Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

***


"Ayo ikuti aku. Dan tetap di sisiku.  Seperti yang kau ucapkan tadi "


Alden menarik tangan Reva,  mereka segera menuju tempat pusat nya perang.


Apa aku Gila?!  Apa yang aku lakukan?!  Kenapa aku mengatakan dan melakukan hal itu?!  Ini sangat memalukan! Humph!  Tapi ini demi Dafa! Aila kau harus menyelamatkan Dafa!


Batin Reva mengikuti langkah Alden.


---


"Seira!  Dimana Dafa?! " Teriak Aila mendobrak pintu kamar Dafa.  Tampak Dafa yanh sedang memelul erat Seira,  menutp telinga nya karma kekacauan di luar sana.


"Aila?!  Dimana Putri?! " tanya Seira Gusar.


"Dengar!  Kita akan ikuti rencana sebelum nya.  Seira bawa lah Dafa ke Sungai itu.  Dan dari sana,  ikuti aliran sungai agar sampai ke Goa"


"Lalu,  kau Dan Putri? "


"Aku dan Putri akan tetap di sini,  membantu pasukan. Kau pergilah dengan Dafa,  ahh yah.  Dengan Aruba juga.  Rencana di ubah"


"Tidak!  Aku tak kan pergi tanpa Putri! "


"Kau ingin melihat Dafa celaka?! "


Seira diam,  ia mulai berpikir jernih.


"Baiklah,  kami akan pergi " lirih Seira dengan berat hati.  Pasal nya Gadis ini sejak kecil sudah mengikuti Reva. Dan berjanji akan bersama nya dalam susah maupun senang,  meski itu taruhan nya Nyawa.


"Tidak!  Bibi Aila!  Kami tidak akan pergi.  Aku mau beramaa Bunda!  Aku akan tetap bersama Bunda! " pelik Dafa menatap tajam Aila.  Hingga Aila sendiri tersentak halus.


"Baiklah,  kau boleh tetap  tinggal.  Dengan syarat,  tutup matamu" tawar Aila.  Dafa yang polos hanya mengikuti perintah Aila.


Takk


Aila menotok pelan bahu Dafa.  Mengakibat kan anak polos itu pingsan.


"Ayo ikuti aku!  Aku akan mengantar kalian ke luar dari Benteng perbatasan ini"

__ADS_1


Seira mengangguk paham. Ia menggendong Dafa kecil yang pingsan.  Mengikuti langkah Aila.


"Sssttttt" Gumam Aila,  merentangkan tangan nya menghalangi jalan nya Seira.  Aila sendiri secara diam - diam mengintip musuh dari lubang kecil itu.


"Ayo" lirih Aila pelan,  melangkah lambat namun pasti.


"Shhttt.  Sedikit lagi,  kalian diam di sini. Aku akan memeriksa keadaan"


Aila melompat dengan kilat,  ia mulai melihat titk di mana musuh berdiri dari tempat ketinggian.


Aila!  Selamatkan Dafa!


Ucapan Reva itu masih mengiang jelas di kepala Aila. Untuk pertama kalinya Aila memasang wajah tegang nya.


Dari Arah Utara,  melewati Dinding pendek itu.  Melompat pohon,  lalu bersembunyi sebentar di Semak.  Dan mereka akan selamat.


Batin Aila kembali turun,  mengingat jalan Rencana pelarian untuk Seira Dan Dafa.


"Heii Seira!  Aku sudah menemukan jalan nya,  bersiap lah" ucap Aila tanpa melihat ke arah Seira.  Dia hanya menatap keadaan sekitar.


"Ehmm.. Ehmnnn!! " erangan itu,  Aila menoleh tampak Seira sudah terluka dan di ikat,  juga mulut nya di sumpal dengan Kain. Dengan beberapa musuh berada di sana.


Aila diam,  otak nya buntuh.  Tak tau lagi apa yangakan di lakukan nya. Yang ada di pikiran nya hanyalah keselamatan Dafa.


***


Luar biasa!  Aku tak menyangka Putri Reva semahir ini!  Ini merupakan bantuan yang besar! 


Batin Ferry,  ia ikut bertarung mati - matian di sana.


Lebih dari yang ku perkirakan.  Kemampuan Istri ku ini,  luar biasa!


Batin Alden,  dia menatap intens Reva yang sedang bertarung.


Reva mengayunkan pedang nya dengan cekatan.  Matanya tajam menatap para musuh nya.  Tak ada ampun bagi siapapun yang melawan Reva.  Semuanya mati secara memgenaskan.


Sial!  Kenapa di saat seperti ini! Sakit ini semakin parah!  Tidak!  aku tidak boleh menyerah!  Rasa sakit ini,  cepat lah berlalu!!


Batin Reva,  berusaha sekuat tenaga.

__ADS_1


Ttttssskkk


Reva memenggal Kepala musuh nya itu.


"Akhhhh!! " Desis Reva memegang bahu nya. Rasa sakit yang menghujam itu tiba - tiba muncul.


"Reva! Di kanan!!" pekik Alden, segera melompat menebas semua musuh yang ingin menyerang Reva.


Pyashhhh!!


Sebuah Sayatan di punggung Alden, itu karen dia mencoba melindungi Permaisuri tercinta nya.


"Alden?! Bahu mu?! Bagaimana mung--" lirih Reva. Ia tak menyangka Alden akan melindungi nya hingga melukai tubuh nya sendiri.


"Tentu Mungkin! Aku mencintaimu! Akan selalu melindungi mu! Apapun yang terjadi " ucapan Alden memotong lirihan Reva.


Prok.. Prok.. Prokk


tiga kali tepukan Tangan, dari Pria yang berjalan santai ke arah peperangan.


"Luar biasa! Sangat Romantis dan menyentuh hati! Ahh, benar - benar ucapan perpiasahan yang menyayat hati! " Teriak Pria itu, yah Jendral Fatas palsu. Ia secara perlahan menarik Topeng dari Wajah nya. Perlahan namun pasti, Wajah Jendral Fatas itu berubah menjadi orang lain.


"Sudah ku duga! Kau adalah orang nya! Anj*ing nya pengeran Faras! Jendral Tumon! " sahut Alden, tak ada tanda - tanda ketakutan dari Wajah Alden.


"Ahh, pangeran Alden bisa berdiri? Tidak mengejutkan!" sahut Nya Berlagak sangat berkuasa.


"Haha! Di mana Pria itu? Si Pecundang Faras?! "


"Pangeran Kami tidak perlu turun tangan untuk mengurus Tikus kecil seperti kalian. Biar kami saja yang bereskan untuk nya! "


"Kau kira Kau mampu?! Kau Rendahan Tumon! Berani nya kau mengambil jabatan dan Wajah ku! " Sambar Jendral Fatas Asli, yang tengah kalut dalam emosi nya.


"Tentu saja Mampu. Kalian semua harus menunduk, dan menyerah pada ku. Jika tidak ingin Bocah ini kehilangan nyawa nya. Bawa dia!! " titah Tumon.. Tampak prajurit Sudah menggendong Dafa yang pingsan. Di ikuti Aila dan Seira yang terikat.


"DAFA!!!"


Teriak Reva Prustasi. Ia sangat terkejut. Begitu juga Alden dan yang lain nya.


***

__ADS_1


Mau lanjut, tapi Sepi like, komen, Vote -,-


__ADS_2