Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Puluh Lima


__ADS_3

Ini cerita maunya lanjut?


Kok makin hari makin sepi yah?


Apa karna alur nya ribet?


***


"Akh kyaaaaa!!  To... Long!! " Suara sosok perempuan  entah dari mana Asal nya.


Reva dan Aila saling memandang,  sebelum kedua nya bergerak mencari asal suara itu.


"Aila! " Seru Reva di atas pohon, menatap seorang gadis muda yang tengah di kepung tiga orang pria.


"siap Nona ku! " sahut Aila,  matanya mengikuti arah mata nona nya.


"Eh,  tiga lawan satu? Ck.. Ck.. Dasar! Eh tapi itu,  para pengawal perbatasan?! " ucap Aila lagi,  sembari menyipitkam matanya umtuk memastikan bahwa yang di lihat nya adalah benar.


"serigala berbulu domba" celetuk Reva, ia melemparkan sebuah belati yang tadi di pegang nya.  Belati itu dengan sempurna  menancap ke kepala salah satu dari mereka. Darah mengucur deras dari sana,  di ikuti suara teriakan kesakitan pria itu. Segera Reva melompat turun.


"Uhhh,,,  cara yang kasar.  Masih lebih kasar 'cara lama' sih" gumam Aila ikut turun dari pohon nya,  tentu dengan sebuah tendangan di kepala mereka.


Reva tanpa ampun mencabik habis salah satu dari mereka.  Pedang tajam Reva sudah berlumuran darah. Hanya dalam beberapa menit, tiga mayat sudah bergelimpangan di sana. Dengan bentuk yang entah cemana rupa nya.  Ah,  belum  lagi beberapa belati dan Shuriken yang tertancap akurat di kepala,  leher,  badan dan kaki mereka.  Tentu itu ulah Reva yang suka main tenang dan bersih.


"Nona,  bagaimana mungkin jubah anda tak terkena noda darah sedikit pun? " keluh Aila,  dirinya menatap penampilan Reva yang bersih dan anggun.  Lalu di banding kan dengan dirinya yang jubah mya sudah terkena bercak darah.


"Aku di didik untuk main bersih dan rapi" sahut Reva santai menghampiri gadis muda itu.

__ADS_1


"Ka-kalian mau apa?! " teriak perempuan itu dengan kasar.  Tampak bahwa dirinya tengah ketakutan,  keringat itu sudah mengucur deras dari sana. Dia berjalan mundur saat Reva mendekatinya.  Tentu gadis itu ketakutan.  Dia hanya gadis biasa yang melihat pembunuhan brutal itu.


"Udah di tolongin,  gak sadar diri! " keluh Aila,  memanyun kan mulut nya.


"Kami enggak akan melukai mu?  Asal kau  menjawab beberapa pertanyaan dari kami" Tawar Reva. Gadis muda itu hanya menggangguk,  ia tak berani membuka suara. Dirinya terlalu takut.


"Siapa kau ini?! Ceritakan bagaimana kau bisa di sini" tanya Reva memulai interogasi.


"Sa..ya Maudy inanda. Saya anak kepala Desa dari Desa Muran, saya tersesat di sini. Dan orang tadi ingin--hiks... Kihsss" isak tangis nya sudah tak tertahan lagi.


Desa Muran?!  Itu kan Desa Terjauh dari Benteng Perbatasan.


"Kau sendirian?  Dimana warga Desa lain nya? "


Tiba - tiba Maudy tersentak,  dan menutup mulut nya dengan kedua tangan nya,  sembari menggeleng enggan.


"Tenang,  aku bersumpah tak akan menyakiti kalian"


"Aila" geram Reva, dengan malas Aila harus menurunkan pedang nya.


"Apa kalian akan menyakiti kami? " tanya Maudy gugup.


"Tak akan.. Aku bersumpah " sahut Reva meyakinkan.


Maudy mengangguk mengerti, dirinya segera menuntun Reva dan Aila, hingga langkah nya terhenti di depan Goa yang besar.


"Kak Maudy!! " seru seorang anak kecil berlari riang ke pelukan Maudy.

__ADS_1


"Warga Desa di dalam? " tanya Reva.


Maudy mengangguk pasti, dengan jantung nya yang berdegub sangat kencang.


"Tunggu... Biar aku masuk lebih dulu " pinta Maudy, langsung berjalan masuk mendahului langkah Reva.


"Ingin main jebakaan tikus? " bisik Aila, merasa curiga dengan gelagat Maudy.


"Takut sama jebakan nya? " cibir Reva menatap menantang pada Aila.


"Takut? Untuk seorang Aila Atmaja? Jangan bercanda" tantang Aila melangkah kan kakinya memainkan belati yang di pegang nya. Reva sendiri tersenyum miring. Sudah lama ia tak bercanda Dsngan Aila, apalagi Kai.


Tak... Tak...


Langkah kaki Reva dan Aila, di tengah Goa yang gelap itu. Mereka sudah berjalan beberapa menit, tapo masih tak menemukan adanya Warga Desa dan Maudy Sendiri.


"Kena tipu nih kita?? " tanya Aila menghentikan langkah nya.


"Emang kamu mau di cap bodoh?! " sahut Reva masih terus berjalan. Aila tentu mengerti maksud nya. Yang adalah harus memcari Maudy sampai dapat, dan minta penjelasan.


Reva menyipitkan matanya, memastikan bahwa memang di depan sana adalah Cahaya api.


"Ahh.. Aku dengar, ada Dua wanita pembunuh yang datang. Aku Pangeran Alden kertlan menyambut kalian" ucap Alden, Duduk membakar Ikan bersama Warga Desa Lain nya.


Tiga sosok pria yang ada di hadapan Reva dan Aila tentu mencengangkan Mereka.


Alden?! Apa yang di lakukan nya di sini?! devan Dan Ferry tentu ada karna Alden di sini. Tunggu... Apa dia mengenali aku?! Harusnya tidak kan? Jubah ini sudah rapat akurat

__ADS_1


Batin Reva, diam membeku. Entah apa yang harus di lakukan nya sekarang.


***


__ADS_2