yang kotor. Tak kan mungkin tak bisa mengubah jalan pikir mu yang kolot itu. Raja Flawyard!!


Sungguh bodoh...


"yang mulia Raja, sebelum Anda menjatuhkan hukuman pada saya. Bisakah saya bertanya satu hal? " tanya Reva. Matanya kini di penuhi ambisi untuk mendapatkan Dafa. Raja tersenyum puas.


"apa itu, katakan lah! "


"baiklah, kalau begitu saya tak akan sungkan lagi... Saya bertanya, kenapa kalian semua begitu membenci Dafa? Apakah karna dia anak tidak sah dari putri Nadia? Jika memang begitu kenapa yang menanggung nya itu harus dia? Bukan kah yang harusnya di hukum adalah putri Nadia dan kekasih gelapnya? Lalu, dimana kesalahan anak itu? Bukan kah saat putri Nadia dan kekasih nya melakukan dosa itu, Anak itu belum terlahir di dunia ini? Lalu, salah nya dimana?? " pertanyaan ini membuat tekanan ruangan semakin sesak.


"putri Reva. Tolong jaga perkataan mu, lihat lah kau sedang berbicara pada Raja! " pekik seorang pengawal pribadi Raja yang sedari tadi berdiri tegap di sebelah Raja.


"oh, baiklah maaf kan aku. Tapi, yang mulia Raja, tidak kah anda merasa iba menatap anak itu, wajah yang seharusmya imut menjadi begitu menyeramkan?? Mata yang harusnya penuh keceriaan malah penuh dengan dendam. Diusia nya yang semuda itu ia harusnya mengenal cinta dan kasih sayang, tapi pandangan kebencian terpancar jelas di sana? Tidak kah anda pernqh memikirkan perasaan nya. Bukan hanya harus kehilangan kedua orang tua nya. Dia juga harus menanggung cacian makian dan hinaan terhadap kedua orang tua nya yang sudah meninggal? Pantaskah Anak itu merasakan penderitaan sebesar itu?? " perkataan Reva kali ini sangat sukses membuat mereka semua diam membatu, tak bergeming.


Bahkan pelayan yang tadi menyanggah Reva kini mulai menampilkan raut wajah iba, bibirnya mengatup rapat. Pandangan nya gusar, tak tahu kemana ia harus memihak? Kepada Raja yang perintah nya mutlak? Atau kepada Reva yang analisa nya logis??


"oh begitu kah? Menurut pengawal Andar, bagaimana? " tanya Raja menaikkan sebelah alisnya menatap Pengawal itu.


"Semua Keputusan Raja mutlak, dan itu hukum nya. Tapi analisa yang di katakan putri Reva sangat benar. Saya tidak tahu harus bagaimana? Kemampuan saya tidak setinggi itu? Sahutnya.


"oh kalau begitu... Pangeran Alden dan putri Reva. Kalian harus menjaga anak itu. Siapa tadi?? Oh yah kau memberinya nama apa?? " tanya Raja. Alden dan Reva saling menatap tersenyum sumringah bahagia .


"Dafandra Wis... "

__ADS_1


"baiklah.. Namanya Dafandra Kertlan! Minggu depan aku akan mengadakan jamuan untuk mengangkat Resmi dia sebagai cucu ku, garis keturunan keluarga Kertlan! Dia adalah pangeran Dafandra Kertlan! Temuilah dia, kau bisa membawanya pulang malam ini! " titah Raja.


"terima kasih ayahanda, semoga ayahanda berumur panjang " sahut Alden dan Reva bersamaan, keluar dari ruangan itu.


Bunda yah?


Akhirnya setelah sekian lama, aku menemukan orang yang akan merawat cucuku dengan tulus...setidak nya satu masalah yang mengganjal hatiku selama ini telah hilang.. He...


Batin Raja itu membuka secarik kertas, bertuliskan : 'Ayah... Tolong jaga anak ku'


Senyuman kecut dan tatapan kesedihan terpancar jelas disana.


***


"Eh nyonya siapa ini?? " tanya Aila yang menyambut Reva di pintu gerbang.


"Dia adalah Dafandra kertlan. Putra angkat ku. Pangeran kediaman ini"


"Selamat yah nyonya... Fyuhhh aku kira anda di hukum, ternyata malah di izinkan mengadopsi Dafa. Uh... Anda benar - benar luar biasa!" seru Seira sangat bersemangat. "eh tapi nyonya, kenapa dia tertidur? Bukan nya dia biasa berisik? " tanya Seira lagi.


"karna dia terlalu berisik makanya pengawal kerajaan memberinya obat aroma pembuat tidur. Baiklah, aku pergi dulu masih ada urusan" kata Alden pergi di tuntun oleh Devan Dan Ferry. Entah apa yang mereka lakukan malam - malam seperti ini.


***


"Nyonya, kamar pangeran Dafa sudah di bersihkan, biarkan saya menggendong nya ke kamarnya" ucap Aila yang baru datang.


"akh, tidak perlu. Malam ini Dafa akan tidur bersama ku" Reva membuka baju Dafa berniat ingin menggantinya karna sudah lusu dan kotor.


"Eh nyonya itu, tanda di punggung nya sama dengan yang di bahuku!! "


"Tanda? " gumam Reva membalik kan punggung Dafa. Reva terkejut mendapati di bahunya ada tato mawar yang sama seperti milik Reva, namun hanya berbeda warna.


"tunggu...Kau bilang apa Aila?! Kau juga memiliki tato yang sama?!! " pekik Reva.


"Benar nyonya, ini dia.. Tato mawar hitam yang berada di bahu "


Apa ini?! Tato mawar ini, Dafa dan Aila juga memilikinya?!! Bedanya, milik ku berwarna biru sedangkan mereka berwarna hitam?! Apa maksud ini semua?!!!


***


Akhhh gimana? Panjang kan? Ini spesial buat Part 21 hehe.. Dukung terus aku yah, jangan lupa like, komen and vote nya yah..


Oh yah Thanks buat @siFat_0108 Yang udah menjadi peringkat satu Vote novel ini yah. Mohon dukungan nya terus.


Yang baik kalo mau follow my ig dong, rini.bluerin. yang belum follow semoga besok follow. Hehe...

__ADS_1


__ADS_2