Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tiga puluh enam


__ADS_3

Emm mumpung di lapak sendiri.


promo sendiri akh.


yuk baca cerita aku


~ permainan Takdir, ini kisah tentang time travelling seorang dokter bersama sahabat nya yang seorang agen mata - mata terkenal. mereka time travelling ke kerajaan Leezhart.


~ pembunuh berantai genre horor, action, supernatural. kalau baca cerita ini yakin deh gak nyesel. hehe, mungkin.


udah akh promo nya.


***


***


"Bunda?  Apa masih lama untuk kita sampai? " tanya Dafa,  ia kelihatan sudah sangat bosan melakukan perjalanan di kereta.


"sebentar lagi pangeran ku.  Kita akan sampai saat malam nanti tiba" sambar Alden yang menarik Dafa dan memangkunya.


"Yang aku tanya bukan Ayah, tapi bunda.  Kenapa ayah ikut campur.  Humph! "


Reva tersenyum menang.  Anak nya benar - benar sangat pandai. Alden hanya bisa menghela napas panjang, melihat tingkah anak nya ini.


"Pangeran,  ada yang ingin saya bicarakan" ucap Feryy dari luar samping kereta.


Alden mangangguk kan kepala nya.  Sebelum ia keluar,  ia mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Dafa.


"Ada apa? " tanya Alden,  kini ia sudah menunggangi seekor kuda bersama Ferry. Berjalan beriringan mengikuti rombongan.


"Saya merasa ada yang tak beres pangeran" bisik Ferry.  Ia mengecil kan volume suara nya agar tak terdengar oleh siapapun,  guna meminimalisir ketakutan.


"Apa maksud mu? " tanya Alden menaikkan sebelah alis nya.  Kini ia juga ikut serius bersama Ferry.

__ADS_1


" Untuk mencapai benteng pertahanan bagian uatra kita akan melewati tiga Desa. Beberapa jam yang lalu kita sudah melewati Desa pertama, tapi aneh nya pangeran,  tak ada satu pun orang berada di sana. kita bahkan sudah menghentikan perjalanan guna mengecek desa itu. tapi, Desa itu benar - benar kosong"


"Apa yang aneh,  mereka semua memang telah di pindah kan ke dalam benteng perbatasan Utara,  guna melindungi mereka dari bangsa Rambell"


"Anda ada benar nya juga. Tapi,  Desa itu sangat aneh. Kenapa desa itu sangat sepi? Saya merasa ada hal yang tak beres di sana"


"baik lah,  aku menyukai kewaspadaan mu.  Mulai sekarang aku juga akan berjalan menggunakan kuda,  bukan kereta.  Ini lebih baik untuk ku mengawasi situasi"


"Baiklah pangeran.  Saya akan meningkat kan kewaspadaan saya"


***


Sudah Datu jam rombongan kereta Alden berjalan dari Desa pertama,  kini mereka sudah melihat Desa ke dua.  Di Desa kedua ini tak ada yang aneh,  sama seperti Desa pertama.  Keadaan nya sepi,  sangat sepi. Namun beda nya tempat ini memiliki bekas pertarungan. tidak seperti Desa pertama yang tak ada bekas kehancuran.


Saat rombongan berhenti sebentar untuk melihat Desa kosong ini sebentar, yah sekedar memastikan bahwa Desa ini benar - benar kosong. Alden terus menatap sekeliling nya,  ia tersentak halus tat kala melihat bayangan di samping rumah tua tak berpenghuni itu.


"pangeran,  tempat ini? " guman Ferry.


"Kau menyadari nya? " tanya balik Alden.


"Bagus.  Tingkat kan terus kewaspadaan mu.  Khusus nya tingkat kan penjagaan di sekitar permaisuri dan Dafa"


"Di mengerti pangeran"


Tanpa Alden dan Ferry sadari.  Ada Aila yang terus memperhatikan mereka dari belakang.


Hehe. Rencana apa yang sedang mereka diskusikan?  Apa tentang dua desa ini?  Memang kedua desa ini kelihatan sangat aneh


Batin Aila,  ia segera menuju ke kereta Reva guna menyampaikan diskusi secara berbisik Alden dan Ferry.


"Kau yakin dengan apa yang kau dengar? " tanya Reva memastikan. Tangan nya masih setia mengelus lembut kepala Dafa yang sudah tertidur di pangkuan nya.


"Nona anda tenang saja.  Anda lah yang paling tau tentang saya. Pendengaran saya memang tidak begitu tajam untuk mendengar suara yang tak mungkin di dengar.  Tapi bakat saya untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan dari gerak bibir nya, itulah keahlian saya. Saya dapat memastikan hal itu"

__ADS_1


"memang benar anggota ku yang berguna.  Oh yah,  bagaimana dengan Aruna? "


"Aruna. Hah,  dia baik - baik saja di rawat Seira"


"apa membaca gerak bibir orang membuat otak mu tumpul Aila.  Ingat,  jika otak  mu tumpul.  Kau tak berguna bagi ku lagi"


"Aishh.. Aku mengerti.  Aruna yah,  aku rasa dia lumayan.  Keyakinan nya dan loyalitas nya aku akui.  Dia akan setia dengan nona sampai mati. hanya saja dia berasal dari bangsa Rambell, bangsa yang membuat darah ku mendidih"


"Bagus lah,  Aku akan sedikit mendidik nya.  Kau kembali lah,  lakukan tugas mu.  Ingat amati segala yang terjadi" peringat Reva.


"Nona tenang saja,  soal pengamatan Aila jagonya" sahut nya mundur menjaga jarak dari kereta Reva.


Semakin lama ini semakin mendebar kan,  dan aku semakin tertarik memecahkan nya.  Hehe... Lihat lah mawar biru,  kita lihat berapa lama aku bisa membongkar rahasia mu


Batin Reva,  Dia semakin merasa tertantang dengan dunia baru nya.


***


Sudah Satu jam berlalu,  Rombongan pangeran Alden sudah memasuki Desa ketiga.  Dimana Desa ketiga ini keadaan nya lebih parah,  kehancuran rumah - rumah nya sangat parah. Bercak darah terlihat di mana - mana.  Senjata tajam berserakan juga tertancap di tempat yang tak menentu.


Masih sama Desa ini sama hening nya dengan Desa - desa sebelum nya.  Tak ada tanda atau petunjuk yang bisa di ambil oleh Ferry.


Mereka berhenti sebentar, mengecek Desa ketiga ini seperti mengecek Dua desa sebelum nya untuk melihat apa ada yang masih tinggal di sini. Berbeda dengan dua desa sebelum nya yang hasil nya kosong.  Di desa ketiga ini mereka menemukan tubuh seorang pria Dewasa yang sudah terluka. Karna hari masih sore,  Alden memutuskan untuk mengobati pria ini dulu, sekaligus istirahat dari perjalanan panjang.


Jleb!


Sebuah anak panah yang datang dari arah Barat menembus kereta yang Reva naiki.  Dengan cepat Ferry pergi mengejar nya, Ferry yakin ia melihat bayangan hitam dari balik pohon itu.


***


Ayoo beri Author like,  komen,  and vote nya yah


Juga Rate.

__ADS_1


Kalian permbaca yang cerdas pasti tahu apa yang Author ingin kan hehe..


__ADS_2