
***
"Kau sudah sadar Aruna? " tanya Aila menutup buku yang di bacanya, menatap intens gadis yang tengah terluka. Juga terikat banyak rantai.
Gadis itu masih belum sadar sepenuhnya. Ia masih mengerang, beberapa kali mengerjapkan matanya. mencoba memperjelas pandangan nya yang masih kabur.
"Aila?! " gumam nya saat mendapati sosok wanita anggun namun kejam itu duduk tak jauh dari tempat nya terbaring.
"Henn... Kenapa kau tak mengatakannya?! Kau adalah bagian dari bangsa Rambell! " pekik Aila melemparkan buku di tangan nya. dia langsung to the point. ia tak peduli jika lawan bicara nya bahkan belum sadar sepenuhnya.
"Aku.. Aku... " Aruna memegang erat kepalanya yang terasa sakit. Samar - samar ia mengingat nya. Dia mengingat menyerang Reva. bahkan mencoba membunuh nya.
"apa aku menyerang putri Reva?! Apa dia terluka! Bagaimana keadaan nya?!" tanya nya beruntun, dengan raut wajah khawatir terurai jelas disana.
"Kau mencemaskan nya?! Bukan nya kau datang menyamar untuk membunuh nya?! " sinis Aila. ia masih merasa marah, karna Aruna nona kesayangan nya harus turun, bahkan nyaris terluka jika bukan karna Alden yang menolong nya.
"Tidak! Aku tidak pernah berniat untuk membunuh Putri Reva! Aku dengan tulus mengabdikan hidup ku untuk nya!"
"Lalu, kenapa kau tak mengatakannya. Bahwa kau berasal dari bangsa Rambell?! "
"Karna aku takut, takut bahwa putri Reva akan mendepak ku keluar. aku takut dia tak menerima ku. Aila, apa putri Reva kini membenci ku? "
Aila diam. Ia hanya menaikkan sebelah alis nya, menatap penuh selidik Aruna. Aila masih bingung memutuskan sikap nya.
"Aila! Bunuh aku! Bunuh! Aku lebih baik mati dari pada harus menerima kebencian putri Reva! " tegas nya. ia tahu jelas maksud ekspresi diam Aila adalah bahwa Reva kini sudah sangat membencinya.
aku selalu menganggap putr Reva adalah satu - satunya keluarga ku. jika putri Reva membenci ku, untuk apa aku tetap hidup?
Aila tersenyum tipis. Dia telah terbiasa melihat orang seperti Aruna saat ini.
Kau orang ke sekian yang mengatakan hal ini
batin Aila, ia tahu benar bahwa Aruna mengatakan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kenapa Aila harus membunuh mu?! " sambar Reva yang masuk bersama Alden dan yang lain nya. Tentu karna ingin menginterogasi Aruna.
"Putri.. Mohon ampuni hamba.. Ini salah hamba... Yang telah membohongi Anda. Tapi hamba bersumpah, tidak pernah berniat menyakiti anda atau siapapun! " jelas Aruna.
"Kau Pikir kami percaya! " sambung Seira.
"Putri, Anda bisa membunuh ku! Asal jangan membenci ku! jangan benci aku. Aku benar - benar tidak berniat menyakiti anda. Tapi, maafkan saya karna telah membohongi anda" ringis nya.
Reva mengehmbuskan napas nya. Lagi, dan lagi. Begitu banyak orang yang mengucapkan hal ini padanya.
"Aku tak kan membunuh mu, juga tak kan membenci mu. Aku kesini hanya untuk melihat keadaan mu dan juga minta maaf padamu. bagaimana pun juga aku lah yang telah menyerang mu, bahkan di bagian fatal" sahut Reva menundukkan badan nya condong ke depan. mensejajarkan tinggi wajah nya dan wajah Aruna yang di penuh luka dan lebam.
Aku tidak pernah salah, yah dia adalah orang yang tepat. untuk aku mengabdikan hidup ku.
batin Aila merasa puas. Lagi dan Lagi, Aruna di buat tertegun oleh Reva. perilaku Reva ini semakin membuat Aruna tak ingin lepas darinya.
"Maksud anda.. apa? "
"Soal itu.. Saya juga tidak tau pasti. Tapi, Ayah saya dulu pernah mengatakan, ada satu benda yang bisa membuat kami bangsa Rambell kehilangan kontrol kami, dan mengamuk membabi buta. aku rasa kali ini juga semua karna benda itu"
"Benda?! Benda apa maksudmu?! " kini giliran Alden yang bertanya.
Aruna menghela napas panjang, sebelum ia menceritakan sejarah panjang klan nya. ia tak ragu untuk menceritakan segala nya. Asal itu bisa membuat nya tetap di sisi Reva.
"Dulu sewaktu saya kecil. Ayah saya pernah bercerita. Bahwa, dalam bangsa Rambell ada dua benda pusaka yang legendaris. Satu adalah kalung merah iblis, yang fungsinya membangkitkan mayat bangsa Rambell dan mengendalikan nya"
" Benda itu.. mengerikan sekali. Lalu, benda pusaka satunya lagi? " tanggap Reva, yang ada di pikiran nya adalah mayat yang bangkit layak nya Zombie.
"satu nya lagi, ini lah yang mungkin membuat saya kehilangan kendali. Ini adalah kalung hitam iblis. Kalung ini berguna untuk mengendalikan bangsa Rambell, namun benda ini tak kan bekerja jika jarak nya terlalu jauh. Tadi saya merasa saya di kendalikan sepenuhnya. Tubuh saya bukan milik saya lagi. saya curiga, pengguna kalung itu ada di dekat sini " ia berhenti sebentar, untuk menarik napas nya untuk melanjutkan cerita nya lagi.
"lalu, siapa yang memiliki benda - benda ini? "
"Kalung merah iblis, dimiliki oleh pangeran bangsa Rambell yaitu pangeran Diaz Reyland. Cucu dari bangsawan pemimpin Reyland, dan anak dari putri bungsu nya. Dia lah yang saat ini menjadi tangan kanan Raja bangsa Rambell"
__ADS_1
"apa dia yang menyebabkan kekacauan ini? " tanya Reva lagi.
"Bukan putri. Kekacauan ini di sebabkan oleh seorang pemilik kalung hitam iblis. Dia yang menguasai kendali tubuh bangsa Rambell yang hidup. Sedangkan tubuh yang mati dimiliki oleh kalung merah iblis. Jika kedua kalung ini di satukan, maka Dia akan menguasai bangsa Rambell sepenuh nya. yang mati maupun yang hidup"
"Tunggu... Kau bilang kau seperti di kendalikan. Apa jangan - jangan kekacauan di perbatasan Utara di sebabkan pengguna kalung itu juga? " sambar Aila mulai mengerti.
"sepertinya begitu. Hanya kalung hitam iblis yang bisa menguasai sepenuh nya tubuh kami"
"Jadi maksud nya, kekacauan di perbatasan Utara di sebabkan oleh orang itu. Dia sengaja melakukan kekacauan ini?! " pekik Alden yang sudah mulai hilang kendali.
"Siapa pemilik kalung hitam iblis itu? " selidik Reva, ia sudah berjanji akan memastikan kematian bagi orang itu.
Namun, Aruna diam tak berkutik mendengar pertanyaan itu. Tampak tubuh nya bergetar bimbang.
"Kenapa kau diam?! Siapa orang itu?! Siapa yang telah melakukan kekacauan di kerajaan ku!! " pekik Alden, ia sudah melayangkan pedang nya. Pada posisi tepat ujung pedang yang tajam itu menyentuh leher Aruna. Hingga mengalirkan darah segar.
Aruna menatap Reva, Reva masih menatap intens Aruna yang di penuhi luka, dan masih terikat rantai. Aruna menarik napas nya panjang, sebelum ia menceritakan nya.
"Dia adalah pangeran pertama Faras Kertlan. Ia pangeran kerajaan kita, sekaligus pangeran bangsa Rambell, dan bahkan keturunan bangsawan Reyland"
"Pangeran pertama?! Maksud mu dia yang menyebabkan kekacauan ini?! " pekik Alden, ia sangat terkejut. ia tahu pangeran pertama memang bukan orang yang baik. Tapi dia juga tak menyangka pangeran pertama adalah pangeran bangsa Rambell juga.
Tentu saja Semua orang yang mendengar ini sangat terkejut. Mereka benar - benar heran.
***
Ayoo like, komen, and vote yah.
Silah tinggal jejak
Karna ada kendala. mungkin Novel ini akan hiatus selama seminggu atau bahkan lebih. mohon maaf yang sebesar - besar nya yah..🙏🙏
See you to next week.
__ADS_1