
***
Aku mencintaimu Alden...
Dan kenapa kita harus berakhir seperti ini?
Akan kah kau juga merindukan ku?
Batin Reva, tangis nya semakin pecah sudah.
Aku mencintaimu Reva,
Mungkin kah kau juga merasakan hal yang sama?! Tenang, lah... Aku pasti akan membawa mu kembali. Ini janji ku! Janji Alden Kertlan!!
Batin Alden menatap Bulan dari Jendela Kamar nya, rasa sedih itu kian memuncak. Tatkala ia baru mengingat, bagaimana Reva mencium nya saat perang itu terjadi.
Senyuman bersama dengan wajah sedih nya bercampur aduk di wajah nya.
"Pangeran... " panggil Ferry mengacaukan lamunan Alden.
"Yah" sahut Alden menoleh ke arah Ferry.
"Banyak dari Prajurit kita yang sudah siap perang" lapor Ferry.
"Baguslah, bersiap lah.. Dua Jam lagi kita akan segera menyerang Markas Rambell. Lebih cepat lebih baik! " titah Alden.
"Baik pangeran.. Akan saya persiap kan. kita akan segera menyerang mereka." Sahut Ferry, ia segera pergi melaksanakan Titah Tuan nya.
"Afesan? Bagaimana menurut mu? Apakah kita bisa menang? " Tanya Alden. Pada siapa? Dia seorang diri di ruangan itu. Ferry telah pergi.
"Jika yang memimpin perang adalah Tuan, maka semuanya akan lancar. Kita pasti akan menang." Sahut seseorang entah lah, suara itu ada di sana.
"Bagus. Kita harus lebih cepat. Oh yah Afesan. Apa kau sudah menemukan ibunda ku? "
"Belum tuan, mungkin saya bisa menemukan nya jika anda sudah berhasil membangkit kan saya menjadi Naga Merah Sepenuh nya dengan kekuatan semaksimal mungkin"
__ADS_1
"Siapa sebenarnya yang menyegel kalian? "
"Dewi Tariva Arthaft. Dewi kelautan, penguasa Lautan. Pendekar phoenix Legenda. Dia yang menyegel kami bertiga. Guna menciptakan Kedamaian di Kerajaan Flawyard"
"itu artinya, Reva adalah pemilik Phoenix Legenda. Dan dia belum berhasil membangkit kan nya sepenuh nya? Dalam Wujud Fisik"
"Benar tuan. Seperti nya itu kali pertama nya ia membangkitkan bayangan Phoenix legenda. Aku merasakan Aura nya masih sangat kaku. sangat acak dan tidak beraturan. Dia belum bisa menguasai nya sepenuh nya seperti Tuan"
"Apakah Reva bisa membangkitkan Wujud Fisik Phoenix Legenda Sepenuh nya? Apakah dia juga akan merasakan sakit yang sama? " tanya Alden, dia tentu tau jelas rasa sakit apa yang di maksud. Karna Alden sendiri juga merasakan nya.
"Maksud anda Rasa sakit--?"
"Benar, seperti aku yang selalu merasa sakit di bagian tanda ku. Tanda bukti di balik telinga, bahwa aku adalah keturunan Bangsawan Cadris. Keturunan Bangsa Ksatria Murni! "
"Seperti nya memang begitu Tuan.. Ini adalah efek segel dari Dewi Tariva. Tidak ada yang tau bagaimana cara membangkit kan kami sepenuh nya, tanpa rasa sakit menghujam itu"
"Reva... Mengapa harus kau? Kenapa harus kau yang merasakan rasa sakit itu? Haha.. Harus nya aku menyadari nya lebih cepat" lirih Alden.
"Tuan, akan kah anda tetap mencintai Reva? "
"lalu, bagaimana kalau dia membenci anda? "
"Kebencian nya akan kalah dengan cinta ku yang luar biasa! " ucap Alden merasa begitu yakin.
"Semoga itu berhasil. Saya akan setia mendampingi anda tuan. Menyetujui setiap keputusan Tuan. Apapun itu"
"haha, bagus Artefan. Kau Fokuslah pada Rencana kita itu. Rencana itu amat sangat penting bagi kita"
"Baiklah, saya akan lebih fokus "
Reva.. Aku.. Akan membawa mu pulang..
Batin Alden, matanya nanar menatap bulan di atas sana. Yang menggantung indah. Menyaksikan kedua insan yang saling berjauhan menggemakan kalimat indah tentang cinta.
***
__ADS_1
Wushhhh
Sebuah angin kencang menerpa wajah cantik Reva. Rambut nya berkibar seketika.
"Alden, memanggil ku? " lirih Reva. Entah lah ia merasa angin barusan itu sedang membawa pesan dari Alden. Pesan kerinduan yang dapat Reva rasakan.
"inikah yang di sebut LDR?" batin nya lagi. Malam ini ia melupakan semua masalah nya. Hanya Alden yang sedari tadi ada di pikiran nya.
"Bunda... " lirih Dafa, ia mengucek pelan matanya khas orang baru bangun tidur.
"Sayang.. Orang bangun di pagi hari. Kenapa kau bangun di malam hari? " Tanya Reva, menghampiri putra kecil kesayangan nya itu.
"Bunda, aku bermimpi buruk. Aku melihat banyak sekali orang saling membunuh" Ucap Dafa sangat polos.
Mimpi buruk? Orang saling membunuh?! Seperti kilatan ingatan itu?! Kenangan bangsa Rambell dan Pasukan Kerajaan Flawyard yang ingin membantai Bangsa Netcher?
Batin Reva memeluk tubuh mungil Dafa.
"Hanya mimpi buruk. Jangan di pikirkan sayang" ucap Reva mencoba menenangkan nya.
"Bunda kita dimana? Ini seperti bukan banteng Perbatasan? Dan dimana Ayah? " tanya Dafa celingak celinguk mencari di mana sosok Ayah nya itu. Namun ia sama sekali tak melihat keberadaan Ayah nya.
"Ayah sedang berperang. Dan kita sedang di asingkan. Jauh dari perang"
"Apa Ayah akan selamat Bunda? Apa ayah akan kembali? Ayah akan menjemput kita kan Bunda? " Tanya Dafa beruntun. Reva diam, ia sangat bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan putra sulung nya ini.
***
Up lagiii...
Author up lagii. Hehe
Silah tinggal jejak yah.
Ceritanya Rumit yah? '-'
__ADS_1