
***
Maaf Bunda, Tapi... Reva tetap akan mencari cara untuk membangkitkan bunda. Bahkan, jika nyawa Reva taruhan nya.
Lanjut nya dalam hati. Kini ia benar - benar berharap Aila akan bangkit.
Tubuh Aila bersinar. Mengeluarkan cahaya biru. Tiba - tiba sayap hitam yang sedari tadi membentang kaku sirna begitu saja. Wajah dan tubuh Aila yang menghitam sudah kembali normal.
"Argghhh!!! " teriak Reva, ia memegang bahu nya. Bahu yang ada tanda mawar biru itu. Perih, sakit, namun Reva harus tetap bertahan.
Perlahan Tapi pasti. Aila membuka mata nya, sosok yang pertama kali di lihat nya adalah Reva. Yah, nona muda kesayangan nya.
"Nona, ini An--"
"Aila!! Diam lah! Kau bodoh! Aku harus banyak mendidik mu! " Kesal Reva, tangis pecah. Ia langsung meemluk erat bagian dari tubuh nya ini.
"Jangan tanya mengapa aku bisa menyelamatkan mu. Atau jangan tanya bagaimana?! Aila dengar, Jangan bodoh tetap lah hidup! Aku menyayangi mu!! " teriak Reva lagi, meluruskan tatapan nya pada Aila. Aila masih diam terpaku, dia masih di ambang kebingungan.
"Nona, tapi... Aku sudah gagal. Aku gagal melindungi Ayah dan Kakak anda. Aku gagal! "
"Aku mengizinkan mu untuk memamrahi diri mu sendiri! Aku mengizinkan mu untuk putus asa dengam kegagalan mu. Tapi, tidak sekarang. Tidak saat ini!! "
Aila mengedarkan pandang an nya. Kacau, benar - benar kacau suasana itu. Bukan lagi perang Antara Bangsa Rambell dan Netcher, tapi ini sudah sangat parah.
"Nona, keadaan ini? Bagaimana bisa terjadi? Dan lubang hitam itu, semakin besar? Daya hisap nya semakin kuat? " kacau Aila, dia mulai gemetar. Lubang itu sudah terlalu besar, sejak Aila melihat nya.
__ADS_1
"Itulah tugas mu saat ini. Lindungi Ketiga Tubuh ini. Kau memiliki kekuatan elemen es sekarang. Jadi, ini tugas mu. Lindungi tubuh mereka. Aku akan membantu Alden"
"Tapi Nona? Anda? "
Reva langsung melesat begitu saja, menuju ke atas sana. Tempat dimana Alden juga sedang bertarung.
Nona, anda luar biasa. Bahkan, anda sudah berhasil membangkit kan Fisik Phoenix Legenda. Maka, Aku juga tak kan menyiakan kesempatan ini. Aku akan berusaha, melindungi mereka. Dengan kekuatan yang kau berikan. Berjuang lah ! Aku yakin kau akan menang! Karna kau adalah Reva! Ini perjalanan hidup mu!! Perjalanan Reva!!
Batin Aila, ia menatap yakin akan nona nya. Aila menggerakkan tangan nya ke arah jasad kaku itu. Tampak, Es sudah membungkus tubuh ketiga nya. Aila butuh konsentrasi penuh, agar Memperkuat Es nya, supaya tidak terhisap oleh Lubang Hitam Besar itu.
---
"Alden!! " teriak Reva, Alden menoleh. Menatap tersenyum ke arah permaisuri nya itu. Tampak napas Alden sudah tidak beraturan, itu semua karna ia kelelahan menyerang lubang hitam itu.
"Reva, ada makhluk di balik sana. Aku curiga bahwa Lubang Hitam ini adalah mulut nya. Jadi, jangan sampai kau tersedot ke dalam sana. Terlalu berbahaya" peringat Alden, ia khawatir. Bahkan terlalu khawatir, jika terjadi sesuatu pada permaisuri kecil nya.
Begitu juga dengan Alden, yang terus menyerang menggunakan bola api itu.
Wrahhhhhh!!!
Suara Gemuruh itu keluar dari lubang hitam itu, bahkan lubang itu mengeluarkan bola -bola hitam keunguan. Banyak sekali, membuat Reva dan Alden terbang terpisah menyilang.
"Reva, Ayo serang bersamaan! " titah Alden. Alden bersiap dengan bola api nya yang kian lama kian membesar, sangat besar. Itu bola api yang lebih besar dari yang sebelumnya.
Reva bersiap dengan ribuan serpihan kristal biru nya.
__ADS_1
Wushh!
Wushhh!!
Serpihan - serpihan itu melewati bola api milik Alden. Membuat Serpihan itu berubah berapi. Ribuan kristal berapi itu akurat mengenai satu lubang hitam di sana. Secara perlahan lubang itu kian lama semakin mengecil.
Alden dan Reva menghela napas lega, sembari kedua nya saling menatap bahagia. Namun, Serpihan kristal berapi itu masih Reva tujukan pada Lubang yang sudah mengecil di sana.
Bhuooommmmmm!!!
Ada ledakan besar yang luar biasa. Membuat Alden dan Reva terhempas jatuh ke bawah tanah. Syukur lah, Akrein dapat menghentikan jatuh nya Afisen.
Ledakan nya berasal dari lubang itu, lubang itu kembali membesar. Bahkan ukuran nya, lebih besar dari yang sebelumnya.
"Jika Seperti ini terus, Kita tidak akan pernah menang. Kita hanya akan kalah karna kelelahan. Dia terlalu hebat" seru Afisen, Naga merah itu sudah kelelahan, tampak api yang berkobar di sekitar nya mengecil.
"Jika kita ingin menyerang! Harus dengan serangan yang sangat Dahsyat! Hingga bisa melumpuhkan nya!! " sambar Alden.
"Dia benar Reva. Hanya ada satu cara agar kita bisa menang. Namun, risiko nya juga sangat berat" tambah Akrein.
"Apa maksud mu Akrein? Bagaimana caranya? " tanya Reva, yang juga membuat Alden dan Afisen serius menatap Akrein.
"Aku akan bergabung dengan Naga merah itu. Kami akan menjadi satu fisik. Lalu kalian berdua secara selaras harus mengendalikan tubuh kami! "
***
__ADS_1
Nexttt??
Lanjuuttt??