Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Delapan


__ADS_3

***


Hari ini adalah hari dimana penjamuan pengangkatan Resmi Dafa. Tapi,  kedua orang tua Dafa masih asyik berpelukan saling menghangatkan di ranjang.  Tal ada satu orang pun yang berani membangunkan mereka.


Dafa lah yang dengan polos nya masuk ke kamar atau lebih tepat nya Dafa yang baru mengobrol dengan Aila.  Aila hanya mengobrol tidak mungkin kah mempengaruhi Dafa apalagi manyuruh Dafa membangunkan keduanya??


"Ayah!! Bunda!  Sampai kapan kalian mau tidur!  Hei matahari sudah tinggi!! " teriak Dafa lompat keranjang orang tua nya.


Aih anak ini benar - benar mengacaukan nya.  Tidak tahukah dia aku sedang berusaha keras bersusah payah bernegosiasi agar dia mendapatkan adik


Batin Alden yanh sudah bangun namun masih menutup akurat rapat matanya.


"hnmn Dafa,  apa yang kau lakukan? " tanya Reva yang memang murni baru bangun tidur. eh baru? lalu yang bernegosiasi dengan Alden siapa? aih sepasang suami istrin ini benar - benar membingungkan.


"Bunda!  Hari ini adalah hari peresmian ku menjadi pangeran!  Sampai kapan kalian ingin tidur!  Sampai malam ke malam " sahut Dafa. Reva tersentak halus.  Ia ingat Dafa yang begitu polos tak kan mengucapkan kata - kata ini.  Dan Hanya Aila lah yang mampu meracuni otak polos nya Dafa.


Aila.. Lihat bagaimana nona mu menghukum mu. tapi bagus juga dibanding mendengar bisikan menyebalkan Alden sedari tadi.


"Dafa, lain kali jangan dengar kan kata bibi Aila yah" pinta Reva lembut seraya memberikan satu kecupan di pucuk kepala Dafa. Dafa hanya mengangguk perlahan.


***


"aih nona kejam sekali memghukum ku seperti itu.  Padahal aku hanya mencari cara membangunkan mu dan Pangeran.  Harusnya anda berterima kasih padaku" keluh Aila berbisik saat masuk ke istana.


"Tidak dengan meracuni otak polos Dafa" sahut Reva .


"apa yang kalian bisik kan?" tanya Alden menatap ke arah permaisurinya.


"Rencana pembunuhan yang akurat untuk mu... kau sudah terlalu sering mengganggu hidup ku! " sahut Reva santai. Alden hanya membalas nya dengan senyuman tipis.


***


"Hari ini aku mengadakan penjamuan khusus untuk meresmikan cucu pertama dari putri tunggal ku Nadya.  Dan cucuku adalah Dafandra Kertlan.  Mulai hari ini dia adalah pangeran negri ini!!" ucap Raja berdiri dan dengan Dafa yang ada di gendongan nya.


"yang mulia tapi--" salah satu mentri menyahuti.

__ADS_1


"tidak ada tapi - tapian. Anak dan menantuku telah menyadarkan ku.  Mereka benar, Yang bersalah adalah Nadya dan dia sudah di hukum untuk penebusan dosanya. Tidak ada sangkut pautnya pada Dafa yang tidak mengerti apapun.  Jadi,  aku juga sudah memutuskan akan memberikan Hak Asuh cucu ku pada pangeran Alden dan menantuku Reva"


"kami dengan senang hati menerima anugrah yang mulia Raja" sahut Alden dan Reva bersamaan yang tertunduk hormat.


"kalian lihat lah,  dia adalah menantuku dan aku bangga sekali atas keberanian dia menyampaikan argumen nya.  Hidup Pangeran Dafa.  Bahagia selalu untuk pangeran dan putri ke empat! "


"Hidup yang mulia Raja! Hidup pangeran Dafa!  Bahagua selalu untuk pangeran dan putri ke empat! "


Kalimat itulah yang para tamu ucapkan, begitu menggema di isatana. pujian untuk Reva dam Alden tentu mendatangkan kecemburuan bagi pangeran dan para selir lain nya. Khususnya pangeran Zefan yang sudah sangat gusar menahan sulutan emosi nya.


"menyapa kakak ke empat dan kakak ipar" ucap seorang yang menghampiri Alden dan Reva.  Reva mengenalnya dia adalah Kai. Reva sadar Yah Kai yang di hadapan nya saat ini bukan lah Kai tangan kanan nya,  melainkan pangeran Kelima.


"oh adik kelima?  Ada apa? " sahut Alden.


"sepertinya kakak keempat tadi di panggil oleh Ayah"


"humm aku pergi dulu,  permaisuri tercinta ku.  Jangan sampai terluka" pinta Alden yang di tuntun ke arah Raja. dengan meninggalkan tatapan yang menusuk untuk Kai.


Kini hanya tinggal tiga orang ini,  yang menahan senyum saat menatap Zefan dan Riana yanh berbisik di ujung sana.


"oh?  Apa yang sedang mereka bicarakan?? " sahut Reva menaikkan alisnya.


"Hei.. Apa kau sudah memasukkan obat perangsang itu di minuman Reva? " ucap Kai dengan nada menirukan gaya Zefan.


"pangeran tenang saja.  Aku sudah menuyuruh pelayan yang melakukan nya. Lihat saja kali ini Reva tidak bisa lepas lagi.  Dia sudah menghina kita,  maka ini balasan ny! " sahut Aila ikut bergaya seperti Riana.


"Reva!  Jangan salahkan aku,  kau yang memaksaku mempermalukan mu!  Sekarang rasakan akibatnya!! " Kai sepertinya dengan luar biasa membaca gerak bibir Zefan.


"Pffttt..haha.. Cukup.. Kalian jangan menirukan mereka lagi.. " pinta Reva sedikit tertawa kecil.


Alden yang melihat Reva tertawa dengan pangeran Kelima.  Tentu saja tersulut emosi,  ia meninggalkan Ayah nya dan langsung menghampiri mereka.


"kalian pergi lah dulu " pinta Alden kepada anggota yang berada di sekitar mereka.


"ada apa?  Kenapa wajah mu terlihat marah?! " tanya Reva dengan nada polosnya.

__ADS_1


"karna kau tertawa.. Ingat tawa mu ini hanya boleh aku yang melihat nya.  Aku tidak suka bila orang lain menikmati tawa mu.  Bahkan jika bisa mereka juga tak boleh melihat wajah mu,  hanya aku yang boleh melihat segalanya tentang dirimu" pekik Alden halus.


"oh,  jadi maksudmu?  Kau ingin mengurungku?!"


"Yah itu benar,  aku bisa saja mengurung mu bila kau tidak menurut.  Aku tidak suka bila kau berdekatan dengan pria manapun.  Termasuk saudara se ayah ku! "


Reva diam, ia tak ingin melanjutkan perdebatan ini.  Yah ini memang bukan tempat yang tepat untuk berdebat.


Jika bukan karna tanda mawar biru ini, yang membuatku sakit setiap kali mengeluarkan kekuatan. aku pasti sudah membungkam rapat mulut mu itu.


Tiba - tiba seorang pelayan datang dan membawakan sebuah minuman yang memang hanya tertinggal satu. Reva tanpa ragu - ragu mengambil nya.


"Jangan diminum,  ada racun nya" ucap Alden yang duduk berdua sedari tadi bersama Reva. Alden mengenali racun hanya dengan menatap nya saja.


"aku tahu, aku hanya ingin melihat orang yang menjebakku tertawa puas sebelum akhirnya menangis tersedu" sahut Reva meminum minuman nya,  atau lebih tepatnya menuangkan minuman ke baju nya. Tak ada yang dapat melihat nya.


Ahh dia masih sangat perhatian


"siapa yang berani menjebak permaisuri ku?!"


"siapa lagi kalau bukan kakak kedua mu dan saudara tiriku.  Yah perpaduan yang sempurna untuk orang semenyeedihkan mereka"


Sudut bibir Alden terlihat naik, ia tersenyum tipis melihat perilaku permaisuri nya ini.  Yang ada dalam pikiran nya hanyalah bahwa Reva sudah tidak mencintai Zefan lagi.  Dan itu adalah sumber kebahagiaan untuk Alden sendiri.


Satu jam kemudian, Penjamuan masih berlangsung. Namun kegusaran dan kegelisahan tampak jelas pada wajah pangeran Zefan. Dirinya terus menatap Reva yang masih tidak bereaksi apapun.


"Sial!! " desis nya berjalan ke luar istana untuk memaki dan melampiaskan kemarahan nya. Tiba - tiba ada seseorang yang memukulnya dari belakang. Entah apa motif orang itu sebenarnya. Dan siapa orang itu? Pakaian nya serba hitam dan tak dapat dikenali.


***


.gantung? Hehe iyah wkwk


Kaya perasaan ini, haha


Ayoo tinggalin jejak yah

__ADS_1


Like, komen and vote yah


__ADS_2