
***
Setelah beberapa hari perjalanan, Akhirnya rombongan Alden dan Reva tiba di Kerajaan Flawyard.
Banyak Prajurit dan penduduk yang menggemakan menyuarakan nama Alden dan Reva, sebagai pahlawan kerajaan Flawyard.
"Hidup Yang Mulia Raja Alden!! "
"Hidup Permaisuri Reva!! "
"Bahagia untuk Raja Alden dan Permaisuri Reva!! "
Begitulah teriakan prajurit dan penduduk ibukota, mengiringi Langkah Alden dan Reva menuju Raja dan Ratu Flawyard yang sudah ada di depan Gerbang. Menyambut Anak menantu mereka. Juga dengan Kai, dia kan putra angkatnya Ratu. Dan, ada beberapa selir Raja lain nya.
"Alden dan Reva memberi salam. " Sapa Sepasang suami istri itu. Membungkuk hormat di hadapan Raja dan Ratu.
"Bagus, Kerja kalian bagus. Aku sangat bangga pada kalian. Kalian berhasil melindungi kerajaan Flawyard. " Sambut Raja Flawyard memeluk erat Alden putranya.
"Ibu bangga padamu nak. " Begitu juga Ratu yang menyambut Reva, memeluk nya hangat.
"Baiklah, Ayo masuk. Besok adalah hari peresmian kalian menjadi Raja dan Ratu berikutnya. Seperti tradisi. Ayah dan Ratu, juga para selir akan mengabdi di Kaki Gunung Shen. "
"Baiklah Ayah. Aku dan Reva akan bersiap. "
***
__ADS_1
"Nona, kira - kira mengapa Ratu memanggil Anda secara pribadi? " Bisik Aila. Saat ini Reva dan Aila tengah menuju kediaman Ratu secara diam - diam. Itu karna memang permintaan Ratu sendiri.
"Mau ngasih makan mungkin. " Sahut Reva enteng.
Aila mendengus kasar. Ini jawaban paling tak logis.
Bagus juga, dengan begini aku memiliki kemungkinan bertanya, apa yang terjadi pada Ratu Pertama.
Batin Reva. Ia merasa telah tertiban keberuntungan yang besar.
-
-
-
"Suruh dia masuk, hanya seorang diri. Dan kalian juga, Pergilah. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada menantuku. "
Pelayan itu mengangguk patuh, memanggil Reva yang ada di luar.
"Permaisuri Reva, silahkan masuk. Hanya seorang diri. " Tambah Pelayan itu saat Aila ingin ikut Reva masuk.
Aile berdecak kesal. Ia sudah menaruh curiga pada Ratu yang gelagatnya aneh.
"Sudahlah, aku akan masuk. "
__ADS_1
Reva berjalan masuk ke Ruangan Ratu.
"Reva memberi salam pada Ratu. " Sapa Nya, ia mengedarkan pandangan nya. Dan tertuju pada perempuan cantik dan elegan yang duduk di ranjangnya.
"Kemari lah nak. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan sebagai Ratu. Kau yang akan melanjutkan jabatan ku. Aku ingin memberimu beberapa nasihat sebagai Ratu. " Ujar Ratu, memanggil Reva untuk duduk di sebelah nya.
"Iyah Yang Mulia Ratu. Ada apa? Reva akan belajar semaksimal mungkin. " Reva berjalan dan duduk di sebelah Ratu anggun itu.
"Menjadi Ratu bukan hanya soal jabatan. Melainkan berguna untuk Rakyat. Menjadi Ratu bukan cuma mengurus istana Ratu, melainkan harus cerdas dalam berpolitik juga. Selain itu, menjadi seorang Ratu. Kau harus memiliki ketabahan yang luar biasa. Karna kau akan berbagi suami pada para selir itu. Dan tidak akan mendapat satu - satunya cinta Raja. " Nasihat Anggun Ratu sudah ia suarakan. Matanya sendu. Tampak sepertinya memang beban menjadi Ratu itu banyak.
Selir? Alden akan memiliki selir? Kenapa itu y
tak pernah terpikirkan oleh ku.
Batin Reva. Jantungnya berdegub begitu kencang. Ia tak bisa mengontrolnya. Bahkan Reva yakin, Ratu juga tau betapa Reva berdebar.
"Reva, kau harus bersabar. Ini lah memang tanggung jawab seorang Ratu. Alden sebagai Raja, di haruskan memiliki selir, dan memiliki anak dari selir itu. Apalagi, jika Ratunya adalah aku. Perempuan tidak sempurna karna tak bisa memiliki anak, tidak bisa memberikan keturunan dan pewaris pada kerajaan ini. Aku harus berlapang dada, membiarkan Raja memiliki banyak anak dengan selir lainnya. Karna aku sendiri tak mampu memberinya pewaris. Bahkan, saat dia masih menjadikan ku Ratu dengan segala kekurangan ku, aku saja masih bersyukur. " Terang Ratu. Tak terasa ternyata sudah banyak tetesan air mata yang jatuh.
Tentu itu luka berat. Bagi seorang perempuan, tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya. Itu pasti hal yang sangat menyakitkan. Menyayat hati.
"Ibu Ratu, Jangan bicara seperti itu. Yang mulia Raja juga sangat mencintai Anda. Itulah mengapa anda di jadikan Ratu selama bertahun - tahun. " Iba Reva, ia memeluk ibu mertua nya. Meski tak kandung.
"Reva, Anak ku. Aku akan mendoakan mu. Agar kejadian padaku, tak terjadi padamu. Dan, Semoga kau bahagia. Lapangkan dadamu. Alden akan memiliki selir dan anak dari mereka. " peringat Ratu lagi. Memeluk Reva. Kini Reva juga tak bisa menahan isak tangisnya. Membayangkan suaminya yang di cintai akan memiliki selir dan anak dari selir itu? Reva tak setabah itu.
"Ibu Ratu, Apa tidak ada kemungkinan untuk Alden tak memiliki selir?"
__ADS_1
"Tidak ada nak. Itu sudah menjadi kebiasaan pada Kerajaan Flawyard. Semakin banyak selir, semakin tampak berkuasa lah sang Raja. Apalagi jika Selir nya berasal dari Bangsawan atau putri kerajaan lain. "
***