
***
"Bunda... Aku selalu mendengar Pria itu mengganggu bunda di tengah malam? Apa aku salah dengar??" tanya Dafa dengan polosnya, melahap suapan ke empat dari Reva.
Reva tersentak halus, ia sedikit gusar ternyata suara pertengkaran nya Dan Alden terdengar oleh Dafa.
"yah begitulah ~ " sahut Reva lembut.
"pangeran kecil, Pria yang anda maksud itu sekarang adalah ayah mu. Jadi panggil dia ayah" sambar bibi Ayana.
Yah mereka bertiga sedang duduk manis mengobrol dengan asyik di pondok dekat danau itu. Aila dan Aruna seperti biasa mengurus pekerjaan mereka. Saat ini tahap pembangunan panti asuhan Reva masih dalam proses. Seira yang selalu mengikuti Reva menggantikan bibi Ayana mengurus rumah ini. Dan Reva sendiri saat ini sudah menjadi seorang ibu, tentu saja harus mengurus anaknya.
"tidak.. Dia bukan ayah ku. Aku hanya mempunyai bunda" bantah nya keras.
"oh? Apa kau tak ingin memanggil ku Ayah? " sambar pangeran Alden yang di tuntun oleh Devan seorang, Ferry entah kemana dia berada. Mungkin sedang menyelidiki kemunculan bangsa Netcher kemarin malam.
"Kau bukan Ayah ku! Aku cuma punya bunda Reva sebagai orang tua ku! Aku tak butuh seorang ayah!" ketusnya.
Alden mengangkat tangan nya perlahan, sebagai aba - aba untuk meninggalkan mereka bertiga, Devan menuntun Ayana dengan hati - hati layaknya anak yang penurut dan berbudi luhur. Meski Devan agak bodoh, namun Fakta bahwa dia orang yang baik juga tak terbantahkan.
"Aishh.. Dengar... Reva adalah istriku, dan kau anaknya Reva. Bukan kah anak ku juga? Hei anak kecil, sebelum menjadi ibumu, Reva adalah istriku, jadi aku lebih berhak darimu"
Bocah itu diam sebentar, ia masih bingung harus menjawab apa atas alibi Alden kali ini. Alasanya ini sangat tak terbantahkan.
Alden menarik Reva dengan tenaga dalam nya, sampai akhirnya Reva jatuh ke pangkuan nya.
"hei.. Sayang.. Jika putra mu ini tak memanggil ku ayah. Jangan salahkan aku memulangkan nya ke istana kerajaan. Ingat lah. Ini adalah hal yang mudah bagiku" bisik Alden.
Mendengar Ini Reva melotot tajam ke arah mata Alden, yang di tatap malah dengan santai senyum cengengesan. Ia menarik napasnya panjang. Turun dari pangkuan Alden secara perlahan.
"Dafa sayang, dengarkan bunda. Dia adalah suami bunda. Yang artinya adalah ayahmu. Kau menyayangi bunda juga menyayangi ayah Alden kan? " kata Reva menggenggam tangan bocah imut berusia empat tahun ini. Dengan terpaksa akhirnya Dafa mengangguk juga.
"panggil dia ayah" pinta Reva lagi, untuk memastikan bahwa Dafa akan menerima Alden.
dengan sangat enggan akhirnya Dafa hanya menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
"Putri, ada seseorang dari kediaman perdana menteri ingin menemui anda" seru Seira yang baru datang.
"kediaman ayahku? Ada apa? " tanya Reva balik. Seira hanya menggeleng pelan, menandakan ia tak tahu apapun.
"minta dia untuk masuk, utusan kediaman dari ayah mertuaku di terima dengan sangat baik di sini" sambar Alden. Setelah Seira memastikan ia tak salah dengar, ia langsung membawa utusan itu.
"Hormat kepada pangeran ke empat dan putri ke empat" seru nya tertunduk sopan. "lapor putri, saya di minta untuk menjenput anda. Ada hal yang ingin di bicarakan, ini tentang keluarga anda sendiri. Mohon untuk putri menghadirinya" tambah nya lagi.
Reva diam sebentar, menoleh ke arah Alden. Yang maksudnya. Boleh tidak?
"Kau boleh pergi, asal kembali sebelum gelap. Aku tak suka tidur sendirian. Tapi aku juga memiliki syarat tambahan. Kalian semua tinggalkan kami berdua" kata Alden. Seira segera membawa pergi Dafa dan utusan itu.
"Apa yang kau inginkan?! Kenapa suka sekali mempersulit aku?! "
"aku mempersulit mu? Aish... Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Pergi lah dan kembali lah. Dan sebelum itu. kemari, mendekat lah permintaan yang satu ini perlu di bisikkan" pinta Alden yang kelihatan nya serius. Tanpa rasa curiga Reva mendekat begitu saja.
Tapi Alden malah menghujani Reva dengan ciuman di pucuk kepala nya.
"Kau?! Alden sialan!!"
"pergilah... Utusan orang tua mu menunggu mu"
"Benarkah? Pergilah.. Aku tak perduli. Oh yah, kau akan meninggal kan Dafa bersama ku kan? "
Reva mengabaikan permintaan Alden begitu saja. Ia melenggang pergi dengan langkah awal yang di hentak, menandakan dirinya sedang kesal pada Suami nya ini. Yang di kesali, malah dengan bahagia tertawa menatap tingkah menggemaskan istrinya.
Setelah memastikan Reva hilang dari pandangan nya. Alden menggerakkan tangan nya memberi isyarat. Terlihat bayangan banyak orang berbaju serba hitam. Mereka semua tunduk pada Alden.
"lindungi permaisuri ku. Satu tetes darah yang keluar darinya, pastikan orang yang membuatnya kehilangan seluruh darah di tubuh nya! "
"siap tuan muda! " sahut mereka serentak. Dan melesat pergi begitu saja. Layak nya angin yang berhembus.
***
Seperti biasa hari - hari Alden di sibukkan dengan banyak nya catatan di ruang baca nya. Yah, dia memang terbiasa bekerja di sana. Dan yang pasti tak ada yang boleh masuk ke sana, kecuali mendapat izin Alden sendiri. Dan hanya ada satu orang yang berani masuk tanpa izin, siapa lagi kalay bukan Reva. Kali ini, seperti nya akan ada orang yang sama.
__ADS_1
"Ayah Alden. Kapan bunda Reva kembali? Aku tidak bisa bermain dengan mu karna kau cacat" keluh nya, bocah berusia empat tahun yang kelihatan nya baru bangun. Sesekali mengucek matanya. Ia dengan polos nya masuk ke ruang kerja Alden.
"kemarilah, duduk di pangkuan Ayah" serunya menarik Dafa ke pangkuan nya. "apa menurut mu ayah yang lumpuh ini tak bisa bermain dengan mu?" tambah nya lagi.
Dafa hanya mengangguk perlahan.
"Apa kau ingin belajar menggunakan pedang? Ayah bisa mengajari mu. Anak laki - laki itu harus kuat!"
"Benar Ayah, Aku ingin sekali belajar menggunakan pedang. Agar aku bisa melindungi bunda nantinya!! "
"bagus sekali, tapi ayah punya syarat"
"Ayah ini selalu saja memiliki syarat dalam setiap hal! Humph! "
"haha.. Mulut mu ini, pasti belajar dari bunda mu kan.. Ayah hanya ingin kau terus memanggil ku ayah. Bagaimana?? "
"baiklah setuju! Dalam hal ini, aku dan bunda tak dirugikan! "
Sejak siang hingga sore, Alden mengajari Dafa menggunakan pedang kayu lebih dulu. Dafa kelihatan sangat senang dan bersemangat. Melihat keadaab ini seperti nya mereka akan menjadi Ayah dan Anak yang kompak. Jika itu terjadi, Dapat di pastikan Reva kewalahan.
"Sudah minunlah, hari ini kita latihan sampai sini saja. Ayah masih ada kerjaan"
"Kerjaan apa? "
"membaca catatan di ruang baca"
"Ayah, Dafa ingin ikut dengan ayah. Ke ruang baca ayah. Pasti di sana banyak buku yang bisa Dafa pelajari "
Alden tersenyum tipis melihat tingkah anak angkatnya ini. Dia hanya mengangguk kan kepala nya.
Belum habis Dafa membaca sebuah buku yang cukup tebal, dirinya sudah terlelap dalam mimpinya. Tidur manis di pangkuan Ayah nya.
Haha.. Ini kah rasanya memiliki seorang anak? Rasanya sangat seru. Dafa, Kau tak perlu khawatir ayah dan bunda mu pasti akan memberikan mu banyak Adik untuk teman bermain mu ...,
***
__ADS_1
Hai hai, tetap dukung terus yah. Oh yah. Aku baru rilis cerita baru, judulnya 'pembunuh berantai ' lihat kuy hehe...
Jangan lupa like, komen. And vote nya yah