Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Sebelas


__ADS_3

***


"Hari ini aku akan menikah, namun pernikahan politik tanpa perasaan. Ayah, bunda, Dimana kalian? Reva merindukan kalian. Reva merindukan keluarga lengkap Atmaja. Meski Reva tidak lagi bisa bersama kalian. Namun, Reva akan kembali dan mengurus Atmaja Group! Satu hari nanti Reva pasti kembali! Guru, Reva juga ingin menemui mu. Guru adalah satu satunya orang yang Reva ingin lihat sekarang, menuntun Reva menuju pernikahan. Meski hanya pernikahan palsu!" gumam Reva menatap wajah nya di cermin.


Gaun anggun berwarna biru muda sudah melekat di tubuhnya. Sangat cantik, dengan kalung biru cerah yang tergantung di lehernya. Riasan wajah yang biasa aja, tidak berlebihan, karna pada dasarnya wajah Reva sudah sangat cantik.


Masih ada beberapa jam lagi sebelum acara resmi pernikahan nya. Membuat gadis itu masih sempat tertidur. Tentu saja, dia langsung membantingkan badan nya saat seluruh pelayan nya sudah pergi. "fyuhhhhh" keluh nya, wajah nya terlihat lesu dan lelah. Perlahan ia memejamkan matanya. Terbenam dalak dunia mimpi.


"***ini ambil lah! Cincin merah ini!! Ambil ini!!" teriak Ayah dan Bunda Atmaja.


"Ayah, bunda, jangan pergi Reva sayang kalian!! Reva mau, kalian di sini!!"


"Ambil cincin ini!! Temukan dia!! Temukan Adik kamu!! Anak kandung laki - laki kami!!"


"Adik ku?!! Siapa bunda!! Bunda jangan pergi!!!" tiba - tiba Reva terbangun dengan keringat di sekujur tubuh nya.  "hanya mimpi" gumam nya. "akh iya!!!"  Segera ia melihat jari tangan nya. Benar saja sudah ada cincin merah darah melingkar indah di sana***.


Beberapa kali Reva mencoba melepasnya. Namun masih tidak bisa juga. Membuatnya menyerah untuk metiplepaskan cincin itu.


Dibasuh nya wajah nya. Di tatapnya wajah cantik nya dari pantulan genangan air kolam. Raut wajah bingung dan khawatir terlukis jelas di sana. Bayang - bayang Ayah dan bunda nya terus muncul. Dia masih memikirkan perkataan kedua orang tua nya. Mencerna segala apa yang terjadi.


"aku punya adik laki - laki?" kembali dirinya terbenam dalam teka teki ini.


"Putri!! Ayo! Sebentar lagi anda akan menikah !!" teriak Seira yang baru masuk.


"shhh! Seira diam" tambah Aila.


"nona? Kenapa dengan wajah anda? Kok kusam?? " tanya Seira heran menatap penampilan nona nya yang sudah acak-acakan.


Hanya diam, itulah yang Reva tengah lakukan saat ini. Pikiran nya masih terbenam dengan seseorang yang di sebut "adik" ini.


"perbaiki riasan ku" pinta Reva, duduk dihadapan cermin. Segera Seira dan Aila merias kembali nona nya itu, mereka hanya saling tatap khawatir dan bingung melihat keadaan nona nya saat ini.

__ADS_1


***


"Panggil kan mempelai wanita" Langkah anggun Reva menapaki jalan itu. Semua mata terarah padanya. Sorakan kagum terdengar nyaring, namun bisikan hina terhadap Alden juga masih terdengar.


"TyaReva Atmaja" gumaman dari seseorang di tengah keramaian. Tentu saja gumaman itu membuat raut wajah Reva kaku. Dengan cepat ia melihat ke sekeliling. Mencoba menerka berasal dari mana gumaman itu. Hampir sepanjang jalan ia terus menerka, namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan apapun. Yang terjadi malah raut wajah Reva semakin tegang.


Seira dan Aila, yang sedari tadi memperhatikan nona nya. Aneh rasanya, melihat nona mereka yang tenang tiba - tiba Gusar.


"ada apa dengan nona? Kenapa hatiku terasa sangat sakit saat menatap nona dengan keadaan seperti ini? Sakit sangat sakit!! " batin Aila kembali menatap penuh selidik pada Reva.


"menungguku? Lama kah?? " tanya Reva saat sudah duduk di samping Alden.


"bahkan jika aku harus menunggu mu selama nya, aku tak keberatan sama sekali" jawab Alden mengulurkan tangan nya. Beruntung. Reva membalas uluran tangan Alden sambil tersenyum.


kembali Reva terdiam dengan raut wajah yang aneh, Alden yang melihat itu merasa tidak nyaman. pandangan nya terus tertuju pada mata Reva yang kehilangan perhatian nya.


"adik ku?! Apakah itu ilusi? Fakta?? Cincin ini?!! Humph!!" batin Reva sedikit khawatir, raut wajah nya gagu.


"akh iyah, aku ingin kembali ke kediaman mu. Tolong bawa aku pulang" pinta Reva raut wajahnya terlihat aneh.


Alden seketika berbisik pada Ferry.


"Perhatian! Kepada seluruh tamu undangan, kami dari kediaman pangeran ke empat mohon undur diri. Penyakit pangeran ke empat sekarang kambuh lagi. Yang mulia Raja Sezhan. Mohon izin anda" pinta Ferry.


"silahkan. Tolong jaga putra ke empat ku yah 'menantuku'"


Tegas raja santai terkesan serius. Segera pangeran dan seluruh orang nya kembali ke kediaman nya.


***


lagi, Reva kembali menapaki kediaman pangeran Alden lagi.

__ADS_1


"malam ini, bisakah aku tidur sendiri? Aku tau aku kelewatan, tidak seharusnya aku meninggalkan mu saat ini. Hanya saja, aku mohon izinkan aku sendiri. Aku butuh waktu" ucapan Reva itu terdengar sangat serius. Juga terlihat sangat suram dan putus asa. membuat Alden tak sanggup menolak nya, meski Alden sendiri ingin sekali mengganggu Reva. Ia sudah menantikan hari ini.


"baiklah, aku memberi mu waktu. Tinggal lah di kamar ku, aku ada urusan akan kembali lusa. Istirahat lah" ucap Alden pergi di tuntun oleh Devan dan Ferry..


"apa dia marah? Maaf.. Hanya saja aku butuh mencerna semua permasalahan ini dulu. Maaf.. " batin Reva menatap kepergian Alden begitu saja.


"tak apa kah nona, jika seperti ini?? " tanya Seira membubarkan lamunan Reva.


"tak apa, aku ingin istirahat. Biarkan aku di kamar sendiri"


Ujar Reva melenggang pergi.


"tapi nona--"


"hentikan seira, nona dalam mood yang benar - benar buruk. Jangan ganggu dia" potong Aila menarik tangan Seira


***


"apa ini? Ada apa sebebarnya? Kenapa semuanya menjadi begitu rumit?? Kenapa muncul tiba - tiba?? eh bukan... Muncul tiba - tiba? Humph!! Semakin lama ini semakin menarik!! Pertama, aku mempunyai seorang adik. Kedua, ada seseorang yang mengenaliku sebagai TyaReva Atmaja. Baiklah, ayolah Reva. Tenang. Tenangkan dirimu. Perlahan lahan kau pasti bisa menemukan jawaban nya. Aku di sini bukan lah sebuah kebetulan. Ini semua Takdir!! Aku yakin ini takdir!! Yang paling penting menemukan adik ku. Lalu cincin ini?? Ini semakin menarik!! tunggu, Adik?! bukan kah bunda tidak pernah hamil, aku tidak ingat bunda pernah melahirkan seorang anak setelah aku. Tapi, bunda bilang dia adalah anak kandung?!! bahkan bunda meninggal saat aku berusia 7 tahun. lalu bagaimana mungkin aku mempunyai seorang adik?!! tunggu, kata bunda.... akh begitu rupanya bunda hanya mengatakan anak laki laki itu adalah putra kandung mereka, dan bukan adik kandung ku! humph! ternyata, yang aku dengar dahulu bukan lah salah. saat aku masih kecil, aku tanpa sengaja mendengar nya, mendengar hal itu 'aku memang bukan anak kandung ayah dan bunda' meski begitu, Reva tetap sayang ayah dan bunda. dan tetap akan mencari Adik ku. iyah. dia tetap adalah adik ku.!!" batin Reva menatap langit langit kamarnya. Tekadnya sudah bulat. Wajah yang awal nya gusar, kini terlihat sangat yakin. namun wajah sendu datang menghampiri, seketika sirna saat Reva mengingat bayangan keluarga nya saat ini. ayahnya, dan kedua kakak laki-lakinya yang begitu mencintainya.


"tunggu, adik ku. Dimana dia berada?? Di zaman ini atau zaman modern??!!! Akhhh siall" gumam Reva.


***


***ayoo like, komen dan vote yah \= semangat author


jangan lupa to follow me


mohon dukungan nya


mungkin setelah ini, author gak bisa up tiap hari lagi. soalnya lagi ujian sekolah.

__ADS_1


dadah***~


__ADS_2