
***
Halo Nak? Kita bertemu lagi? Kali ini Alden luar biasa kau tau? Dia menjebak selirnya. Tapi, lihat? Bagaimana para manusia berlidah tajam itu malah menyudutkan mu.
Tiba - tiba Reva mendengar suara itu dari Telinga Kanannya. Arh, ternyata Itu Dewi Kegelapan yang ukuran tubuhnya sangat kecil. Hingga bisa berdiri di telinga Reva.
Diam lah! Kau terlalu menyepelekan ku. Lihat, bagaimana aku akan mengatasi ini.
Sahut Reva berbisik. Hanya dia dan Dewi kegelapan mini yang bisa mendengar nya.
"Aila, Kau tau bagaimana aku mendidik mu? Ayolah. Tunjukan didikan nona mu ini. " Titah Reva pada Aila di sebelahnya. Reva yakin, Aila mengerti apa yang Reva maksud.
"Wah, dengan senang hati Nona. Anda tau? Aku sudah menantikan titah anda sedari tadi. Uh~ aku akan bersenang - senang sekarang. Lidahku~ mari beraksi. Kita lihat apakah orang - orang inu mampu berbicara. " gumam Aila enteng.
"Yang Mulia! Bagaimana sekarang?! Jika anda tidak menyentuh para selir! Maka anda tidak akan mendapatkan keturunan! Lalu siapa Raja berikutnya?! Siapa yang akan mewarisi takhta anda?!! " Desak Penasihat Itu lagi. Dia masih bersikukuh demi putrinya.
Banyak kusak kusuk bisikan dari semua tamu di Aula. Mereka berpikir apa yang Penasihat katakan ada benarnya.
"Hiks... Hiks... " Lirihan Aila itu sangat menyayat hati siapapun yang mendengar nya. Alunan lirihan nya membuat semua orang iba.
Memang anak didik ku.
Bangga Reva pada Dewi Kegelapan.
Haha! Apa yang coba dia akan lakukan?
__ADS_1
Reva hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Dewi kegelapan itu.
"Ada apa? Kenapa Kau menangis? " tanya Alden. Kali ini Alden benar - benar tidak tau trik Aila.
"Yang Mulia... Hiks... Kenapa? Kenapa mereka begitu kejam pada Nona ku? Dia sudah mengorbankan nyawa dan kekuatannya untuk melindungi Negri ini. Tapi, mereka? Lihat lah mereka?! Bagaimana dengan tidak tau dirinya mereka menghina Ratu kita! Ratu yang sudah banyak berjasa! " Aila mulai memainkan lidahnya.
"Jika memang ingin mengatakan hal itu. Kenapa harus di depan orang banyak?! Bukan kah itu artinya mereka ingin mempermalukan Ratu? Ratu tidak egois! Dia membiarkan Raja memiliki selir! Bahkan Ratu yang memaksa Raja! Aku benar kan yang mulia? " Aila melanjutkan nya. Ia melirik ke arah Alden meminta dukungan.
"Itu benar. Itulah kenapa saat ini aku memiliki selir! " sahut Alden enteng.
"Lalu, kenapa mereka semua menyudutkan Ratu? Apa salah Ratu? Dia sudah berkorban banyak! Hiks... Jika aku tau akan seperti ini saat dia menjadi Ratu. Mungkin aku sudah membawa nya jauh dari kerajaan ini lebih dulu. Mereka tidak tau terima kasih. Mereka tidak tau, Nona ku mengorbankan Ayah dan Kakeknya demi menyelamatkan Negri ini. Hiks... Kalian kejam! " Lirih Aila lagi. Matanya sudah banjir akan air mata.
"Apa kalian akan terus mendesak Raja dari Generasi ke generasi? " Pekik Kai mulai angkat bicara. Kai adalah pangeran Negri itu.
"Tidak! Yang Mulia! Kami mulai berpikir! Harusnya Jika anda tidak ingin! Dan Ratu Terpaksa! Untuk apa memiliki selir! Soal kutukan Yang ada! Aku rasa kita masih punya pangeran Dafa! Dia masih keturunan Raja. " seorang mentri membuka suara dan menyimpulkan satu hal.
Wah... Dia luar bisa, kau tau Nak? Dia menakjubkan.
Dia anak didik ku. Jelaslah menakjubkan.
"Untuk Selir Fina Dan Ayahnya! Karna telah berani menghina Ratu dengan segala pengorbanan nya. Dia adalah Ratu yang paling banyak berkorban. Tapi, kalian? Beraninya kalian menghinanya?! Kalian harus di hukum mati! " Seorang Mentri lagi menyuarakan pendapatnya. Alden tersenyum tipis. Dia tidak bisa tersenyum terang - terangan, kan?
"Bagaimana menurut yang lainnya?" tanya Alden menatap mereka semua.
"Hukum Mati Selir Fina dan Ayahnya! Ratu Adalah pahlawan besar! Dan mereka berani menghinanya! Ini penghinaan untuk kerajaan kita! " sahut salah satu dari mereka. Semuanya mengangguk setuju.
__ADS_1
Tinggallah, Fina dan Ayahnya yang adalah penasihat gemetar ketakutan.
"Baiklah! Aku sebagai Raja! Memberikan hukuman pengasingan untuk Selir Mira dan Jendral Yasha! Mulai hari ini! Mira bukan lagi selir Ku! Untuk Selir Fina dan penasihat Shej. Aku memberikan hukuman mati pa--" titah Alden terpotong.
"Tunggu! Yang Mulia ini tidak baik! Jangan hukum mati Selir Fina dan Penasihat Shej. Kita juga harus mempertimbangkan pengabdian Penasihan shej selama ini. Akan lebih baik, jika kita memberinya hukuman penjara seumur hidup!" Seru Reva. Semuanya diam, mereka mulai memikirkan ucapan Reva. Yang Reva katakan ada benarnya. Mereka tidak bisa mengabaikan pengorbanan Penasihat Raja sebelumnya.
"Bagaimana menurut kalian? "
"Yang Mulia Ratu sangat dermaean dan baik hati! Sangat bijak sana! Semoga Anda bahagia! Anda sangat bijak! Kami setuju atas apa yang Ratu katakan! " sahut salah satu dari mereka. Mewakili suara mereka semua.
"Baiklah, Sudah diputuskan. Selir Fina dan penasihat Shej, akan dihukum di penjara seumur hidup! " Alden akhirnya menjatuhkan titahnya.
Kau payah sekali Nak. Kau harusnya membunuh mereka!
"Nona--"
"Aku bukan orang baik Aila. Kau tau? Aku tidak bisa membiarkan mereka mati begitu saja setelah menghinaku. Aku mau, kau siksa mereka di penjara. Bagaimana? " sahut Reva berbisik. Aila mulai tersenyum, dia yakin. Bahwa orang ini benar - benar Nonanya.
Menarik sekali...
Bruakh!!!!
Tiba - tiba Reva jatuh pingsan.
***
__ADS_1