
***
Jangan katakan Reva berubah lagi. Bukan kah dia hanya akan berubah ketika jatuh ke sungai? Tidak! Tidak mungkin!!
Batin Reyza, ia mulai takut jika adiknya akan berubah dan mejauh darinya lagi.
Apakah ini efek kristal suci Dewi Tarriva??
Batin Ryuza, ia mulai menerka seperti yang lain nya.
Aila menaik turunkan alisnya, menatap Nona nya. Maksudnya apa coba?
Aishh!! Apa yang baru saja aku katakan? Apakah mereka curiga? Apakah mereka tau?
Batin Reva, ia menggigit ujung lidah nya sendiri. Ia tak tau, bahwa ternyata ia bisa keceplosan juga.
"Dafa sayang? Kau baik - baik saja? Bunda sangat merindukan mu" kata Reva sembari memeluk erat tubuh Dafa.
Setelah melihat reaksi Reva pada Dafa, mereka semua baru menghela napas lega. Yah, setidaknya Reva tidak berubah.
Tapi, tunggu? Kenapa aku masih hidup? Bukan nya aku mati buat menghentikan lubang hitam itu? Apa mimpiku itu beneran? Aku di tolong sama Dewi Tarriva?
Batin nya masih bingung. Ia yakin itu semua hanya ada di alam mimpi. Ia yakin bahwa dirinya sudah tiada dalam perang itu.
Matanya bergeser lagi.
"Alden?! Kak Ryuza?! Kalian masih hidup?!" Kejut Reva. Ia mulai bingung. Apakah ini mimpi atau memang kenyataan nya.
__ADS_1
"Apakah ini hanya mimpi? Aku berhalusinansi? Apa ini? " Gumam Reva menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini bukan mimpi sayang. Kita memang masih hidup, dan kakak mu juga masih hidup. Ini semua berkat Dewi Tariiva, ibumu, dan ibuku yang menyelamatkan kita. " terang Alden, memeluk Reva bersama dengan Dafa.
***
"Aku kehilangan seluruh kekuatan ku karna perang itu? " tanya Reva, menatap akurat suaminya yang ada di sebelahnya.
"Itu yang Dewi Tarriva katakan. " sahut Alden, merangkul Reva mencoba menenangkan nya.
"Bagaimana dengan Akrein dan Afesan? "
"Akrein dan Naga Di segel dalam Lautan. Tepat di Gua Kristal tempat mu bersemedi. Dan Afesan, dia tetap ada dalam tubuh ku. "
"Oh yah, apa Kita semua kembali hidup karna mereka? Oleh ibuku, ibumu, dan Dewi Tarriva yang agung? " tanya Reva lagi, ada di jendela bersama dengan Alden disana.
"Iyah, mereka yang menyelamatkan kita. Dan yah, maaf. Ayah dan Kakek mu tidak bisa diselamatkan. " Terang Alden lagi. Wajahnya sendu, tak kalah sendunya dengan wajah Reva.
"Iyah, dia yang memimpin. Dan soal bangsa Rambell dia sekarang di kendalikan oleh Aruna. Pelayan mu itu. Dari bangsa Rambell, hanya tersisa puluhan orang. Dan hampir rata - rata semuanya anak - anak. "
Reva mengangguk mengerti. Ia mulai berpikir untuk mengunjugi Aruna satu saat nanti.
"Dan yah, waktu kita di sini hanya beberapa hari lagi. Karna kita akan kembali ke kerajaan Flawyard. Ini keputusan Raja. " lanjut Alden lagi.
"Secepat itu? "
"Iyah sayang. Yang mulia Raja sudah memutuskan titah nya meminta kita pulang. Mereka akan memberikan sambutan pada kita, karna berhasil memenangkan perang itu. "
__ADS_1
"Apakah kau akan kembali dalam keadaan seperti ini? Maksudku, mereka mengenalmu sebagai pangeran yang cacat. Akan aneh rasanya jika kau tidak kembali cacat. "
"Tidak ada yang aneh permaisuri ku. Raja sudah mengumumkan nya, bahwa aku sembuh karna berkat Dewi. Jadi, semuanya sudah baik - baik saja. Dan--" Alden memotong ucapan nya.
"Dan apa? " tanya Reva mengalihkan pandangan nya menatap lekat Alden. Begitu juga Alden yang memegang erat bahu Reva. Menatap akurat retinanya.
"Ayah sudah manjatuhkan titah bahwa setelah kita kembali. Dia akan mengangkat ku menjadi Raja. Setelah itu, dia dan Ratu juga dengan seluruh selir nya akan mengabdi untuk desa di kaki gunung Alav. Itu tradisi di kerajaan Flawyard. " Lanjut Alden lagi, menatap Reva yang sangat cantik dengan sinar bulan yang menerpa nya. Semerbak angin menerbangkan rambutnya yang tidak terikat.
"Untuk itu, Aku ingin kau menjadi Ratu ku. Jadilah Ratuku, yang akan selalu mendampingi ku. Tidak peduli apapun rintangan di depan sana nantinya, Jadilah Ratuku yang tetap bersama ku. " Alden memasangkan sebuah gelang biru yang bersinar di tangan Reva. Mengecup lembut punggung tangan permaisuri tercinta nya itu.
"Permaisuri ku. Aku snagat mencintai mu. Tetap di sisi ku. Selamanya. " pinta Alden lagi. Tak terasa ada bulir hangat yang jatuh dari mata Reva.
"Tapi aku tak sekuat dulu lagi. " bantah Reva.
"Aku mecintai mu, tanpa alasan. Karna itu kamu. Jadi, berhenti menolak. Dan setujulah menjadi Ratu ku, oke? "
"Tapi aku dari bangsa Netcher. Raja akan menolaknya. "
"Raja tau, dan dia sudah setuju. "
"Bagaimana jika Rakyat menolak nya? "
"Tidak akan. Percaya padaku. "
Alden meraih kedua pipi menggemaskan Reva, dengan perlahan memberikan kecupan manisnya. Di tengah malam, di bawah sinar rembulan ditemani dengan angin yang menerpa.
"Aku mencintai mu Alden. "
__ADS_1
"Aku tau itu, permaisuri tercinta ku. "
***