
***
"Tentu saja Mampu. Kalian semua harus menunduk, dan menyerah pada ku. Jika tidak ingin Bocah ini kehilangan nyawa nya. Bawa dia!! " titah Tumon.. Tampak prajurit Sudah menggendong Dafa yang pingsan. Di ikuti Aila dan Seira yang terikat.
"DAFA!!!"
Teriak Reva Prustasi. Ia sangat terkejut. Begitu juga Alden dan yang lain nya.
"Haha! Bagaimana? Kalian masih berani melawan ku? Tak masalah, jika kalian ingin melihat Kepala bocah ini terpisah dari Badan nya" Ucap Jendral Tumon begitu angkuh. Menatap Menang ke arah Alden.
"Dafa! Jangan sakiti Putraku!!" Teriak Reva lagi, jauh lebih prustasi. Ia gemetar mendengar ancaman yang di lontarkan Tumon. Kali nya lemas, membuat nya jatuh Terduduk.
"Reva! " seru Alden, langsung menangkap Reva di dalam pelukan nya.
"Alden! Dafa, dia--"
"Tenang, Dafa tak akan terluka. Dia anak kita, aku akan melindungi nya. Kau dan Dafa" Ujar Alden mencoba menenangkan nya. Menenangkan Reva yang sudah kalut.
Dengar! Apapun yang terjadi jangan pernah Gusar. Berpikir lah Jernih. Semua itu pasti ada jalan nya
Reva ingat, kata - kata yang Guru nya nasihat kan. Reva mengedarkan Pandangan nya. Hingga tatapan nya bertemu dengan tatapan Aila.
Tya Reva Arthaft. Hei Gadis muda! Aku adalah tanda Mawar Biru di bahu mu. Aku bisa membantu mu.
Kau?! Tanda Mawar Biru ku?! Terserahlah! Itu sudah tak penting Sekarang! Cepat katakan bagaimana aku bisa menyelamatkan Putra ku!!
Pusat kan seluruh Kekuatan di Bahu kanan dan Kiri mu. Harus di lakukan secepat mungkin. Apa kau mampu? Berkonsentrasi di tempat yang Seperti ini.
Humph! Apapun bisa seorang ibu lakukan untuk Putra nya. Hal yang tak mungkin akan menjadi mungkin!!
'Gunakan bakat mu sebagai Sekretaris Presdir Reva. Kita adalah ahli nya di dalam cara lama ini. Aila aku mengandalkan mu.'
Ucap Reva tanpa suara menatap Aila, Aila tersentak halus. Yah Aila mengerti apa yang Reva katakan. Itu adalah bakat Aila. Dia tersenyum miring. Reva puas dengan respons yang Aila berikan.
__ADS_1
Nona ingin aku mengulur waktu? Apa yang ingin Nona lakukan?
Batin Aila, mengerti dengan sempurna maksud dari Reva.
"Dengar Alden. Gunakan bakat mu sebagai Pendekar. Aila ku sedang mengulur waktu" bisik Reva pelan. Alden mengangguk mengerti. Dia mulai bergerak dengan Ferry.
"Kau ingin kami menyerah Agar pangeran Dafa tetap hidup? " tanya Aila dengan tangan yang masih terikat.
"Benar. Menyerah lah agar pangeran kalian ini bisa selamat." sahut Tumon nada menantang.
"Ahh, kalau begini caranya tidak kah kalian itu sama dengan pecundang? "
"Haha Pecundang?! Siapa yang perduli kami memenang kan ini dengan cara apa?! Yang terpenting kami lah yang akan tetap Hidup! Dan kalian akan mati! "
"Ah, jadi kau berencana membunuh kami? "
"Tentu, jika kalian di biarkan tetap hidup. Pangeran Faras akan menghukum kami. Tapi sebelum itu, aku pasti akan mencicipi mu dan pelayan itu. "
"Haha!! Kau ini, benar - benar manis. Semakin kau memberontak, semakin aku menginginkan mu! "
"Tawa mu itu semakin membuat ku jijik. Wajah mu itu jelek! Siapa yang sudi bersama mu! "
"Diam kau! Kesabaran ku telah habis! Bawa gadis itu ke hadapan ku! " titah Jendral Tumon yang sudah murka.
"Ingin membunuh ku? Aku tak takut" sahut Aila santai, berjalan pelan ke hadapan Jendral Tumon. Tumon sendiri menatap Rakus Aila yang ada di hadapan nya, entah fantasi apa yang sudah hinggap di otak nya.
"Lapor Jendral Tumon. Ada pesan dari Pangeran Pertama. Bahwa Dia ingin putri Reva datang ke tempat nya. Dia ingin bermain dengan Putri Reva, jika dia puas maka putri Reva akan di jadikan pelayan pribadi nya!!"
"Lancang! Berani sekali dia! Akan kupenggal kepala mu Faras! " Teriak Alden ia langsung marah membabi buta.
Tak ingin membuang kesempatan Aila langsung menendang Fatas yang ada di hadapan nya.
Memutus tali yang sudah mengikat rantai nya. Menendang orang yang menahan Dafa. Di ikuti dengan Devan, Ferry, dan Seira. Mereka berhasil melepaskan diri dan melakukan perlawanan.
__ADS_1
Aila mendekap Erat Dafa. Menatap ke arah Reva, namun Reva masih memejam kan mata nya mencoba konsentrasi nya.
Komsentrasi lah! Aku akan menjaga Dafa! Lakukan apa yang menurut Anda benar, Nona ku!
Batin Aila, ia kembali mengayunkan pedang nya. Alden sendiri masih setia bertarung di sekitar Reva. Guna menjaga Reva.
"Hentikan! Perlawanan kalian sia - sia! Kalian tak kan bisa menang! Kalian sudah terkepung! " pekik pria itu dari atas sana.
"Faras kau pecundang!" teriak Alden yang sudah kalut dalam emosi. mendapati Faras yang sedari tadi ingin di bunuh nya, kini ada di hadapan nya.
"Pangeran, pasukan mereka berkali kali lipat lebih banyak dari kita. Bahkan mereka sudah mengepung kita dengan sempurna. Melawan sama dengan menghantarkan nyawa!" desis Devan, berbisik. Ia sudah sangat jelas dengan situasi nya saat ini.
"Bukan hanya itu. Seperti nya, mereka semua adalah Bangsa Rambell yang gila" sambar Aila, melihat tingkah Orang - orang itu seperti monster kelaparan yang siap menerkam siapapun.
"Kalung itu? Apa itu penyebab nya? Apa kalung itu yang Aruna katakan? Tunggu, dimana Aruna? "
"Entahlah, aku juga tidak tau di mana dia"
Alden, fokus lah. apa sekarang saat nya? Apa aku harus menunjukkan wujud ku yang sebenarnya?! sebagai bangsa Ksatria Murni. dari Bangsawan Cadris?!! Apa ini saaf yang tepat?!
batin Alden, dia masih ragu.
"Haha?! Bagaimana sudah berdiskusi tentang cara kematian yang bagus? Katakan lah! " pekik Faras dari atas sana. Merasa bahwa dirinya sudah di ambang kemenangan.
"Haha! Siapa yang mati dan siapa yang hidup masih belum tau loh" sahut Reva membuka matanya. Secara tiba - tiba, tampak Sayap dan bayangan Phoenix dari tubuh nya. Tubuh beraura biru itu.
***
Hari ini Up 4 Episode yaa
berharap banyak Komenan yang bersifat membangun..
__ADS_1