
***
"Ahhh.. Kenapa pura - pura tidak tau? Bukan kah tadi kita bertemu di Goa itu? Nona jubah Merah? " Sinis Alden, menatap intens mata Reva, dengan senyum menyeringai yang begitu mengerikan.
Alden tau? Dia tau itu aku?!
Batin Reva tercengang. Ia menatap Serius Alden yang ada di hadapan nya, sekilas Pria di hadapan nya ini terlihat bukan seperti Alden yang biasanya.
"Kau tau? Makanya itu membiarkan aku keluar hidup - hidup?! Haha pantas saja, aki heran. Bagaimana mungkin kau bisa melepas begitu saja orang yang sudah mengetahui Markas Rahasia mu " sahut Reva masih mencoba tetap tenang.
"Baiklah, Lupakan lah soal Markas Rahasia itu. Ada hal yang lebih penting yang harus aku bicarakan"
"Katakan lah, dan aku harap itu hal yang menarik"
"Hehe.. Dari mana kau belajar bela diri. Yah, meskipun mereka adalah bangsa Rambell kelas bawah. Tetap saja mereka adalah bangsa Rambell. Tak kan bisa semudah itu untuk membunuh nya, apalagi untuk perempuan seperti mu "
"Dari mana aku belajar itu tidak lah penting. Dan bagaimana aku bisa mengalahkan mereka itu juga tidak penting. Yang terpenting sekarang, adalah.. Pangeran Alden harus merencanakan dengan matang. Takut nya nanti kita tidak bisa menang loh"
"Kau tidak perlu khawatir, Tapi...mulai sekarang aku akan lebih ketat Untuk mengawasi mu"
"Terima kasih untuk kehormatan itu. Ngomong - ngomong, kapan itu akan di mulai? "
"Dalam Empat hari lagi. Untuk itu, aku butuh istirahat dan tidur yang cukup. Dan tugas mu sebagai permaisuri ku, temani aku tidur"
Reva memutar bola matanya dengan jengah. Kini kedua insan itu sudah berbaring, saling memghangatkan.
Dalam empat hari lagi, Peperangan akan di mulai. Entah lah, tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aku merasa sesak.
Batin Reva, menatap langit - langit hampa.
***
__ADS_1
"Riekai, apa hubungan mu dengan Reva? " tanya Ryuza yang masih mengendarai kuda nya, dengan Kai yang di sebelah nya juga mengendarai kuda.
"sebelum aku tau dia adalah sepupu ku. Aku adalah bawahan nya" sahut Kai santai.
"Bawahan?! Bagaimana mungkin?! " pekik Ryuza.
"Anggap saja dia pernah menolong ku dulu. Lalu aku menjadi bawahan nya untuk mengabdi pada nya "
"Jadi begitu, aku mengerti "
"Kau sendiri? Bagaimana bisa menyandang nama Bangsawan Arthaft, sedangkan darah Bangsawan Arthaft tidak mengalir pada mu? "
Pertanyaan Frontal ini sukses membuat Riekai mendapat tatapan sinis Dari Reyza yang berada tak jauh dari mereka.
"Sudah lah Reyza. Dia sepupu kita, dia berhak tau. Aku menjadi bangsawan Arthaft, karna Putri sulung keluarga Arthaft. Arriva Arthaft mengadopsi aku. Dan Berkat Reva kecil pula lah, aku di izinkan masuk ke keluarga Arthaft"
"Haha, jadi begitu yah, hanya garks besar. Tidak keterangan rinci. Menarik" sahut Kai, tentu ia masih penasaran dengan masa lalu Ryuza.
"Tiga hari lagi" sahut Reyza dingin.
***
"Aila, Seira, Aruna, apa kalian siap?! " tanya Reva setelah ia menjelaskan situasi untuk empat hari yang akan datang.
"Kami siap Putri! " sahut mereka bertiga bersamaan.
"Prioritas kan keselamatan Dafa! Tugas menjaga Dafa, aku serahkan pada Aila. Aruna tetap di bagian medis. Dan Aku beserta Aila, akan maju ke Medan tempur" jelas Reva lagi, memperjelas rencana nya.
"Tapi. Nona... " sanggah Seira. Tentu ia merasa khawatir, bagaimana bisa Nona nya yang sedari kecil tidak bisa bela diri, ingin maju ke Garis Depan perang.
"Bagaimana jika Putri ikut aku ke bagian medis? " tawar Aruna yang sama khawatir nya dengan Seira.
__ADS_1
"Aku tak suka pembangkang!" titah Reva, dingin. Secara spontan Aruna dan Seira tertunduk patuh.
***
Dua hari kemudian, persiapam yanh Reva dan Aila buat semakin matang. Mereka sudah merencankan banyak hal, khusus nya pelarian untuk Dafa dan Seira.
"Nona Presdir ku, Aku sudah mengecek Benteng perbatasan ini, seperti nya tak ada tanda - tanda mereka akan melakukan penyerangan" lapor Aila pada Reva yang masih menulis seusatu. Entah apa sebenarnya yang Reva tulis.
"Maksud mu? " sahut Reva mendongak ke arah Aila yang sudah berdiri di hadapan nya.
"Maksud ku nona.. Mungkin, Penyerangan kita yang lebih dulu untuk Dua hari ke depan akan lancar. Karna kelihatan nya mereka tidak ada pergerakan sama sekali"
"Tidak ada pergerakan? Tidak mungkin. Jika tidak ada Persiapan dari dalam Benteng perbatasan. Cek di luar benteng Perbatasan, khsusus nya daerah Barat"
"Ada apa sebenarnya Nona? "
"entah lah, aku merasa ada yang tidak beres. Khusus nya aku merasa hawa aneh darj sebelah Barat"
"Tunggu--apa maksud nya?! "
Dua hari lagi, yah Dua hari lagi perang akan di mulai. Tapi, kenapa Rasa sakit di bahu ini tiba - tiba muncul sekarang
Batin Reva yang sudah memegangi Bahu nya yang terasa nyeri.
"Nona ada apa? " tanya Aila merasa Aneh sendiri.
Jlebbbb!!
Sebuah anak panah entah dari mana asal nya hampir mengenai Tubuh Aila yang hilang konsentrasi. Dengan sigap Reva menahan Anak panah nya.
"Kita di Serang!! Ada banyak pasukan Bangsa Rambell datang dari Arah Barat!!! " teriak seorang Prajurit yang bertugas mengawasi keadaan dari tempat yang paling tinggi.
__ADS_1
***