Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Puluh Delapan


__ADS_3

***


"Kita di Serang!!  Ada banyak pasukan Bangsa Rambell datang dari Arah Barat!!! " teriak seorang Prajurit yang bertugas mengawasi keadaan dari tempat tertinggi itu.


Reva dan Aila saling berpandangan.


"Aila, urus Dafa dan Seira! Pastikan Dafa selamat! Minta Seira ke Sungai yang sudah kita tentukan! " titah Reva, Aila mengangguk mengerti. Secepat kilat dia berusaha untuk menemui Seira.


"Bangsa Rambell? Dari Barat? " guman nya, Segera Reva keluar dari kamar nya.


---


"Pangeran! Bangsa Rambell menyerang kita?! Dengan pasukan yang sangat banyak!! " lapor Ferry. Spontan Alden yang duduk di kursi khusus nya berdiri. Ia tak peduli jika ada yang melihat nya.


"Dimana Jendral Fatas palsu? " tanya Alden yang sudah memakai jubah perang nya.


"Dia memimpin penyerangan dari arah Barat, dengan pasukan yang besar pangeran! Saat ini Devan coba untuk menahan nya!"


"Apa situasi nya separah itu?! " sinis Alden.


"Sangat Genting Pangeran. Pasukan kita kalah jumlah dengan pasukan mereka"

__ADS_1


"Minta Jendral Fatas untuk datang kemari. Buka jalan Rahasia, untuk pelarian Reva dan Dafa. Siapkan pasukan pelindung untuk mereka berdua!" titah Alden. Pandangan nya sudah di penuhi kemurkaan.


"Maafkan Saya pangeran. Dari laporan Prajurit. Ada anak panah yang masuk ke kamar Permaisuri Reva"


Alden melotot tak percaya, dia langsung meloncat dari atap ke atap untuk menemui Permaisuri nya. Hati nya penuh kerisauan.


Aku Alden Kertlan mengubur Ambisi ku untuk menguasai Dunia. Dengan Syarat hidup selamanya bersama Gadis yang aku cintai. Tuhan! Selamat kan lah dia!!


Batin Alden masih di penuhi kerisauan. Entah lah, jantung nya berdegub begitu kencang, dia benar - benar khawatir akan kondisi Reva.


"Reva!!! " seru Alden, tepat saat Reva ingin keluar, ada Alden di sana yang langsung memeluk nya.


"Dengar... Rencana kita gagal. Bangsa Rambell telah menyerang kita lebih dulu. Kau pergilah ke Goa itu, pergi bersama dengan Dafa. Kalian berdua harus aman lebih dulu. Aku akan menyusul mu, pergilah aku sudah menyiap kan pasukan Khusus melindungi kalian" titah Alden menghujani pucuk kepala Reva dengan kecupan nya. Menarik lengan gadis mungil itu untuk Keluar.


"Lalu bagaimana dengan Dafa? Kau ingin Dafa celaka?! "


"Aku sudah meminta Seira membawa Dafa ke tempat yang aman! Jadi, biarkan aku tinggal! "


"Tidak! Kau harus pergi. Dengar! Aku mencintaimu! Sangat mencintai mu! Kau harus selamat! Apapun yang terjadi, kau harus pergi! Aku bisa menerima segalanya, tetapi tidak Menerima kematian mu! Pergilah Reva! " titah Alden, kali ini Alden terlihat sangat serius. Membuat Reva sendiri diam tak bergeming.


"Pergilah.., ku mohon. Aku terlalu mencintai mu, sampai aku tidak bisa membiarkan mu terluka. Yah..., aku tau ini sangat tidak berkelas. Aku menyatakan perasaan ku di tempat seperti ini. Tepat saat aku akan tetap hidup atau tidak. Tapi.., Dengar kan aku.. Pergilah... demi Dafa.., " tambah Alden lagi, mata nya nanar menatap Reva yang diam. Di mata nya juga ada harapan, yah harapan agar Reva menuruti keinginan nya.

__ADS_1


"Kalau aku pergi?! Bagaimana dengan mu?! Aku akan tetap di sini! Kita akan mengatasi nya bersama! Kau tau aku bisa bela Diri! Aku bisa membantu mu! " protes Reva yang masih kekeh akan argumen nya.


"Hentikan pikiran pendek mu itu! Mereka terlalu banyak, ini terlalu sulit. Aku hanya tidak ingin kau terluka. Pergilah... Apa sesulit itu menuruti permintaan ku? "


"Yah sulit! Karna aku tak kan pernah meninggalkan mu. Kau pikir cuma dirimu yang tak ingin melihat ku Terluka! Aku juga tak ingin kau celaka! Jika ada bahaya kita harus menghadapi nya bersama! Bahkan jika bahaya itu berujung maut sekalipun!! " ucap Reva tak kalah keras. Ia langsung mendarat kan sebuah ciuman di bibir Alden.


Alden sangat tertegun, dia begitu tercengang, dia tidak menyangka bahwa Reva akan berkata dan kekeh akan tetap di sisi nya.


"Aku di sini! Di sisi mu! Dan selamanya akan tetap di sisi mu!" ucap Reva, menatap nanar pria di hadapan nya ini.


Alden menghela napas nya berat, ia sudah tak kuasa lagi melawan Argumen istri nya ini.


"Ingat yah Sayang.. Ini kau yang mengatakan nya, akan tetap di sisiku apapun yang terjadi. Dan yah, Serangan ini tidak buruk juga. Setidak nya jika aku mati hari ini, Kau sudah mencium ku lebih dulu" goda Alden, menarik senyum tipis nya.


"Diam lah! Kita sedang perang! Ayo kesana! Mereka semua menbutuhkan kita! " Ucap Reva, tampak kedua pipinya merah merona. Tentu karna malu, Alden yang tadi risau kini lebih tenang. Bahkan geli dengan tingkah melu permaisuri nya ini.


"Ayo ikuti aku. Dan tetap di sisiku. Seperti yang kau ucapkan tadi "


Alden menarik tangan Reva, mereka segera menuju tempat pusat nya perang.


***

__ADS_1


Ini Novel masih mau lanjut?


__ADS_2