Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat puluh Dua


__ADS_3

***


"Pangeran,  Kekacauan ini sudah terjadi selama beberapa bulan.  Dan markas benteng kita sering menerima serangan tiba - tiba" lapor Jendral Fatas. Menatap serius Wajah Alden yang masih mengenakan topeng nya.


"Oh begitukah? Apa mereka berhasil menembus benteng ini?  Dan siapa pelaku nya? " tanya Reva masih setia menuntun suami nya di kursi khusus nya.


Mereka bertiga sedang berjalan - jalan mengelilingi Benteng Perbatasan ini. Tentu itu usulam dari Reva,  ia ingin melihat sesuatu yang kemarin tak di lihatnya.


"Mereka tidak berhasil menembusnya Putri. Dan pelaku nya adalah bangsa Rambell"


"Apa kau tau mengapa bangsa Rambell menyerang kita,  dan tiga Desa di sekitarnya?" sambar Alden bertanya dengan nada penuh tekanan.


"Kami tidak tau soal itu pangeran " sahut Fatas, dengan cepat.


"Oh yah Jendral,  kemana pergi nya semua warga Desa itu.  Bukan kah mereka mengungsi ke sini? Kenapa aku tak melihat mereka?" pekik Rave halus.


"Itu,  Setiap Bangsa Rambell menyerang,  mereka membunuh warga Desa itu putri.  Kami telah mengubur jasad nya" sahug Jendral Fata.  Tampak tangan nya sedikit gemetar.


"Lapor Pangeran Dan Putri.  Pria yang kita temui di Desa Ketiga telah siuman" lapor Ferry yang baru datang.


Segera mereka bertiga menuju ke tempat Pria itu. Tepat sebelum itu,  Reva kembali melewati nya.  Yah Air mancur itu. Yang kemarin malam menpilkan kepulan asap hitam.


"Bayangan hitam itu lagi?" Gumam Reva dengan suara yang sangat pelan ,  ia menatap sinis Air mancur itu.  Tampak jelas Kepulan Asap hitam di sana.  Yah hanya Reva yang bisa melihat nya.


"Ahhh,  Kau melihat nya juga? Kepulan asap hitam itu,  sayang?! " pekik halus Alden,  berbisik pada Reva.  Yah hanya Reva yang bisa mendengar bisikan itu, bisikan yang selalu membuat telinga Reva geli.


Reva tersentak halus.  Dia tidak menyangka,  ternyata suami nya juga melihat nya.


"Kau melihat nya?! " pekik Reva berbisik.


"Shhtttt...  Jangan berisik sayang.  Ini di sebut petunjuk" sahut Alden. "Sekarang,  ayo kita temui pria beraura hitam itu juga" tambah Alden lagi menyungging kan sebuah senyuman miring.

__ADS_1


Reva diam,  Alden benar.  Ini petunjuk.  Mereka bergegas segera menemui pria itu. petunjuk satu nya lagi.


***


"Apa kau warga Desa itu? " tanya Ferry.  Ia mulai menginterogasi Pria itu saat kesadaran nya telah terkumpul.


"Dia memiliki tanda Rambell" bisik Aila pelan di telinga Reva. "Tapi... Dengan posisi tanda di lengan yang salah.  Ahhh atau haruskah kita sebut dia Bangsa Rambell palsu Nona? " tambah Aila masih dengan suara yang pelan.


Tidak semudah Dugaan ku.  Hehe


Batin Reva.  Ia mengulum senyum tipis nya.


"Ahhh,  Senyuman nona ini. Ingin main lagi kah Nanti malam? Apa harus kah kita menggunakan cara lama? " tambah Aila.


"Tergantung mood ku nanti malam deh" sahut Reva,  di balik wajah manis nya tersimpan banyak rencana tragis dari nya.


"Kau?  dari bangsa rambell?! " pekik Devan,  saat ia melihat tanda bangsa Rambell di lengan pria itu.


Tanda palsu?  Apa motifnya?


Batin Alden.  Matanya masih lekat akurat menatap tanda hitam itu.


"Tidak!  Tidak!  Aku bukan dari bangsa Rambell!  Aku warga Desa biasa!  Bukan bangsa Rambell!  Aku manusia biasa!! " sanggah pria itu,  terlihat ia mencoba mencabik lengan nya sendiri guna menghilangkan tanda itu.


"Dasar Kau Gila! Beraninya kau berbohong saat bukti jelas ada di lengan mu?!?" pekik Jendral Fatas, ia sudah melayanglan pedang nya untuk menebas leher pria itu.


Tak ingin kehilangan petunjuk nya, Dengan cepat Aila bergerak menghalau nya.


"Apa yang kau lakukan?! Menyingkir! " pekik Jendral Fatas, ia emosi karna di halangi oleh bocah seperti Aila.


"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membunuh nya, saat titah ku belum turun?! Devan, bawa pria itu dan kurung dia" Sinis Alden, mata elang mya menatap tajam Jendral Fatas di sana.

__ADS_1


"Pangeran itu--"


"Permaisuri ku, aku lelah. Aku ingin istirahat" ucap Alden menggenggam tangan Reva.


"baiklah " sahut gadis mungil itu menuntun suami nya kembali ke kamar mereka.


***


Hari cerah telah berganti Gelap. Malam telah tiba, begitu juga Pangeran pertama yang sudah tiba di Markas Rahasia Bangsa Rambell di Perbatasan Utara.


"Bagaimana Keadaan Adik ketiga ku di sana?? " tanya Pangeran Faras menyeringai menyeramkan.


"Lapor pangeran. Pangeran ketiga sepertinya memang cacat, dia tidak pernah terlihat bangkit dari Kursi khusus nya. Bahkan untuk berjalan saja harus di tuntun Putri Reva" lapor nya, dia pria berjubah hitam. Menunduk Sopan pada Faras.


"Bagus lah. Apa ada tanda - tanda mereka menyadari sesuatu? "


"Seperti nya pangeran Alden sudah terkecoh dengan jebakan yang kita buat"


"Haha! Bagus sekali kapten Ludris! Bodoh nya Ayahku! Entah apa yang ada dalam otak nya, mengirimkan pangeran cacat itu!!"


"pangeran Fatas? Mungkinkah Raja mengirim pangeran Alden karna ingin membunuh nya di sini? Raja memanfaat kan bangsa Rambell untuk menyingkirkan putra nya yang cacat?!?"


"Itu juga termasuk kemungkinan. Tapi apapun motif Raja Tua itu. Kita tetap harus waspada dan berhati - hati" peringat Fatas, ia terlihat sangat Serius.


"Saya mengerti pangeran. Saya akan trrus mengawasi Alden dan antek - antek nya. Saya permisi dulu " izin Kapten Ludris, menghilang bersamaan hembusan Angin itu.


"Tamat lah Riwayat mu Alden! Sebentar lagi kau akan menemui ajal mu!!" Gumam Fatas menyeringai mengerikan.


***


Kayak biasa tinggal kan jejak yah.

__ADS_1


Kalau ada yang merasa alur nya Rumit. Dan kurang paham. Tinggal tanya aja di Grub Chatt aku yah.


__ADS_2