Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
23. Berkunjung Ke Mansion Selir #3


__ADS_3

***


Haha! Ratu bodoh! Tamatlah kau kali ini! Raja akan menghukum berat dirimu!  Atau bahkan menurunkan mu dari gelar Ratu!


Batin Shuri,  ia mulai terjatuh terduduk lemas.


"Reva!! Reva!!! " Teriak Alden lantang. Mengundang senyuman sumringah dari para selir itu.


"Apa yang terjadi? Kau baik - baik saja kan? Aku mengkhawatirkan mu,  kau tau? " Alden dengan cepat memeluk Reva. Mendaratkan satu kecupan hangat di pucuk kepala wanita beruntung itu.


Haha! Ginjal Ku tertawa melihat kenaifan dan kebodohan kalian!


Batin Aila, kini ia lah yang tersenyum menang. Menatap wajah para selir yang kaku dan takut. Mereka gemetar, ternyata Alden lebih mengutamakan Reva di banding apapun.


Alden... Aku mencintaimu, kau tau? Kenapa cintamu begitu besar?


Batin Reva, ia masih menikmati sikap hangat yang di dapat dari Alden. Pelukan dan kecupan hangat, yang membuat banyak wanita itu marah. Namun, mereka hanya bisa bungkam, tak kuasa melawan titah Alden.


"Alden, bagaimana kau tau aku di sini? " tanya Reva saat Alden sudah melepas pelukannya.


"Dimana ada kau di situ juga ada aku. " sahutnya enteng. Alden mulai berbalik. Ia menatap satu persatu para selir yang rambutnya acak dan pakaiannya sobek.


"Siapa yang melakukan ini pada kalian? Aku ingin kalian jujur?! " sarkas Alden.


"Yang mulia, ini ulah Ratu! Ratu yang menyiksa kami! " Lapor Yuna, yang di angguki oleh mereka semua yang merobek bajunya.


"Itu benar yang mulia Raja. Hiks... Ratu yang menyiksa kamu. Dia bilang dia tidak suka anda memiliki selir! Jadi dia menyiksa kami!! " Timpal Shuri. Memang kakak adik yang Menjijikan.

__ADS_1


Ah? Ingin main - main dengan ku? Tya Reva Atmaja? Apa kalian semua sudah bosan hidup?


Batin Reva, ia mulai maju tiga langkah ke depan.


"Ah? Aku yang menyiksa dan merobek baju kalian? Tapi, kenapa bisa? Di tanganku bahkan tak ada bekasnya. " Ujar Reva, ia menunjukkan kedua tangannya, yang putih mulus. Terlihat biasa.


"Alden!! " Panggil Reva, ia berbalik dan melangkah ke dekat Alden lagi.


Semua mata melotot tak percaya, Alden adalah Raja sekarang. Bagaimana mungkin Reva bisa seenaknya memanggilnya nama?!


Ratu Reva, dapat disimpulkan bahwa andalah penguasa kerajaan Fkawyard sesungguhnya. Karna, Raja sendiri takluk oleh Anda. Anda luar biasa!


Batin Ferry, Ia harus terbiasa menyaksikan hal ini, kan?


"Alden! Aku tidak menyiksa mereka! Aku punya bukti. Dan banyak sak--" lanjut Reva .


"Shttt jangan memberiku penjelasan. Aku tak butuh itu. Aku percaya padamu. Sepenuh nya. " lanjut Alden merangkul manis Reva.


"Nona, menurut mereka anda menyiksanya? Kenapa tidak kita lakukan saja? Maksudku, ini hukuman Karna mereka berani memfitnah Ratu, yang kedudukan nya sama dengan Raja. " Seru Aila.


Habislah, lidah Aila telah berbicara. Siapa yang bisa melawannya dalam hal ini? Itu keahlian Aila.


Batin Seira, setelah cukup lama dengan Aila. Seira sadar, lidah adalah bakat Aila yang sesungguhnya.


"Kau benar. Kau bebas menyiksa mereka yang robek bajunya, dan acak penampilan nya. Setelah itu, mereka akan dijadikan pelayan yang pekerjaan nya berat. Sisanya biarkan mereka berlutut hingga tengah malam nanti, tanpa makanan. Beraninya bungkam saat Ratuku di fitnah! Dan untuk selir Yuna dan Shuri. Ferry, penjarakan mereka berdua di kurungan gelap. Selamanya!" Titah Alden, yabg sifatnya mutlak. Alden menarik tangan Reva dengan cepat.


-

__ADS_1


-


-


"Arhhh?? Kalian tau? Ini momen yang sudah ku tunggu sejak lama. Menyiksa kalian? Uhhh, aku tak menyangka kesempatan ini akan datang begitu cepat. " Gumam Aila, dengan sebuah cambuk berduri di tangannya. Aila dengan manisnya menebarkan senyuman menyeringai khasnya.


Habislah kalian. Aila bahkan lebih mengerikan dari monster.


Batin Seira. Ia bahkan sudah begidik ngeri.


***


"Alden? Apa menitahkan mu satu hal? " Ujar Reva, yang masih dalam pelukan hangat suaminya, berbalut satu selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.


"wah, kau berani menitahkan aku? Raja kerajaan Flawyard?! "


"Aku berani. Aku adalah Ratunya. Alden, aku menitahkan mu tidak boleh memasuki kediaman selir sekalipun. Tanpa izin dari ku!"


"Untuk apa aku masuk ke sana. Apa mereka layak untuk ku tatap? Aku hanya akan kembali ke sini. Ditempat Reva ku berada. Hanya akan di sini bersamanya. " Alden mengeratkan pelukannya.


"Kau yakin akan tetap di sini? Dan tidak akan pergi? "


"Haruskah aku mendepak seluruh Selir itu, dan menjadikan mereka semua sebagai pelayan? "


"Eh tidak! Tidak! Jangan! Jangan lakukan itu. Baiklah, aku percaya padamu. Aku mau tidur. Jangan berisik. " Reva mulai memejamkan matanya, setelah cukup lelah menjalankan kewajibannya sebagai Istri.


Sebenarnya kenapa kau memaksaku untuk memiliki selir? Aku tau kau tidak suka mereka. Kenapa tidak cerita padaku? Aku berjanji akan terus membantumu. Apapun itu, aku hanya akan tetap mencintai Revaku...

__ADS_1


Batin Alden, ia mendaratkan satu kecupan penutup di kening Reva.


***


__ADS_2