Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
21. Berkunjung ke Mansion Selir


__ADS_3

***


"Ya Ampun. Pangeran Alden luar biasa. Kesetiaan nya harus di acungi Empat buah Jempol. " Timpal Aila. Ini kali pertama nya melihat pria se setia ini.


"Kalian tenang saja,  Kedua kakak ku itu luar biasa. Mereka tampan dan keren. Mereka juga setia. Jadi,  Calon kakak iparku,  Jangan khawatir ~" Ledek Reva melenggang pergi begitu saja.


Wah wah Reva... Dia luar biasa yah. Cukup menarik. Tapi, Apa kah kau tau? Pria menjijikan itu juga sama dulu. Dia masih lebih mementingkan ku waktu awal. Tapi, tunggu beberapa hari lagi. Semuanya akan berubah.


Haha! Jangankan beberapa hari lagi. Aku bahkan bisa menunggu berpuluh tahun lagi. Aku yakin, Alden tak kan pernah menyentuh mereka.


Sahut Reva Anggar. Reva sangat yakin, bahwa Alden tak kan pernah menyentuh mereka.


Haha menarik! Baiklah, sudah cukup hari ini aku mengawasimu! Aku masih memiliki pekerjaan lain. Tunggu saja. Kau pasti akan merengek meminta bergabung padaku.


Maaf sekali. Aku mengecewakanmu. Payah~


***


"Haha! Pasangan yang menarik! Gadis yang unik! Kepercayaan nya pada suaminya cukup menarik! Dan Alden, haha! Kesetiaannya sangat menggiurkan untuk di uji! Aku sangat bersemangat! "


Gumam Dewi Kegelapan. Ia baru bangkit dari tidurnya. Entah lah, rasanya hari - harinya jauh lebih menarik saat telah bertemu dengan Reva. Reva begitu unik dan menarik baginya.


"Alden?! Haha! "


Lagi, ada hal yang aneh pada Dewi kegelapan. Dia merasa lega saat Alden mengatakan tidak akan menyentuh para selir.


Kenapa? Bukan kah Harusnya aku menggoda Alden untuk menyentuh para selir itu. Agar Reva yang unik tetap di sisi ku?

__ADS_1


***


"Nona, Ini sudah sore. Sangat membosankan, bukan? " Tanya Aila, ia sudah melupakan batas antara Nona dan pelayan. Aila kini sudah ikut berbaring di sebelah Reva.


"Aila! Jaga sikapmu! Dia Nona! " Protes Seira yang duduk di kursi.


"Aku tau. Diamlah. " Ketus Aila.


"Sudah lah Seira biarkan saja. Jika kau ingin ikut berbaring. Kemarilah~ ini masih muat. " Sahut Reva enteng.


Seira melotot tak percaya. Dia tau bahwa Nonanya sangat baik. Tapi, dia tak pernah menyangka bahwa Reva akan memotong batasan antara Nona dan Pelayan.


"Aishh.. Baiklah, Aku ikut~" Tambah Seira, ia juga ikut berbaring di sana.


"Oh yah? Bukan kah aku punya banyak pelayan? Argh, maksudku itu para Selir itu. Bukan kah Mereka pelayan ku sekarang? " Celetuk Reva. Ia benar - benar merasa agak bosan.


"Haha! Mulut anda tajam sekali. Haha!" Ikut Aila.


"Baiklah Ayo~ aku memiliki cukup banyak mainan. Sangat sayang jika di anggurin. Ayolah Aila~ Seira~ " Reva bangkit. Ia merenggangkan Tangan nya. Dan berjalan ke Mansion selir.


Yah sedikit tentang tempat. Istana Utama Adalah tempat terjadinya rapat dan diskusi politik. Sedangkan Istana Ratu adalah Istana khusus, dan tidak di gabung dengan Mansion Selir.


***


"Yang Mulia Ratu Memasuki Mansion Selir! Harap seluruh Selir datang dan memberi Hormat Pada Ratu! " Teriak prajurit itu. Yah, sejak keluar dari kediamannya. Selain Dengan Aila dan Seira dia juga di kawal oleh Beberapa Prajurit kelas atas, bawahan langsung Alden.


"Menyingkirlah! " Titah Prajurit itu pada Selir Yuna selaku Selir utama sebagai putri perdana mentri.

__ADS_1


Selir Yuna dan Shuri lah yang menempati Mansion utama, dengan Mira dan Fina juga.


Dia hanya bisa bergeser dari kursi Kekuasaan itu, dan berlutut di depan Reva yang sudah duduk manis.


Seluruh selir langsung datang dan menghadap Reva. Semuanya berlutut tertunduk patuh.


Haha! Menyenangkan sekali ~


Para wanita yang memperebutkan suamiku, tunduk di hadapan ku.


"Yang Mulia Ratu. Tempat ini panas bukan? " Tanya Aila yang ada di sebelah kanan Reva. Dan Seira di sebelah kirinya.


"Argg.. Iyah, cukup panas. Aku gerah. Aku butuh angin. " Sahut Reva nada agak sombong.


"Hei kalian tidak dengar! Yang mulia Ratu kepanasan! Kau Selir Yuna dan Shuri! Kemari dan kipas Yang Mulia Ratu. " Titah Aila.


"Diam kau! Tutup mulutmu! Kau hanya seorang pelayan! Jangan menitahkan ku yang selir tingkat Atas! " Ronta Yuna. Egonya itu sangat tinggi. Ia yang putri perdana mentri tentu menolak titah Aila seorang pelayan.


"Titah Aila dan Seira dalah Titah ku. Jika kau menolak Titah Aila, maka juga menolak titah ku. " Sinis Reva. Semuanya tiba - tiba diam kelakap.


"Tapi yang mulia Ratu, sudah ada pelayan Tingkat Rendahan. Biar mereka saja yang melakukannya. Kenapa harus kami yang selir tingkat tinggi?" protes Shuri. Egonya sama dengan Yuna. Mereka kakak beradik.


Jangan menganggap diri kalian tinggi. jika bukan karna aku, Alden bahkan tak ingin menatap kalian~


Batin Reva.


"Karna ini adalah titah ku. Aku mau kalian. Dan kalian yang harus mengerjakannya. " Sarkas Reva sinis.

__ADS_1


***


Nextttt??


__ADS_2