Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Dua


__ADS_3

***


"tunggu...Kau bilang apa Aila?! Kau juga memiliki tato yang sama?!! " pekik Reva.


"Benar nyonya,  ini dia.. Tato mawar hitam yang berada di bahu "


Apa ini?!  Tato mawar ini, Dafa dan Aila juga memilikinya?!!  Bedanya,  milik ku berwarna biru sedangkan mereka berwarna hitam?! Apa maksud ini semua?!!!


"apa dibagian itu sering terasa sakit?"


"Tidak nyonya,  aku tak pernah merasa kan sakit di bagian ini. lebih tepatnya aku merasa memiliki kekuatan ekstra karna nya"


"huh.... " Reva menarik napas panjang.  "Baguslah" tambah nya sangat lega bahwa Dafa dan Aila tidak merasakan sakit mendalam yang dialaminya.


"maksud nyonya apa? "


"Aila,  apa kau tahu?  Aku juga memiliki tato yang sama di bahu ku,  namun milikku berwarna biru,  bukan hitam"


"Sama?!  Apa ini aneh sekali?!  Kenapa bisa sama! "


"itu dia masalah nya. Tugas mu lah mencari--" ucapan Reva terputus saat Seira berlari tergesa - gesa ke kamarnya. Napasnya tersengal tak beraturan,  wajahnya kini di penuhi keringat. Masih ngos - ngosan napasnya.


"hei Seira,  nyonya Reva sedang berbicara,  kau memotong nya.  Dimana etika mu?? " cibir Aila kesal.


"ssshh.. Diam,  ini..aku ada berita tentang tato mawar yang ada di pundak nyonya dan Kau Aila.. Huh.. Huh.. " ucap nya sesekali terbata karna napas nya masih belum normal.


"apa maksud mu?! " pekik Reva.


***


"pangeran Alden!  Samping kiri! " terika Devan.  TRANKK!!  fokusnya terbagi antara memperhatikan pangeran yang tengah di keroyok tiga orang. Dan juga musuh serba hitam yang tengah beradu tanding dengan nya.


Malam ini,  Pangeran Alden secara tiba - tiba mendapat serangan dari lima orang berpakaian serba hitam.  Tepat saat mereka jalan kembali pulang ke kediaman.


"Kalian cecunguk sialan!!  Menyingkirlah!! " pekik Ferry menebaskan Pedang panjang nya dengan sangat baik,  namun sang pria serba hitam itu mampu mengahindarinya dan menghalau beberapa jurus yang datang berikutnya.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh kalian?! " pekik Alden yang sudah meletakkan pedang nya di leher salah satu orang itu. Sudah tak ada jarak lagi antara bagian tajam pedang Alden,  dan leher yang berbalut kain hitam itu.  Bahkan,  dapat terlihat sedikit noda darah di kain hitam itu. Setelah diancam seperti itu pun dia masih diam. Dia tak takut Alden akan memenggal kepalanya,  yang terpenting informasi apapun tak ada yang bocor.


"Wah... Bagus juga nyali kalian semua" sambar Devan yang sudah membuat lawan di hadapan nya jatuh tertunduk. Satu orang ada di tangan Alden,  sedangkan empat orang lain nya terbaring dan tertunduk tak berdaya.  Mereka sudah kehabisan tenaga. Hanya bisa menatap sakit teman nya yang sudah di genggaman Alden. Was - was bila akan melihat kepala dan tubuhnya terpisah.


"Masih tak ingin menjawab?!!!"


"Ternyata dugaan pimpinan kami benar,  bahwa kau hanya berpura - pura lumpuh.  He.. Informasi ini saja sudah cukup untuk malam ini" sambung pria berjubah merah yang baru datang, pandangan Alden dan yang lainnya terarah lekat padanya.  Tak ingin melewatkan kesempatan ini,  Lima penjahat yang sebelumnya nya ingin kabur. Bergegas cepat. Namun,  dengan sigap Alden menarik salah satu nya,  mengakibatkan pakaian nya robek tepat di bagian punggung.


"Tato mawar hitam?!! " desis Devan,  menatap sangat sinis ke arah orang yang sudah tak ada lagi,  bahkan jejaknya sekali pun.


"urusan dengan bangsa Rambell saja belum selesai.  Kini bangsa Netcher sudah muncul kembali .  Benar - benar kesialan!! " sambar Ferry.


"hilang secara tiba - tiba,  dan kembali juga tiba - tiba.  Apa memiliki maksud tertentu! Tapi apa itu?!! " tambah Devan lagi.


"Dua puluh tahun yang lalu,  bangsa Rambell bersama tiga negara besar bekerja sama untuk memusnahkan bangsa Netcher. Hingga akhirnya bangsa Netcher punah.  Sekarang kembali lagi,  tentunya untuk membalas dendam!! " kata Alden. "tingkatkan keamanan terhadap kediaman ku! Aku tak ingin permaisuriku berada dalam bahaya!! "


"Pangeran, apa benar anda tulus mencintai putri Reva, bukan kah anda menikahinya karna butuh dukungan dari perdana mentri" sahut Ferry.


"Apa itu cinta? Apa cinta itu yang merasakan sakit saat perempuan nya bersedih? Apakah cinta itu juga, saat jantung mu berdegub kencang jika bersamanya? Apa kau akan merasa sangat senang bila bersama nya? Apa jika dia hilang dari pandangan mu kau akan selalu merasa gusar? Apa jika dia berbicara dengan pria lain kau merasa terbakar? Apa itu, cinta? " Alden kini lekat menatap Ferry.


***


"iyah nyonya begitulah kisah nya, dari informasi yang saya dapatkan, bangsa Rambell yang dikenal bangsa Iblis bekerja sama dengan tiga negara besar untuk memusnahkan bangsa Netcher. Tanda di punggung kalian adalah ciri khusus bangsa Netcher. Mawar hitam! tapi... Milik nyonya berwarna biru. Tidak tahu apa maksudnya " jelas Seira, ia tentu saja mudah mencari tahu cerita Dua puluh tahun yang lalu itu. Dia adalah murid salah satu perguruan ternama.


"itu artinya kami harus menyembunyikan tanda ini dari siapapun??? "


"aku rasa lebih aman begitu Aila. Lebih baik semubunyikan saja dulu . Tapi nyonya... Tanda itu? Apa pangeran Alden belum tahu?! Apa kalian--"


"Diam! " ketus Reva. Ia menatap Dafa yang tengah terbaring imut.


Anak ini? Apa ayahnya orang bangsa Netcher?


"Tiga negara besar itu, negara mana?? " tanya Aila, ada rasa dendam muncul di hatinya. Saat mengetahui dua puluh tahun lalu bangsa nya di habisi secara keji.


"Negara kita Flawyard, Leezhart, Aittarth"

__ADS_1


"lalu, bangsa Rambell bangsa seperti apa?? " tanya Reva kemudian.


"Bangsa Rambell dikenal juga dengan bangsa iblis nyonya. Mereka memilik tanda aneh di lengan nya. Kadang bentuk mereka juga menjijikan. Akhir - akhir ini, hamba dengar di negara bagian utara kita sudah beberapa kali du serang bangsa Rambell yang menculik anak - anak"


"Pertama, aku akan mencari tahu tentang bangsa Netcher lebih dulu. Menurut nyonya bagaimana?? "


"aku setuju dengan mu Aila... Lakukan secepatnya. Kalian berdua pergilah dan tetap bersikap santai... "


"baik nyonya... Kami undur diri"


Masalah dengan Zefan belum selesai. Di tambah lagi dengan mencari adik ku. Sekarang kemunculan bangsa Netcher. Apa tidak bisakah memeberiku sedikit waktu senggang bermain dengan putra ku!!!


***


Alden bangkit dari kursi khususnya saat tak ada orang di sekitarnya. Di langkah kan kakinya menuju kamar Reva, ia menatap lekat - lekat Reva yang tengah memeluk bocah empat tahun itu. Keduanya terlihat sangat manis dan penurut di saat tidur. Namun, bila terbangun. Aish...


Apa jika aku memeluk kalian berdua begini? Maka, kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia??


Batin nya, yang kini sudah terbaring di samping Dafa. Memeluk Dafa bersamaan dengan Reva. Matanya masih sangat lekat menatap wajah imut Reva dengan mata tertutupnya. Alis yang tebal dan rapi, dan bibir yang tipis yang selalu menjadi tempat gusar nya Alden.


Baiklah.. Tidak untuk malam ini


Batin nya lagi. Ia mengalihkan pandangan nya pada Dafa, sesaat kemudian sudah ikut memejam kan nya.


Sepertinya aku bisa melepas ambisi ku menjadi Raja. Asal kau, Dafa, dan anak kita lain nya nanti di sisiku. Yah benar... Yang terpenting adalah kau Reva. Hanya sebuah kerajaan tua, tak kan sebanding dengan permaisuri ku ini.


***


Aiyooo


Apa pendek? maaf...rencana nya si Author gak up karna masih olimpiade.. Tapi demi Readers tercinta.. Akh i love you.


Thanks buat kaka @Nona Novia yang udah vote banyak banget hehe... Yang lain di tungguin loh yah Vote nya.


Makasih banget... Terus dukung Rini Ir yah.. Hehe

__ADS_1


__ADS_2