Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
06. Alden dan Reva


__ADS_3

***


Takdir apa yang aku terima? Mawar biru? Apa Maksud semua ini? Dewi?


Batin Reva, ia terbangun di tengah malam itu. Kepalanya tak bisa beristirahat dengan tenang. Saat Semua masalah datang dan menumpuk.


Lalu Dafa? Apa maksud nya? Apa dampak dari dua tanda dalam satu tubuh?


Lanjutnya. Ia ingin melangkah menuju kamar Dafa. Yah Dafa dan Reva tidur terpisah Akhir - akhir ini. Itu karna Alden yang merengek ingin tidur hanya berdua dengan Reva.


"Apa kau ingin meninggalkan ku? Permaisuri tercintaku? " Suara dengan nada lembut. Sembari menahan tangan mungil Reva.


Reva menoleh, sudah Ada Alden yang tidak memakai topeng nya. Terlihat sangat tampan dan menawan, menggetarkan hati gadis manapun.


"Aku khawatir pada Dafa. Aku ingin melihatnya. Entah lah, aku merasa tidak tenang. " Sahut Reva, ia kembali duduk di dekat Alden.


"Sudah ku katakan. Dafa akan baik - baik saja. Dia putra kita. Putra nya Alden dan Reva. Apa yang bisa terjadi padanya sayang? " Alden mengusap lembut rambut Reva, menyibakkan beberapa helai rambutnya. Di lanjut kan dengan Alden yang mendarat kan satu kecupan di kening Reva.


Meski dalam hati, Alden memang khawatir akan keadaan Dafa. Tapi, tak mungkin kan Alden akan mengatakan nya pada Reva?


"Tapi aku khawatir. Aku takut, di tambah aku tak memiliki kekuatan apapun sekarang. "


"Kau tak punya, tapi aku punya. Aku yang akan lindungi kalian. Aku berjanji. " Alden mencium pipi kanan dan kiri Reva.


"Tapi, Aku tetap tidak tenang.. "


"Bagaimana jika Dafa ketakutan? Dan terjadi sesuatu? "


"Baiklah, Bagaiaman jika kita ke Mansion Ksatria murni. Menemui kakek ku Arsan. Yah, dia pimpinan bangsa Ksatria Murni. Kita akan tanyakan padanya. Mungkin saja dia tau sesuatu. "


"Benarkah?! Baiklah, aku setuju. Kita akan kesana besok. Tunda kepulangan kita ke Istana. Kita ke Mansion itu dulu. Alden, katakan iyah. "


Alden hanya diam, ia mengangguk pasti, sembari menatap bibir tipis Reva.


"Reva, Aku ingin kita memiliki Anak kandung. Kau tau kan, Aku sangat menyayangi Anak - anak?" Seru Alden menatap makna Reva. Ia perlahan mendekat ke wajah Reva.

__ADS_1


"Aku takut. Jika kita memiliki anak sendiri nantinya. Kau tak akan menyayangi Dafa. Berjanjilah bahwa kau akan sangat menyayangi Dafa. Sama seperti kau menyayangi anak kita kelak?? "


"Aku mencintai Dafa, dia putra ku. Tak akan ada yang bisa memisahkan hubungan Ayah dan Anak kami. "


Reva terdiam. Matanya yang tertunduk terangkat menatap lembut retina Alden..


"Hemm... " Reva mengangguk pasti.


Aku sangat menyukai anak - anak sejak dulu. Dan sekarang, aku akan ??


Batin Reva, wajah nya memerah tersipu malu.


Alden sendiri tersenyum puas, sangat puas. Ia meraih tengkuk istri kesayangan nya itu. Mendaratkan satu kecupan yang tak kan terlupakan.


Dengan lembut Alden membanting tubuh Reva, dengan dirinya ada diatasnya. Mengurung badan mungil Reva.


Reva Aku mencintai mu...


Alden aku sangat mencintai mu...


***


Sial karna kemarin malam, aku bangun kesiangan. Dan sekarang, badan ku terasa cukup sakit. Tapi, Hemmm


Umpat Reva, ia tersenyum setelah nya setelah membatin kan kalimat terakhir.


Jika bukan karna bangun ku yang terlalu siang. Kami harusnya sudah sampai di sungai dan beristirahat di sana.


Lanjut Reva. Yah karna kegiatan yang mereka lakukan kemarin malam, mengakibatkan tertunda nya kepergian mereka kali ini.


Reva melihat Alden dan Dafa sekilas, yah mereka ada di satu kereta yang sama. Seperti keluarga kecil yang hangat, kan?


Sial!! Kenapa aku merasa tertagih untuk melakukan nya lagi dan lagi! Bahkan tak peduli tempat!!!


Umpat Alden, saat ia merasa bahwa dirinya tengah di penuhi birahi nafsu, menatap Reva yang begitu cantik dengan rambut nya yang tergerai.

__ADS_1


Dan kenapa bocah ini ada di sini? Aku harus mengeluarkan nya dari kereta ini, jika dia ingin memiliki adik cepat.


Mata Alden tertuju pada Dafa yang tengah bermain dengan pedang kayu nya.


"Dafa, apa kah kau tak ingin mencoba manaiki kuda? Bersama paman Ferry? " tanya Alden merayu Dafa.


"Eh menaiki kuda? Boleh kah Ayah? " tanya Dafa antusias. Dafa hanya bocah kecil yang polos, yang bahkan tak mengetahui apapun, termasuk rencana Alden mengeluarkan nya dari Kereta.


Apa rencana Alden? Apa ada kaitan nya dengan kedua tanda dalam satu tubuh Dafa?


Batin Reva, merasa aneh dengan gelagat suaminya. Namun, Reva hanya berpikir itu semua untuk kebaikan Dafa, tanpa curiga dengan rencana Alden yang sesungguhnya.


"Tentu boleh. "


"Bunda, boleh kah Daga menaiki kuda bersama paman Ferry? " kini mata Dafa teralih ke arah Reva. Reva yang mengira ini semua demi kebaikan Dafa hanya bisa mengangguk sembari tersenyum hangat.


Alden tersenyum puas akan anggukan Reva. Sejauh ini rencananya berjalan lancar.


"Ferry!!! " panggil Alden. Ferry datang dan menunduk sopan, pada Alden dan Reva.


"Dafa ingin menaiki kuda, bawa dia. Dan perlahan, hati - hati. Jangan sampai Dafa anak ku terluka sedikitpun. " peringat Alden, memberikan Dafa pada Ferry di luar kereta.


Ferry mengambil Dafa yang tersenyum antusias, ia sangat tak sabar menaiki kudanya.


Alden segera menutup pintu kereta dan tirai jendela sebelumnya.


"Alden apa ini?? "


"Aku mencintai mu Reva"


Tanpa di sangka atau di duga Alden sudah meraih bibir istrinya. Mengurungnya dalam pelukan dada bidang nya.


(Skippp. Author polos, Alden gak ada Akhlak. Wkwk 😂😂)


***

__ADS_1


Nexttt??


__ADS_2