
***
Hangat nya sinar mentari menembus dari sela sela bangunan. Menandakan sudah saatnya aktivitas di mulai. Namun, dua insan ini masih saja tertidur saling memeluk.
"ehmmm... Erhhhh" erangan Reva serta beberapa gerakan tubuh nya yang menggeliat lembut, sukses mambangunkan Alden yang ada di samping nya. Perlahan pria gagah itu membuka matanya, senang rasa hatinya mendapati istrinya memeluk nya dengan erat. Senyuman kecil terlintas di wajah Alden.
"Selamat pagi.. " katanya, sambil mengecup lembut kening istrinya itu. Serasa kaku wajah nya saat memakai topeng yang setengah wajah itu semalaman. Ingin rasanya ia membuka topeng nya namun, dia dikejutkan oleh istrinya yang baru saja terbangun.
"Kau?!! Apa yang kau lakukan di sini?!! " teriak Reva menyadari tubuhnya masih di peluk erat Alden, tangan Reva sendiri masih setia menyentuh dada bidang milik Alden.
"aishh.. Dasar... Aku ini suamimu, apa yang salah jika aku tidur bersama mu?? " tanya Alden manaikkan sebelah alisnya.
Kembali Reva mengingat kenangan kemarin malam, untuk memastikan apa yang terjadi, sekedar jaga jaga, kalau tadi malam terjadi hal yang tidak wajar. Hal yang tidak wajar apa yang bisa terjadi antara Satu wanita dan pria yang sudah menikah. Bukan kah, wajar saja bila mereka melakukan hal itu??
"Fyuhhhhh" helaan nya terdengar sangat melegakan. Menyadari dirinya dan Alden, kemarin malam tidak melakukan hal apapun selain berpelukan untuk sekedar mengahangatkan.
"Kenapa kau menghela nafas?? "
"karna aku ingin"
"hei... Lakukan tugas mu sebagai seorang istri" kata Alden. ( Ntahlah apa maksudnya. Author yang polos dan lugu ini tak mengerti apapunš¶)
"apa yang salah?? Aku istrinya dan dia suami ku? Dia meminta hal itu bukan nya wajar? Tapi, kenapa aku merasa rugi?? " batin nya masih diam tak bergeming menatap suaminya yang sangat ini terlihat sangat menggoda, dengan tatapan aneh nya.
"masih berfikir?? " tanya Alden sudah berusaha keras untuk tetap bersabar.
"sebentar... Aku masih memikirkan untung rugi nya" kata Reva, dengan raut wajah serius. " bagaimana pun juga aku adalah seorang presdir. Menghitung untung dan rugi adalah hal wajar untuk ku" tambah nya di dalam hati.
Melihat wajah gagu seriusnya Reva, Alden merasa geli sendiri.
__ADS_1
"aish... Bagaimana begini saja? Dua ciuman pagi ini di tukar dengan sesuatu yang sangat berharga bagaimana?? " usul Alden sudah sangat tak tahan melihat wajah istrinya ini.
"menarik.. Akan ku pikir--"
"empphh!! " ucapan Reva terpotong terganti dengan suara lirih desahan Reva. Saat ini Alden sudah menguasai Reva.
(Terpotong. Hehe)
"hmph!! Apa sesuatu yang sangat berharga itu??! " tanya Reva membersihkan sisa air di sekitar bibirnya.
"oh itu... Ini dia!! " balas Alden membuka topeng nya perlahan. Tampak wajah tampan incaran setiap gadis di sana. Mata yang tajam melambangkan kebijaksanaan, alis yang panjang dan tebal, hidung yang mancunng. Sangat bagus untuk memperbaiki keturunan. Reva bingung ia ingin terkejut atau tidak. Pasalnya dulu dia pernah baca Novel, yang pemeran utamanya pura - pura cacat. Eh, taunya cuma bohongan. Sudah sangat tertebak oleh Reva, bahwa Alden hanya berpura - pura. Namun, di sisi lain, Reva mencoba berfikir logis. Sebenarnya di mana Alden berobat?? Apakah kemampuan medis zaman ini memang hebat?? . Pikiran itulah yang terus berputar dalam otak nya. Tapi yang jelas, Reva tertegun akan ketampanan yang Alden miliki.
"kenapa melamun?? Karna aku terlalu tampan kah?? " tanya Alden dengan pd nya.
"aku kasih tau ke kamu, wajah kamu lebih enak di pandang kalo lagi pake topeng" ketus Reva kesal berjalan ingin mandi. Lengket rasa tubuhnya di tambah dengan wanginya dan wangi Alden yang bercampur.
"heh... Begitukah?? " tanya nya yang langsung bergerak cepat menggendong tubuh mungil Reva ala pengantin.
Tapi ini juga bukan salah Reva, bagaimana mungkin dia tak terkejut saat mendapati suaminya yang lumpuh, yang minta di papah kemarin malam seperti orang lemah. Kini, mengangkatnya dan menyerang nya bagaikan suami yang perkasa.
***
"tch... Sial!! Aku tertipu!! Aku kira dengan menikahi pangeram cacat dan bodoh ini, aku bisa bermain intrik sepuasnya!! " batin Reva geram.
"Nyonya?? Ada apa dengan anda?? Bukan kah pangeran telah kembali?? Kenapa memasang raut wajah seperti itu??" tanya Aila mencoba meledek, tentu saja dengan kemampuan otak Aila, dia pasti sudah mengerti apa yang terjadi kemarin malam.
"meledek ku? Kekurangan tugas??!! " lirik Reva dengan aura membunuh. "apa ada perkembangan terbaru soal pendekar hitam?? " tambah nya menatap Aila penuh selidik.
"sayang sekali tidak ada nona, tapi informasi terbaru. Kemarin malam, dia datang di Bar kita. Dan dia sama sekali tidak takjub dengan ke unikan yang ada di Bar kita. Seperti sudah biasa melihat hal ini. Padahal Bar yang nona buat ini sangat unik dan khusus"
__ADS_1
"kau mencoba mengikuti nya?? "
"Tidak takjub?? Seperti sudah biasa?? Hehe.. Mengenali ku sebagai TyaReva Atmaja? Huh.. Mungkinkah dia dan aku sama?? Sedang mengelanai dunia aneh ini? Eh lebih tepatnya sedang terdampar" batin Reva menyahuti.
"aku masih waras nona, ilmu mya begitu tinggi. Soal bertarung, meski aku mati dia juga hanya akan sekarat selama beberapa tahun. Dengan kata lain, mengikutinya sama dengan menghantarkan nyawa. Aku tidak bodoh, kalau nona mau. Nona saja yang mengejarnya!! "
"setidak nya kau tak terlalu bodoh~"
Seperti biasa pagi itu Aila selalu melaporkan kejadian apapun di Bar, dan informasi terbaru yang ada. Di tempat yang sama. Selalu di sebuah Rumah kecil, di pinggir kolam Teratai, kediaman pangeran ke empat.
Setelah kejadian tadi pagi yang cukup menjengkelkan bagi Reva sendiri, menenangkan dirinya di pinggir kolam ini adalah hal yang terbaik. Sedangkan Alden, ia pergi mendiskusikan beberapa hal dengan para pengawal nya. Tentu saja, masih berakting seperti orang yang menyedihkan dengan topeng yang menutupi luka bakar nya, dan kursi khusus yang menuntun nya.
Suara obrolan ringan terdengar nyaring dari tempat yang tak begitu jauh. Ternyata sudah ada Alden, dan dua pengawalnya Devan dan Ferry. Beserta wanita paruh baya itu bibi Ayana.
Tatapan mata Alden terus tertuju pada Reva, Reva banya bisa memalingkan wajah nya. Berharap Alden tak melihat nya. Wajahnya merah merona tersipu malu, saat ingatan tadi pagi melintas di pikiran nya.
"hehe.. Sepertinya tadi malam terjadi hal yang sangat seru yah nyonya.. Bahkan mungkin lebih dari perkiraan ku" ledem Aila nada menggoda..
"Di diam lah.. Ka.. Kau.. Ini.. Bocah sialan!! " ucap Reva gagu terbata.
"oh yah? Lalu kenapa wajah nona merah merona tersipu malu? Haha"
"oh? Wajah siapa yang merah merona dan tersipu malu?? " tanya Alden yang baru datang.
***
Ayoo like, komen ans vote
Jangan lupa follow yah
__ADS_1
Banyakin komen, biar author makin semangat!!