Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Lima


__ADS_3

***


"Reyza,  apa kalian sudah menemui kakek Arthaft? " tanya Regata menatap kedua putranya.


"yah ayah kami sudah menemui kakek" sahut Reyza meneguk minuman di hadapan nya.


"apa yang kakek katakan? "


"ayah seperti tidak tahu kakek saja,  tentu saja dia menanyakan keadaan cucu kesayangan nya " sambung Ryuza yang  sedang menghadapi beberapa dokumen di hadapan nya.


"aish... Kalau begitu lain kali,  saat kalian ingin mengunjungi kakek ajak juga Reva bersama dengan kalian "


"iyah ayah" sahut mereka berdua bersamaan.


"lalu,  apa kalian sudah menemukan sepupu laki - laku kalian?? "


"belum ayah,  bahkan tak ada kabar lagi"


"baiklah,  tetap berusaha "


"Tuan besar,  pelayan ibu anda datang dan ingin menyampaikan suatu hal" teriak pengawal yang menjaga pintu depan.


"masuklah" sahut Regata.


Tampak wanita paruh baya berjalan agak lambat,  dengan badan yang sudah sedikit membungkuk karna faktor usia.  Regata mengenali nya,  ia adalah pelayan tangan kanan ibunya.


"ada apa? " tanya Regata penuh selidik.


"Tuan besar,  nyonya besar meminta untuk semua orang datang ke aula, ada yang ingin di bicarakan olehnya" sahut pelayan itu tertunduk hormat.


"apa yang ingin di bicarakan nenek tua itu?! " sambar Ryuza dengan nada agak membentak.


"hamba tidak tau tuan muda.  Mahon ampuni hamba"


"kalau begitu kau boleh pergi "


"terima kasih tuan besar" ucapnya yang kemudian bergegas pergi. Tentu saja dengan makian yang ia lontarkan untuk Ryuza di dalam hatinya. Bukan hal baru untuk nya memaki para tuan dan nona muda keluarga ini.


"sebenarnya, apa yang ingin nenek tua itu bicarakan? " tanya Ryuza pada kakak dan ayahnya yang tidak begitu menganggap hal ini penting. Tidak seperti Ryuza yang selalu naik darah jika menghadapi empat perempuan yang dianggap nya Menjijikan.


"jika ingin tahu,  maka harus pergi " kata Regata yang melenggang pergi di ikuti kedua putranya.


***

__ADS_1


"Ayah! " panggil seorang gadis dengan perawakan ceria khas miliknya.


"Reva?! " sahut Regata saat mendapati orang yang memanggil nya adalah putri kesayangan nya yang menjadi cahaya nya selama ini.


"Kau di sini?!  Kau merindukan kakak dan ingin menemui kakak kan?! " sambung Ryuza yang memang sudah sangat merindukan Reva.


"itu sih alasan kedua"


"lalu,  alasan utama adik kesayangan ku pulang kesini ada apa? " tanya Reyza menimpali.


"eh,  bukan kah aku yang harus bertanya pada kalian,  mengapa mengirim orang ke kediaman pangeran ke empat untuk menjemput ku? " tanya balik Reva.


"Tuan besar,  tuan muda,  dan nona muda,  silahkan ke aula,  nyonya besar sudah menunggu kalian" pinta seoarang pelayan yang baru datang,  tentu saja dengan budaya tunduk nya.


"ahh... Aku mengerti sekarang. Ternyata,  yang memanggilku kemari bukan lah ayah atau kakak,  tapi si nenek tua itu " Ujar Reva memanggutkan kepala nya.


"aih aih sampai repot - repot memanggil adik kecil ku,  sebenarnya trik apa yang nenek tua itu sedang mainkan.  Aku sungguh tak sabar melihatnya " sahut Reyza yang melenggang pergi bersama ayah dan kedua saudara nya.


***


"hormat kami pada tuan besar perdana menteri. Hormat kami kepada Tuan dan nona muda" seru para pelayan itu tertunduk, tepat saat Regata berjalan menuju kursi kebesaran nya.


Reva mengedarkan pandangan nya. Yah tempat ini. Pandangan nya jatuh pada kedua saudari tirinya yang menatap Reva penuh senyuman palsu.


"Tuan besar, saya memanggil kalian semua kesini karna ingin meminta keadilan untuk selir Selly" ucap nenek tua itu yang sudah angkat bicara duluan, sebelum Regata bertanya.


"Selir Selly sudah mengurus kediaman ini selama lebih dari delapan tahun, sepeninggalnya permaisuri. Jadi, saya minta anda untuk memberikan gelar permaisuri kediaman perdana mentri Wisbrith padanya"


"kenapa harus begitu? " tanya Regata yang sudah menduga hal ini.


"karna dia sudah mengabdi pada kediaman Wisbrith selama lebih dari delapan tahun. Anggap saja memberikan gelar permaisuri padanya adalah bentuk balas budi keluarga kita" bela Nenek tua itu.


"ahhh bibi, tak masalah. Aku tak masalah tetap menjadi selir. Aku juga sangat senang bisa membantu Tuan besar mengurus rumah ini" sahut Selly ikut menimpali.


Hah? Drama ingin membuat orang berempati? Haha! Maaf menghancurkan Drama kalian, tapi ini terlalu buruk. Lihat bagaimana sang profesional turun tangan. Kalian harus belajar dari ku loh


Batin Reva memandang Remeh trik murahan yang mereka mainkan ini.


"oh balas budi? Apa kami keluarga Wisbrith pernah meminta selir Selly mengabdikan delapan tahun hidupnya?? " sambar Reva menatap angkuh dua wanita ular ini. Reyza yang baru saja ingin bicara seketika diam. Ia hanya ingin menonton aksi adiknya ini.


"Kau! Kau hanya bocah kecil sialan! Jangan ikut campur! " bentak Nenek tua itu.


"Nenek, jangan marah. kakak Reva, Riana tau kakak tidak menyukai kami. Tapi, kakak juga tidak boleh menghina ibuku. Bagaimana pun juga ibuku sudah mengurus kakak selama ini" sambung Riana.

__ADS_1


"itu benar Reva, jika kau tidak bisa balas budi. Setidak nya jangan menghina dan mempermalukan kami" tambah Raniah. Yah kedua kakak beradik ini memainkan peran nya dengan sangat bagus. Sayang sekali lawan main nya adalah Reva.


"Balas budi? Haha! Sebenarnya dalam hal ini bukan kah kalian yang harus balas budi? Ayah dan ibu kandung ku bersedia memberikan gelar selir untuk mu yang sudah membopong dua anak perempuan yang enatah dari mana asal usulnya. Bukan kah kalian yang seharusnya balas budi?! Tapi sekarang kalian bahkan lebih rendah dari hewan, ingin menggigiti habis majikan?! Haha! Jika memang keberatan selamanya menjadi selir, silahkan kau Selly angkat kaki dari kediaman ini bersama kedua putrimu itu!!?" sahut Reva dengan nada santai, yang masuh duduk anggun di kursinya.


"Reva! Kau jangan keterlaluan! " teriak nenek tua itu menghampiri Reva dan ingin menamparnya. Sebelum sampai di kursi Reva, Ryuza sudah lebih dulu menjegal kaki Nenek itu, mengakibatkan dia terjatuh.


"ooppsss... Aku tak sengaja " kata Ryuza santai meminum tehnya.


"Kau! Beraninya hanya Anak pungut menjegal ku! Kau kira kau siapa! Kau hanya anak pungut kediaman keluarga ini! Bahkan status anak tiri lebih tinggi dari anak pungut! Kau--"


PLAKKK!!


Tamparan keras Reva hadiah kan pada nenek tua itu. Mengakibatkan kan mulutnya berhenti bicara dan dirinya jatuh tersungkur dengan lebam di pipi kirinya.


"Diam kau! Beraninya kau menghina kakak ku! Kalian kira kalian ini siapa!! " bentak Keras Reva menatap melotot ke arah wanita tua itu. Semua orang yang menyaksikan ini mendadak merasa aura berubah mencekam.


Ryuza tersentak halus, ia cukup tertegun melihat Reaksi adik nya ini.


"Reva! Kau keterlaluan!! Beraninya kau menampar nyonya besar rumah ini! Bahkan kau menamparnya di hadapan perdana mentri. Bahkan, saat semua yang bibi katakan memang benar. Bahwa posisi anak tiri memang lebih tinggi dari anak pungut!! " sambung Selly menghampiri nenek tua itu untuk membantunya berdiri.


"Selly, Diam kau! Beraninya kau menghina putra ku! Dan membentak putri ku! Dari mana kau menentukan bahwa status kedua putrimu lebih tinggi dari Ryuza! Status Ryuza sama dengan status Reyza dan Reva! Aku Regata Wisbrith hanya punya tiga orang anak. Yaitu, Reyza, Ryuza, dan putri kesayangan ku Reva!! " teriak Regata yang membungkam habis mulut mereka semua, bahkan juga bisikan dari para pelayan.


"Regata kau jangan keterlaluan! Kalau begitu kau harus menghukum Reva karna ketidaksopanan nya terhadap ku!! " keluh nenek tua itu.


"menghukum putri kesayangan ku. Karna mu? Hei wanita tua! Kau kira kau siapa?! Kau hanya wanita jal*ng yang ayah ku bawa untuk di jadikan selir, jangan merasa terlalu bangga. Dia bahkan tak pernah menyentuh mu! Kediaman ini sepenuh nya adalah milik putri ku, apapun yang ingin dia lakukan bisa dia lakukan! Menghina dan mengeluarkan siapa saja di kediaman ini itu adalah hak nya! Jadi, jika kau ingin menikmati masa tua yang baik dan mewah, jaga sikap mu. Khususnya terhadap putriku, juga didik lah keponakan mu itu. Dan jangan meminta lebih, aku tak sungkan mengusir kalian semua dari sini!! " ucap Regata yang bangkit dari kursi kebesaran nya, menghampiri dan membelai lembut rambut putrinya ini.


"Karna Reva sudah di sini, ayolah kita habiskan satu hari ini untuk berkumpul keluarga. jangan terlalu memikirkan mereka" ajak Reyza yang menuntun ketiga orang tercinta nya ini menuju sebuah pondok dekat Danau. Tempat biasanya mereka berkumpul yah hanya sekadar untuk mengobrol ringan saja.


"Reva, terima kasih, kakak sangat menyayangi mu" bisik Ryuza saat berada tepat di sebelah Reva. Reva hanya membalasnya dengan senyuman mengejek khas untuk Ryuza si bodoh. Mereka berempat meninggalkan para wanita ular itu di aula. Tentu saja dengan rasa sakit mendalam atas penghinaan mereka. Para pengawal dan pelayan sudah bubar bersamaan saat keluarga Wisbrith meninggalkan aula.


Para wanita ular ini tertunduk lusuh, menatap penuh kebencian ke arah punggung Khususnya Reva. hari ini mereka mendapat kan tamparan yang begitu keras. Penghinaan yang tak kan mereka lupakan seumur hidup. Membuat jiwa dendam mereka meronta - ronta. Banyak sekali sumpah serapah mereka layangkan untuk Keluarga Wisbrith itu.


"ibu, nenek, kalian tenang saja. Aku pasti akan membalas penghinaan ini berkali - kali lipat!! " seru Riana.


"apa maksudmu Riana? Apa yang kau rencanakan?! "


"nanti ibu akan melihatnya juga. Tepat penjamuan istana yang diadakan beberapa hari lagi. Lihat saja, bagaimana Reva akan menerima penghinaan dan cacian itu!! "


***


Ayooo like, komen, and vote yah


Karna kemarin gak up. Hari. Ini up nya di banyakin loh ehehe

__ADS_1


Mohon dukungan nya terus yah


Rini Ir


__ADS_2