Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Enam


__ADS_3

***


"aih... Cukup sulit juga menidurkan bocah ini" keluh alden yang saat ini sudah berbarinh di sebelah Dafa yanh tengah terlelap.


Kalau sedang tidur,  wajah nya cukup imut.


"Alden?!  Apa yang kau lakukan?! " teriak Reva yang baru saja datang,  dengan langkah kaki yang di hentak menghampiri Alden.


"yang kulakukam adalah menidurkan Dafa.  Kau sendiri apa yang kalu lakukan?  Sebagai ibunya kau tidak mendampingi nya,  sangat mengecewakan.  Dan di tambah kau terlalu berisik.  Syukurlah anak ini tidurnya begitu pulas" sahut Alden yang menoleh ke arah Reva.  Tampak Alden sedikit kesal karna keterlambatan Istrinya.


"Diam kau!  Kau tak berhak mencibir ku!  Kenapa kau memindahkan seluruh barang - barang Dafa ke sini?! "


"karna Dafa ingin tidur di sini"


"kau bohong,  Dafa jelas - jelas ingin tidur dengan ku! "


"itu dia masalah nya,  saat ini dia adalah pangeran kerajaan, cucu pertama Raja.  Apa yang akan anak bangswan lain katakan saat Dafa di usianya masih tidur dengan mu,  dia akan di ejek nantinya"


Reva terdiam.  Kali ini alasan yang Rei lontarkan cukup masuk akal untuk di terima logika nya.


"lagi pula,  kamar ini dialah yang meminta nya.  Aku secara khusus membuat kamar ini untuk nya"


Reva hanya diam tak menggubris perkataan Alden,  namun matanya berkeliling menatap setiap sudut ruangan ini.  Tampak banyak sekali buku tertata rapi.  Banyak pakaian baru berbahan katun yang bagus,  juga beraneka ragam macam senjata  di sana. 


Alden benar.  Kamar seperti inilah yang Dafa inginkan.  Bahkan jika aku menjadi Dafa. Maka aku juga akan memilih kamar ini


Batin nya masih takjub dengan ruangan ini.


"lagi pula,  jika Dafa terus tidur bersama kita.. Kapan dia akan mendapatkan banyak adik? " tambah Alden lagi. Tidak seperti sebelumnya yang si abaikan oleh Reva.  Perkataan Alden yang baru ini sukses besar mendapat respon sebuah timpukan dan pelototan tajam dari Reva.


Alden dengan senang hati menerima timpukan itu,  sebelum akhirnya dirinya menggendong Reva secepat kilat kembali ke kamar mereka.


Alden yang menggendong Reva ala Bridal Style.  Kini,  dengan perlahan meletakkan tubuh mungil Reva di ranjang. Alden hanya membalas senyuman saat Reva sedari tadi mempelototi nya.

__ADS_1


"oh yah hari ini kau terlambat, aku sudah memintamu untuk pulang sebelum gelap, tapi sekarang? lihatlah, kau sangat terlambat"


"kau ingin menghukum ku? "


"tentu saja" tanpa ba bi bu lagi Alden langsung mendarat kan ciuman nya di bibir Reva. tampak mata Reva membesar seketika. Reva yang kesal membelakangi Alden. tak ingin dirinya menatap Alden, atau mungkin tak ingin pipi merona nya terlihat oleh Alden?


"sudah lah,  hari ini jangan bertengkar.  Lusa aku pergi ada urusan,  biarkan malam ini aku menghabiskan malam yang hangat sebelum malam yang dingin itu tiba" katanya memeluk Reva yang terbaring dari belakang. Reva tak ingin menoleh. Namun,  perkataan Alden yang ingin pergi menggusarkan hati Reva.


"kau ingin pergi kemana?  Apakah perang? " tanya Reva.


"mungkin begitu"


"ka.. Kau.. Kau.. Jaga dirilah baik - baik,  dan jangan terluka"


"oh?  Permaisuri tercintaku mengkhawatirkan aku? "


"bukan mengkhawatirkan mu,  tapi diriku sendiri. Akan sangat merepotkan kalau aku menjadi janda"


Reva tak ingin merespon lebih dalam,  ia khawatir bahwa dirinya akan larut dalam rayuan maut Alden.  Dan itu akan sangat bahaya.


***


Reva menggerak kan tangan nya,  sedikit terlihat meraba mencari satu hal.  Namun,  akhirnya ia tak mendapat kan apapun.  Suaminya yang memeluknya hangat kemarin malam telah pergi. ia bangkit membuka matanya perlahan.


"Nyonya mencari pangeran Alden? " tanya Aila yang sudah menyiapkan baju untuk Reva.


"tidak juga,  dia pergi  kembalinya lusa"


"ini kelihatan tidak seperti nona 'presdir ' atmaja Group ku? "


Reva tersentak halus,  dia sudah menduga bahwa Aila akan kembali mengingatnya hanya saja kapan itulah yang Reva tak tahu.


"ingatan mu sudah kembali?? "

__ADS_1


"ini semua karna ulah Kai.. Dia membiarkan ku merasakan sakit yang amat luar biasa"


"oh?  Jadi kalian sudah bertemu? "


"iyah,  oh yah presdir, nanti malam bagaimana jika kita melakukan Reunu kecil - kecilan "


"haha,  boleh juga.  Persiapkan lah tempatnya" Reva beranjak dari tempat tidurnya,  ia masih menciun aroma Alden di tubuhnya.  Di dekap Alden satu malaman nembuat tubuh nya sangat kaku.


***


"bibi Ayana,  mulai dari kemarin ada yang mengganjal hatiku.  Sebenarnya putri Nadia anak siapa ??" tanya Reva yang duduk di ruang bacanya. Sambil membaca buku dengan bibi Ayana di depan nya.


"apakah putri belum dengar?  Putri Nadia adalah anak dari Ratu pertama? "


"Ratu pertama?!  Maksud mu Ratu yang sekarang adalah Ratu ke dua? "


"benar putri.  Ratu pertama setelah Melahirkan putri Nadia,  beliau meninggal dunia. Ini di sebab kan oleh penyakitnya "


"oh,  begitukah?  Baiklah bibi Ayana sudah boleh pergi"


"bibi pamit pergi putri "


Bibi Ayana segera meninggalkan Reva sendiri.


"Akan lebih masuk akal jika Ratu itu mati karna intrik kerajaan" gumam Reva membolak - balik kan kertas nya. Mengapa Reva tiba - tiba tertarik pada putri Nadia?


***


Ayiooo like, komen, and vote yah


Jangan lupa follow me juga


Story by Rini Ir

__ADS_1


__ADS_2