Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua belas


__ADS_3

***


"ukhhhh.... Ehnnnn ennnnm" erangan dengan suara lembut Reva yang menggeliat pagi hari itu.  Dengan tubuh mungil nya yang masih terbalut selimut hangat.


"nona,  selamat pagi" suara ceria Seira pagi itu membangungkan Reva.


"uhmmm...  Pagi!  Siapkan air,  aku ingin mandi.  Dan sarapan nya bawakan ke sini"


"eh aman nona"


"apa Aila sudah pergi?? "


"mengecewakan nona,  aku tidak pergi hari ini.  Ini hari pertama nona di kediaman pangeran ke empat.  Bagaimana mungkin aku meninggalkan nona?? " sambung Aila dari pintu masuk,  tersenyum hangat pada Reva.


"Aila,  jaga nona. Aku akan mengambilkan sarapan dulu" Seira pergi berlari kecil layaknya anak kecil yang mendapat rumah baru.


"nona, Ada apa dengan mu? " tanya Aila menata rambut Reva. 


"maksudmu?? "


"raut wajah anda sejak kemarin kelihatan sangat gusar.  Seperti bukan nona yang biasanya"


"sebegitu kelihatan nya kah?? "


"begitulah nona"


"humph!!  Ini tak boleh terjadi lagi.  Nona muda presdir Reva harus tenang!" batin Reva memejamkan matanya.


"apa ada sesuatu yang baru di 'bar' kita??"


"tak ada yang spesial nona.  Semuanya membahas pernikahan megah anda"


"begitukah?? "


"eh ada yang lain nona. Akhir ini,  seseorang yang di sebut pendekar hitam tengah ramai di perbincangkan.  Karna keberhasilan nya membunuh para perampok terkenal.  Bahkan raja sendiri ingin menemuinya"


"pendekar hitam??  Cari tahu informasi tentang dia"


"baik nona. Lalu--" ucapan Aila terpotong saat Seira masuk dengan ceria nya.


"nona,  ini semua makanan enak untuk mu. Nona,  kepala pelayan di sini Ayana.  Dia menunggu anda untuk menjelaskan peraturan di kediaman pangeran" ucap Seira menyajikan banyak makanan lezat itu.


"setelah ini kita akan menemuinya"


***

__ADS_1


"apa hanya perasaan ku??  Kenapa pelayan di sini terlihat lebih ramai dari yang sebelumnya?? " tanya Reva menatap para pelayan yang tak ingat sudah berapa banyak di temui sepanjang jalan.


"eh iyah. Seira baru sadar nona" celetuk Seira ikut menimpali.


"aishh... Inilah yang ingin aku sampaikan tadi nona.  Pelayan ini dapat di pastikan jauh lebih banyak dari yang sebelumnya" tambah Aila memijit dahinya pelan..


"wah bagus lah!  Nona tidak perlu kerepotan lagi.  Ada begitu banyak pelayan di sini. Seira sangat senang"


"nona, nona,  nona!!  Tidak tahukah mereka aku ini sudah menikah!  Panggil aku nyonya!!" batin Reva geram sekali.


Ctakk!! Jitakan Reva meninggalkan bekas merah di kepala Seira.


"aku tak suka keramaian.  Dan satu hal lagi,  aku ini sudah menikah. Panggil aku nyonya! Humph!! " ketus Reva berjalan pergi meninggalkan kedua pelayan nya yang masih heran melongo.


"eh,  ada apa dengan nona?? " gumam Seira.


"bukan nona,  panggil dia nyonya!  Dasar Seira bodoh" sambung Aila berjalan mengikuti Reva.


***


"salam kepada nyonya muda.  Saya Ayana,  kepala pelayan di sini" ujar wanita paruh baya itu membungkuk sopan.


"bankit lah,  lain kali hanya perlu menundukkan kepala.  Tidak perlu membungkuk,  usia bibi sudah tidak muda lagi" Balas Reva membantu bibi Ayana bangkit berdiri.  Ayana sendiri tertegun,  begitu juga pelayan yang lain nya.  Pasalnya,  putri bungsu perdana mentri ini amat sangat sombong dulu nya.


"aku terima,  mohon bimbingan bibi kedepan nya yah"


"nyonya,  saya adalah pelayan anda. Panggil saja saya pelayan"


"lalu kenapa jika aku memanggilmu bibi?  Siapa yang akan marah?  Pelayan atau bukan,  orang yang lebih tua harus dihormati" Reva tersenyum dengan hangat dan lembut.  Sekali lagi,  mereka semua tertegun.  Senyuman Reva membuat Ayana teringat akan Nayla. Nayla ibu kandung Alden.


*Flasback


"nyonya selir,  silahkan ikuti pelayan berkeliling" ujar Ayana muda.


"kakak!  Aku akan memanggil mu kakak,  jadi jangan sebut dirimu sebagai pelayan yah. Mulai sekarang kau adalah kakakku! " ujar Nayla muda,  wajahnya sangat cantik.  Perawakan yang anggun dan lembut.


"Kenapa bisa begitu?? "


"karna aku menginginkan nya.  Kelak di masa depan,  mohon bimbingan kakak yah.  Adik mu ini sangat ceroboh" bayangan ingatan Ayana perlahan menghilang. Terganti oleh Reva gadis mungil di hadapan nya*.


"bibi baik-baik saja kan?? " kembali Reva menanyainya.


"bibi baik - baik saja nyonya" Pelayan paruh baya itu tersenyum hangat.  Sepertinya dia kembali menemukan sosok Nayla.


"eh iyah bibi.  Kenapa para pelayan di sini terlihat lebih banyak dari sebelum nya?? "

__ADS_1


"uhmm.  Itu nyonya...  Pangeran meminta saya menyediakan banyak sekali barang mewah, dan bahan pakaian katun.  Juga pelayan yang begitu banyak"


"apa sebelumnya kita kekurangan pelayan?? "


"tidak nyonya. Kami para pelayan sebelumnya,  bisa mengurus kediaman ini dengan sangat baik.  Sebenarnya,  kami sudah cukup untuk mengurusi kediaman"


"itu benar sekali!  Dulu,  waktu aku datang kesini,  kediaman ini juga masih sangat cantik dan terawat.  Apalagi,  taman nya.  Sangat indah dengan berbagai bunga" batin Reva mengerti.


"kalau begitu untuk apa memiliki pelayan yang begitu banyak.  Bukan kah pemborosan?! Panggilkan seluruh pelaya di sini! " perintah Reva.


Bisikan mulai terdengar,  mereka sangat ketakutan.  Reva putri bungsu perdana mentri terkenal sangat keji dan kejam.


"pelayan nya?  Perempuan semua? " batin Reva heran.


"ehmm.. Ini.. Sebelum nya aku minta maaf.  Tapi,  bagi kalian para pelayan baru,  kalian semua di persilahkan mengangkat kaki dari kediaman pangeran ke empat.  Sebagai pesangon,  aku memberikan 10 koin emas,  untuk masing - masing dari kalian" jelas Reva.


"ehmm,  nyonya tidak seperti yang dirumor kan.  Bukan hanya tidak kejam,  dia juga sangat baik. Bahkan sangat lembut,  berbicara  dengat kata kata yang begitu lembut.  Menggunakan kata maaf hanya untuk para pelayan. Entah kenapa,  aku merasa dia mirip sekali dengan Nayla.  Adik ku,  kau memiliki menantu yang baik" batin Ayana menatap Nyonya muda barunya itu.


Barisan antrian terlihat rapi,  keluar dari pintu utama kediaman pangeran ke empat.


"uhhhhh... Lelah nya...  Eh iyah?!  Aku ingat!  Sudah lama sekali aku tidak makan,  masakan buatan ku sendiri"


"Bibi,  bisakah menemani ku masak?  Aku lapar" ujar Reva cengengesan.


Tentu saja perkataan aneh nya ini sukses membuat para pelayan yang ada di sana terkejut melongo.


"ampuni kami putri!  Ampuni  kami! " suara nyaring beruntun itu terdengar dari seluruh pelayan kecuali Ayana,  Seira,  dan Aila.  Para pelayan itu sudah berlutut rapi.


"nyonya  Kalau masakan kami tidak enak?  Nyonya bilang saja.  Tidak perlu masak sendiri. Kalau marah pada pelayan mana saja,  silahkan pecat yang mana yang nyonya mau" pinta Ayana sangat gugup.


"ehhh??  Aku hanya ingin memasak,  aku merindukan nya.  Apa aku dilarang memasak di rumah ku sendiri?? "


"nyonya.. Itu..."


"akh.. Sudah aku putuskan,  hari ini kita semua akan masak dan makan bersama.  Siapkan alat dan bahan,  kita akan memasak di halaman belakang"


Ucapan Reva kali ini tentu saja masih dicoba untuk di cerna para pelayan nya.


"ukh... Tunggu apa lagi,  tunggu nona kelaparan.  Ayo cepat " perintah Seira.


***


Ayoo like,  komen, and vote


Jangan lupa follow yah

__ADS_1


__ADS_2