
***
"Alden? Apa Kita Akan meninggalkan Dafa di sini? " Tanya Reva, duduk di pangkuan Suaminya.
Jangan katakan Reva yang ingin. Tapi, ini ulah Alden yang memaksa. Saat Alden duduk sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang kurang. Hingga ia meminta Reva untuk duduk di pangkuan nya.
Sepertinya saat Aku menjadi Raja Nanti. Aku harus meminta ganti Kursi, agar lebih lebar. Jika sempit, Reva tak kan muat di kursi itu.
Batin Alden. Ia mengabaikan pertanyaan Reva. Yang ia pikirkan hanya Reva, dan Reva.
"Alden. Apa Dafa akan di sini? Apa kita akan meninggalkan nya? " Tanya Reva lagi, menatap serius retina Alden.
"Dia harus di sini Sayang. Kau tau, Dafa harus di latih. Ini lebih baik untuk nya. Kau mengerti kan? Ini demi kebaikan Dafa sendiri. " Terang Alden. Ia menarik kedua lengan Reva, mengalungkan nya di leher jenjang miliknya.
"Berapa lama Dafa akan di sini? Apakah sangat lama? Aku bisa kesepian. " Gerutu Reva.
"Mungkin beberapa tahun dan Kau tak akan sedih. Kita akan memiliki anak nanti. Kau tidak akan sedih dan sepi. " Tambah Alden. Masih dengan gerakan tangan, ia melingkarkan nya manis di perut Reva.
"Baiklah, Aku ingin bertemu dengan Dafa sekarang. Besok kita harus kembali ke istana kan? "
Alden mengangguk patuh. Alden bahkan Alden tak pernah menggeleng jika yang meminta adalah permaisuri tercintanya.
Alden yang Bucin ini? Ya Tuhan. Seperti nya aku memang benar - benar beruntung mendapat Suami seperti ini.
Batin Reva, Ia dengan lembut dan pertama kalinya mencium bibir Alden lebih dulu. Yah, dia bisa leluasa Karna Alden saat ini tak memakai Topeng lagi, khusus di depan Reva. Soal Lumpuh? Bahkan sudah hampir seluruh Kerajaan Flawyard dan Kerajaan Tetangga tau bahwa Alden sudah pulih dari Lumpuh.
Kau tau? Aku bisa gila kehilangan mu.
__ADS_1
Batin Alden, ia mengeratkan pelukan nya pada Reva. Sembari menghujani wajah Reva dengan banyak kecupan singkat.
Sejarah Pertarungan Reva Dan Alden melindungi Dunia sebulan yang lalu sudah menjadi legenda cerita di mana - mana. Dan, Tak ada yang tau, kecuali Keluarganya. Bahwa, Ternyata Reva kehilangan seluruh kekuatannya.
"Kenapa tidak pakai topeng? Ingin memamerkan wajah tampan mu itu? Agar banyak yang menyukaimu? " Pekik halus Reva. Entahlah, gadis itu merasa sangat risih oleh banyak nya pelayan wanita yang melihat Alden.
"Apa kau cemburu?" Tanya balik Alden mencoba menggoda Permaisuri nya.
"Apa Aku tidak berhak cemburu? "
"Kau berhak. Sangat berhak. Dan kau kelihatan sangat menggemaskan saat cemburu. Aku menyukainya. "
***
"Dafa sayang. Baik - baik di sini, yah? Bunda dan Ayah akan kembali ke Istana. " Lirih Reva. Ia yakin, Dafa saat ini sedang sangat terpukul karna harus berpisah dengan bunda seperti Reva.
"Dafa. Ingat Apa yang Ayah katakan. " Alden menekan setiap katanya. Dafa mengangguk mengerti.
Reva mengernyitkan dahinya heran. Ia merasa aneh dengan Suaminya ini.
"Bunda Reva tenang saja. Dafa akan baik - baik saja dengan kakek Nanti. Dan Bunda, Jangan ragu memberikan ku banyak adik? Oke? " Tanggap nya. Reva terbelalak kaget. Ia menatap Dafa melotot, seolah mengatakan. Apa yang Kau katakan pada Anak ku? Kau penghasut! Begitulah kira - kira yang Reva pikirkan.
Alden mengedikkan bahunya enteng, sembari menebar senyuman Manisnya. Seolah menjawab pertanyaan Reva. Dia anak ku,. Pasti mengikuti jejak ku. Jangan heran.
"Dafa baik - baik di sini. Oke? Jangan membuat kakek repot. "
"Baiklah Bunda. Dafa sayang bunda, Dafa juga akan sering mengunjungi bunda di istana. Bunda jaga diri. " Dafa memeluk erat Reva. Meski Alden sudah menghiburnya. Jelas Daga sangat merasa kehilangan jika jauh dari sosok ibunya saat ini.
__ADS_1
"Bunda menyayangi mu. " Reva mengecup pucuk kepala Dafa. Cukup lama.
***
Akhirnya rombongan kereta Reva sudah berjalan keluar dari Gerbang Utama Mansion Bangsa Ksatria Murni.
Ratu Pertama tidak mati. Dia hilang entah kemana.
Kata - kata ini masih terngiang jelas di kepala Alden. Ini adalah sumber masalah baru baginya. Alden sudah memutuskan untuk mencari di mana Bibinya itu berada? Dan apa yang terjadi sebenarnya? Apakah Akan menguak misteri lainnya?
Alden memijit kepalanya yang nyut nyutan. Reva yang ada di sebelah Alden juga Tengah asyik dengan lamunan nya sendiri. Sebenarnya dia hanya mengkhawatirkan Dafa.
Dafa...
Semoga kau baik - baik saja.
Reva menatap keluar jendela. Hijau. Yah itulah pemandangan yang di lihat nya sepanjang jalan ini.
"Dafa akan baik - baik saja kan? " Tanya Reva membuyarkan lamunan Alden juga.
"Dia putra kita. Apa yang akan terjadi padanya? "
"Kau memakai topeng lagi? "
"Bukan kah kau bisa cemburu hebat nanti nya~"
Alden memeluk Reva erat. Menenggelamkan badan mungil itu di dada bidang miliknya.
__ADS_1
***