Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Wahhh,  ternyata Author akhir ini lagi kumat,


Up satu episode lagi yah.


Di tunggu loh Like,  komen,  and Vote nya


Yahhh


Silah tinggal jejak yah


Kalau mau kasih Saran langsung komen aja.


Misalnya aku terlalu buat cerita yang berbelit jadi sulit di pahami gitu?  Atau ada yang kasih saran..


Semakin ke sini aku semakin ngerasa cerita nya sulit di pahami.  Mungkin sih hehe.. 😅


Ada yang ngerasa kah cerita ini terlalu berbelit?? 😅


***


Reva membuka jubah nya,  di sembunyi kan nya ke tempat rahasia.


Di bantingkan nya tubuh mungil nya di ranjang itu. Ia mengurai sedikit senyum saat Wajah imut Dafa yang sedang tertidur tadi kembali dalam ingatan nya.


Dafa tidur bersama Seira,  yah karna permintaan Alden tentu nya.  Itu lebih aman jika Dafa di jauhkan dari mereka,  yang saat ini adalah target pembunuhan.


Mata Reva sesekali mengerjap,  tapi rasa kantuk itu tak kunjung datang.  Membuat nya memikirkan hal yang ingin ia lupakan.


Seberapa banyak bangsa Rambell yang bersembunyi di benteng ini?


Batin nya,  Ini adalah satu pertanyaan yang belum bisa dja jawab. Reva menghembus napas kasar,  menyadari akan ada banyak sekali hal yang harus otak kecil nya pecah kan.

__ADS_1


Lalu,  maksud bayangan hitam dari pria dan kolam itu apa?!  Dan kenapa hanya aku yang bisa melihat nya?!  Kenapa Aila enggak?!


Tambah lagi satu pertanyaan nya.


Misteri tentang Tanda Mawar biru saja masih belum aku ungkap .  Kini misteri lain sudah bermunculan. Aishhhh... Awas saja jika misteri ini tidak mengejut kan aku!!


Tantang Reva. Ia kembali memejam kan matanya. Tiba - tiba  dia mengulum senyuman manis,  masih dengan mata terpejam.  Tatkala Kenangan Delapan tahun perjalanan dengan Gurunya hinggap di ingatan nya.


"Entah lah,  Rasanya aku lebih menyayangi Guru di banding Bunda.  Yah,  meski perbedaan nya tipis" gumam nya,  Dia tiba - tiba berdecak kesal.  Tatkala nama Bunda ia sebutkan,  permintaan bunda nya untuk mencari adik angkat nya itu pun ikut di ingat nya. Di berikan masalah beruntun begini,  tanpa ada arah cerah nya siapa yang tak gundah!


Dia menarik napas panjang,  di hembuskan nya secara perlahan,  masih dengan mata terpejam.


"Uhukhh.. Uhukk!! "


Napas nya yang harus nya lancar tiba - tiba Sesak.  Yan tentu saja Sesak karna Alden yang mendarat kan ciuman nya.


"Kau baik - baik saja? " tanya Alden,  yang memberikan segelas Air untuk Reva.


"Benarkah lebih baik jika tidak ada aku?! " tanya Alden lagi,  kali ini ia melepas topeng nya yang menutup wajah tampan nya.  Di dekat kan wajah nya ke wajah Reva yang sudah merona.


Reva diam membatu,  ia tak tau harus menjawab apa pada Alden. Dia adalah perempuan yang bijak dan cerdas,  tapi selalu kalah dengan Alden yang tegas.


"Haha.. Lihat kau merona sayang,  Ayolah akui,  aku ini memang tampan"


Plakkk!!


Reva menampar pelan pipi kanan suaminya ini, bagaimana tidak,  celotehan nya ini membuat sisi kepresediran Reva tersinggung.


"Kau?  Apa sudah selesai mengurus masalah mu?! " tanya Reva mengalihkan topik.  Dia yakin jika dia masih berbicara di topik yang sama maka dia akan kalah.


"Sudah.  Kau sendiri,  kenapa belum tidur?  Ini sudah hampir Fajar?! " tanya balik Alden.

__ADS_1


"Aku tak bisa tidur"


"Karna memikirkan aku? " tanya Alden menaik turunkan sebelah alis nya. Reva membuka lebar matanya,  melotot tajam ke hadapan pria ini yang wajah nya berjarak tak lebih dari Lima cm dengan Wajah Reva. Alden tertawa geli sendiri.


"Baru ku sadari,  mata permaisuri tercinta ku ini sangat besar,  bahkan bisa melihat Dunia" sahut Alden,  dia mencium kelopak mata kiri Reva. Membuat Reva memutar bola mata nya dengan jengah.


"Aku tidak bisa tidur ini semua salah mu!  Karna aku berada di tempat yang tak aman ini" Gerutu nya mengerucut kan bibir nya.  Yang membuat Alden semakin gemas ingin mendarat kan satu ciuman di bibir Reva lagi.


"Salah ku?!  Hei Nyonya Permaisuri,  bukan kah kau yang meminta ikut?!  Apa aku pernah mengajak mu?! "


Trkkk


Reva diam membatu.  Baru kali ini dia salah dalam berbicara, Perkataan nya di balikkan begitu saja.  Jika Aila tau hal ini.  Reputasi nya sebagai Dewi Provokator akan hilang sudah.


"Itu... Aku mana tau ini setidak aman itu!?"


"Sudah lah,  tenangkan diri mu.  Ada aku di sini.  Tak kan ku biarkan siapapun menyentuh mu. Dengar,  selama aku hidup maka kau akan baik - baik saja.  Jadi tenang lah,  Diam dalam pelukan ku" Sahut Alden,  ia memeluk erat Reva mendekap nya di dada bidang nya.


"Aku akan aman jika kau hidup,  jika kau mati artinya aku akan dalam bahaya, begitu kah? " Gerutu Reva pelan di dalam dekapan Alden,  ini hanya gumaman untuk diri nya sendiri.


"Tenang,  aku lupa mengatakan satu hal lagi. Aku ini tipe manusia yang tak kan muda mati. Jadi kau akan aman " Sahut Alden.  Reva tercengang,  Alden benar - benar mendengar Gerutuan Reva.


"Sudah lah,  diam dan tidur lah.  Aku lelah,  besok aku harus berpikir lagi.  Jadi biarkan aku menenangkan pikiran ku" ucap Alden lagi,  yang kali ini tak mendapat respons dari  Reva.  Tentu karna Reva sendiri sudah terlelap dalam dekapan hangat suami nya. Rasa kantuk yang tak kunjung datang itu sirna,  tatkala ia mendapat kan dekapan Alden.


"Terus lah seperti ini.  Terus di sisi ku,  karna aku akan memberikan segala yang kau ingin kan" Gumam Alden,  ia mencium lembut kening Reva,  dan memeluk nya erat lagi.


"Cinta tidak membuat orang Gila.  Cinta adalah sesuatu yang gila yang kau lakukan di saat kesadaran mu masih utuh" Gumam Alden lagi,  ia mengulum senyum manis nya.


***


Yahhh

__ADS_1


Silah tinggal jejak yah


__ADS_2