
***
"hmmm... Seperti yang ku duga, bibi Ayana adalah orang yang jujur. Dia mengatur kediaman ini dengan baik" puji Reva duduk anggun menatap pembukuan kediaman. Hanya dalam satu jam ia mampu menguasai pembukuan itu, tentu saja karna dia dulunya adalah nona muda presdir.
"nyoyna, air mawar telah siap. Silahkan nona mandi" ucap Seira memberikan sebuah jubah mandi.
"Apa Aila belum kembali?? "
"belum nyonya"
Gerah rasa tubuh nya. Segera ia melangkahkan kaki ke bak yang penuh dengan air mawar itu.
"tubuh nyonya begitu indah, sayang sekali ada sebuah tanda lahir yang aneh di bahu nyonya" celetuk Seira menyentuh tanda lahir itu.
"Tidak juga, menurut mu bukan kah tanda lahir ini terlihat keren?? Hehe" jelas Reva memainkan matanya ke arah Seira. Seira hanya mengangguk mengerti.
"Seira paham, nyonya ingin mengatakan bahwa apapun yang ada pada kita, walaupun itu baik atau buruk. Kita tetap harus mensykurinya kan?? "
"haha! Sepertinya kau banyak belajar"
Reva memejam kan matanya. Berpikir, rencana apa besok dan untuk besok nya lagi, hingga dia bisa kembali ke zaman nya.
"hnnn... Tak ku sangka, aku mendapat perhatian bibi Ayana dengan cepat. Bibi Ayana adalah orang yang sangat berpengaruh di sini. Alden telah di asuh nya sejak kecil. Dengan bantuan nya, aku yakin bisa bercerai dengan Alden. Humph!! "
***
"satu lagi ucapan selamat pagi dari aku Tya Reva Wisbrith, untuk kediaman ini" ucap Reva berdiri di tengah jembatan kecil yang indah, menatap senyum kolam di bawah nya. Pantulan wajah imut nya menjadi goyang karna ikan yang berenang.
"aku kira akan seperti di novel itu. Menikahi pangeran akan berkonflik dan bermain intrik dengan banyak wanita selir, untuk mendapatkan kasih sayang Yang mulia. Sayang sekali, aku menantikan konflik itu. Humph! " gumam Reva menundukan badan nya, mengangkat tangan nya menopang dagu mungil nya.
"ternyata anda di sini, nyonya muda ku~" panggil Aila yang baru datang.
"oh?? Kau?? " ketus Reva tanpa menolehkan wajahnya ke arah Aila.
"sangat dingin, aih nyonya ku ini. Apakah anda tahu, berita tentang pendekar hitam terus melebar luas"
"lalu?? "
"bener - bener deh. Nyonya hanya itu informasi yang aku dapat"
"baiklah, kau boleh pergi bekerja"
"tidak bisakah aku libur satu hari?? "
"tidak bisa. Aku masih ingin membangun panti asuhan dan rumah sakit"
__ADS_1
"ya ya ya, baiklah aku pergi~" Aila pergi meninggalkan Reva sendiri yang masih menikmati waktu senggang nya. Biasanya dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang baca.
BRUKK!!!
pandangan Reva jatuh pada seorang gadis muda yang baru saja terjatuh dari pohon. Tubuh nya sangat lemah.
"Panas... " gumam Reva saat meletakkan tangan nya di kening gadis malang itu.
Segera Reva membawa nya ke dalam kamar, agar bisa di obati.
"nyonya, ini air dingin yang anda minta" teriak Seira dari pintu masuk.
"nyonya, apa anda sakit? Kenapa tidak bilang? Saya akan panggilkan tabib kerajaan" ucap Ayana khawatir.
"hentikan. Bukan aku yang sakit, tapi gadis ini. Dia demam, harus segera di obati" jelas Reva menunjuk gadis lemah yang tengah terbaring.
"bawakan aku, jahe dan Rumput biru di halaman belakang" pinta Reva. "harus menurunkan panasnya lebih dulu. Tunggu... Ini... Dia terkena Racun yang cukup berbahaya. Lalu bagaimana gadis kecil ini bisa bertahan. Apa dia bisa medis?? " batin Reva mendapati penemuan luar biasa ini.
***
Enam jam berlalu, akhirnya gadis itu sadar, dan kondisinya terasa lebih baik.
"Bagaimana keadaan mu?? " tanya Reva yang duduk sambil membaca buku.
"apakah nyonya yang menyelamat kan aku?? " tanya nya. Pandangan nya jatuh pada perempuan cantik yang duduk anggun sambil membaca buku. Di temani lilin yang bercahaya.
"jika tentang racun, aku juga sudah tau, aku sendiri yang menyembuhkan aku"
"oh, lalu?? "
"maksud ku, apa anda yang menyelamatkan saya dari kejaran orang jahat itu"
"orang jahat siapa?? "
"saya adalah putri tunggal dari keluarga bangsawan, Ayahku meninggal, dan aku dikejar kejar untuk di jual dan di jadikan budak oleh paman dan bibi ku sendiri. Mereka mengutus beberapa bandit untuk menangkap ku"
"oh? Cerita yang pasaran"
"apa katanya?? Hanya oh?? Dan cerita pasaran?? Siapa sebenarnya wanita di hadapan ku ini? Berbicara pada ku tetapi sedari tadi menatap buku. Arogan sekali dan terlalu dingin" batin Gadis itu geram.
"siapa namamu?? " tanya Reva menutup dan meletakkan bukunya di meja.
"Aruna! Aruna siddarth! "
"oh? Aruna, kau suka belajar medis?? "
__ADS_1
"iyah, aku menyukai medis. Meski orang tua ku menyuruhku belajar tata krama wanita. Tapi, aku lebih suka belajar medis. Banyak buku medis yang aku simpan diam - diam. Dan aku juga pernah belajar medis diam - diam dengan seorang master hebat!"
"siapa master itu??"
"dia adalah.... Emmm maaf nyonya, aku tidak bisa mengatakan nya" ucap Aruna gagu menutup mulutnya.
"oh, sangat misterius, menarik!" gumam Reva tersenyum tipis penuh maksud.
"eh... Nyonya tidak akan memukul ku atau mencambuk ku?? "
"kenapa aku harus melakukan itu?? "
"karna aku merahasiakan itu dari nyonya"
"haha.. Kau lucu sekali, sangat lugu dan polos. Menarik" ucap Reva bangkit berdiri membelai lembut rambut Aruna.
Mata Aruna berbinar, pipinya me merah gugup. Ini pertama kalinya ada orang yang memperlakukan nya dengan lembut, setelah kematian orang tua nya.
"bagaimana caranya agar aku bisa membalas kebaikan nyonya?? "
"Terus hidup dan tersenyum, melakukan kebaikan dalam setiap langkah hidup mu. setelah kau sembuh, kau boleh pergi kemanapun sesuka hati mu. Kau bebas. Aku akan memberi mu 100 koin emas. Jadi istirahat lah" jelas Reva melenggang pergi.
"dia baik sekali. Mengapa ada orang sebaik dia di dunia ini??" batin Aruna menatap kagum punggung Reva.
"tu tunggu...tunggu dulu" cegah Aruna dengan nada gusar.
"hmmhh?? " gumam Reva menghentikan langkah nya. Menoleh sedikit ke arah Aruna.
"bagaiman jika aku tidak ingin pergi?? " tanya Aruna membuat tertegun Reva. Terlihat senyuman tipis di wajah Reva.
"maksud mu?? " tanya Reva pura-pura tidak mengerti.
"nyonya, aku ingin tetap tinggal di sisi mu. Izinkan aku mengabdi pada mu. Aku bisa membantumu dalam hal medis. Aku mohon... Lagi pula aku sudah tidak mempunyai rumah. Apalagi keluarga..."
"Dasar gadis bodoh! Mulai sekarang, aku adalah keluarga mu. Aku adalah kakak mu" jitakan lembut Reva ia berikan pada Aruna. Sekali lagi membuat Aruna tertegun takjub, ada rasa tenang dan aman. Kebahagiaan yang terlukis jelas di wajah nya, tak dapat di pungkiri. Kini ia tengah merasa sangat bahagia.
"kakak... "
"segeralah sembuh, aku menunggu mu, agar kita menciptakan obat bersama. Kediaman ini memiliki banyak sekali tanaman obat yang menarik loh~ tidurlah~" ucap Reva meninggal kan kamar Aruna.
"iyah, nyonya" sambung Aruna tersenyum lebar dan hangat. Kembali ia membaring kan tubuh nya. Memejamkan matanya.
"ayah benar, pasti akan ada orang baik hati di dunia ini yang akan menerima ku" batin Aruna, senyuman sumringah sangat jelas menghiasi wajah nya.
***
__ADS_1
ayoo like, komen and vote
jangan lupa follow yah