Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Lima Puluh Tujuh


__ADS_3

***


"Apa Ayah akan selamat Bunda? Apa ayah akan kembali?  Ayah akan menjemput kita kan Bunda? " Tanya Dafa beruntun. Reva diam, ia sangat bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan putra sulung nya ini.


"Iyah nak.  Ayah akan pulang kok. " sahut Reva terlihat meyakinkan. Dafa tersenyum lega mendengar jawaban bunda kesayangan nya ini.


"Sekarang kita tidur lagi yah,  masih malam. Enggak baik" nasihat Reva.  Dafa mengangguk mengikuti arah tangan Reva yang membaringkan nya.  Di ikuti Reva juga terbaring.


***


"Apa semua siap?! " tanya Alden yang sudah bersiap dengan baju zirah perang nya.  Terbuat dari Bahan khusus.


"Kami siap pangeran! " sahut mereka semua bersamaan.  Juga sudah bersiap dengan baju perang nya.  Di lengkapi dengan peralatan perang nya. Pedanh, perisai,  dan panah contoh nya.


"Baik,  dengar kan rencana ku.  Para pemanah bertarung jarak jauh.  Pengguna pedang menyerang dari kanan dan kiri.  Di pimpin oleh Devan dan Ferry.  Pengguna Kuda dan Pedang,  mengepung dari belakang di pimpin oleh Jendral Fatas." Jelas Alden menunjuk peta yang di gambar oleh Ferry.


"lalu penyerang dari depan siapa, pangeran? " tanya Fatas menyadari nya.


"Aku sendiri lah yang akan menyerang dari Depan" sahut Alden serius.


"Tapi.. Pangeran.. " sanggah Fatas merasa khawatir.


"Diam dan ikuti titah ku.  Ayo bergerak! Hidup Bangsa Flawyard!! Hidup Kerajaan Flawyard!! " teriak Alden di sahuti dengan  sorakan mereka semua.


Alden menaiki kuda nya dengan gagah. Bergerak dengan cepat menujuh lembah hutan.


Tak jauh dari markas Pangeran Faras berada,  mereka sudah menjalankan rencana nya.

__ADS_1


"hei.. Afesan, jangan tidur... Kita masih memiliki tugas.  Ayolah" ucap Alden saat diri nya sendiri.


"Baik Tuan,  sudah lama saya tidak merasakan perasaan ini.  Ini cukup mendebarkan" sahut Afesan.


Segera setelah itu,  Aura merah dari tubuh Alden memancar menciptakan bayangan Naga Merah minimalis.


"Serang!!! " Teriak pimpinan pasukan itu.  Segera setelah mendengar titah pimpinan nya itu,  Ratusan pasukan itu segera menyerang Alden.


Wrahhhhhh


Sekali semburan api yang keluar dari mulut Bayangan Naga Merah itu,  mampu membunuh setengah nya.


"heii.. Aku juga ingin beraksi" celetuk Alden,  ia segera melompat dan mengayun kan pedang nya dengan cekatan. Dengan menusuk kan pedang nya lalu mencabut nya lagi.  Alden berhasil menghabisi mereka semua,  dengan menusuk bagian Vital nya.


"Kemampuan Tuan semakin luar biasa. Sangat menakjubkan" puji Afesan. 


"Serang!! " titah Fatas.


Di sambut dengan tebasan pedang oleh para prajurit nya.  Prajurit Rambell yang sedang terluka tentu kewalahan menghadapi pasukan Alden.


Begitu juga pasukan Ferry dan Devan.  Mendapat kemenangan telak dari musuh nya.  Bagai tidak berkelas pasukan Alden menghabsii mereka dengan sangat keji.  Mengingat bagaimana cara bangsa Rambell membantai mereka berapa waktu yang lalu.


"Apa yang terjadi?!!  Siapa yang gila menyerang kita?! " pekik Faras memakai baju zirah  perang nya. Menatap salah satu bawahan setia nya.


"Pasukan pangeran Alden Tuan!  Mereka telah Membantai habis pasukan kita.  Sangat tidak mungkin untuk mengalahkan mereka saat ini.  Anda harus pergi.  Anda harus tetap hidup.  Saya akan menetap di sini,  dan menghalangi jalan nya pangeran Alden!  Mohon anda menjaga keluarga hamba!! Tuan!  Pergilah!! "


"Aku akan mengingat mu sebagai bawahan ku yang setia. Mutean!! " sahut Faras,  ia segera berlari.  Namun.

__ADS_1


Bukhhh


Faras terlempar kuat menatap dinding kamar nya.


"Maaf sekali, kakak tertua ku Faras. Aku masih belum memijak mu, itu membuat jiwa ku meronta - ronta!"


"Tuan Faras. Pergilah aku akan menghalangi nya!! " ucap Mutean. Segera ia menyerang Alden. Mutean yang seperti itu Apakah mampu?


Dengan Tanpa Ampun Alden menghajar habis Mutean. Pertama, Alden memotong kedua tangan nya. Mengingat tangan itu lah yang mengikat Dafa kecil milik nya.


"Kenapa? Sakit? bagaimana dengan Dafa kecil ku?!! " tanya Alden menyeringai. Ia menebas bagian perut Mutean. Kembali Alden mengingat wajah manis Dafa, putra kecil nya itu. Dan bagaimana Reva berteriak untuk mereka melepaskan Dafa kecil.


Alden menusuk jantung Mutean, dengan begitu Tragis nya. Memenggal kepala Mutean.


"Sekarang Giliran mu" Desis Alden menyeringai menoleh ke arah Faras yang sudah banjir dengan darah nya.


"Alden, Tunguu.. Aku adalah kakak mu. Kau jangan berlebihan. Kita ini saudara satu Ayah. Ayah pasti akan sangat sedih kehilangan anak nya." cegah Faras gugup. lebih baik ia menyerah dan mengakui kekalahan nya, di banding Faras harus menghadapi kematian nya.


"Kau benar. Ayah pasti akan sangat terluka jika melihat anak nya celaka. Dan itulah yang kurasakan saat nyawa Anak ku di ujung tanduk!! kau harus tersiksa! degan begini Dafa akan tenang!! " pekik Alden menusuk jantung Faras berkali - kali.Memijak - mijak kepala nya. Dengan sesekali melayangkan Tebasan guna menyayat punggung nya.


"Ini untuk putra kecil ku yang manis. " desis Alden memenggal kepala Faras dengan brutal.


Tampak Kalung Merah itu tercampak dan bersinar.


"Hah.. Akhirnya dapat satu." gumam Alden menunduk mengambil kalung yang jatuh dari ke lantai itu.


***

__ADS_1


Karna Anime, up nya lama 😂


__ADS_2