Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Sembilan


__ADS_3

"Sial!! " desis nya berjalan ke luar istana untuk memaki dan melampiaskan kemarahan nya. Tiba - tiba ada seseorang yang memukulnya dari belakang.  Entah apa motif orang itu sebenarnya. Dan siapa orang itu?  Pakaian nya serba hitam dan tak dapat dikenali.


***


"Nyonya semua tugas selesai ..," lapor Aila berbisik. Reva hanya nengusung senyuman tipis nya.


"ada apa? Apa yang selesai?? " tanya Alden yang sedikit mendengar bisikan itu.


"nikmati lah pertunjukan yang akan ku buat" sahut Reva senyum menyeringai. Alden juga ikut tersenyum menatap alunan senyuman permaisurinya.


Aih... Pembalasan sudah mau di mulai yah. Baiklah aku hanya akan menjadi penonton saja hari ini


Tak berapa lama mereka berbincang. Tiba - tiba masuklah pangeran Zefan dengan keadaan mabuk. Seperti nya dia begitu banyak meminum minuman keras. Zefan langsung datang dan memukul keras meja di hadapan Reva dan Alden ini.


"Zefan! Apa yang kay lakukan! Kembali ke kediaman mu! Segera! " titah Raja yang seperti nya sudah malu akan perbuatan putranya.


"Tidak ayah tidak! Aku kesini ingin menemui Reva! Aku ingin mengatakan aku mencintainya!!" teriak Zefan dengan nada khas orang mabuk.


"kakak kedua sedang tidak sadar. Lebih baik kembali ke kediaman" sahut Alden yang mulai tidak tenang. Fakta bahwa Reva dan Zefan dulu berhubungan tidak bisa hilang begitu saja dari pikiran Alden. Ia selalu mengkhawatirkan jika permaisuri nya jatuh hati lagi pada kakak satu ayahnya.


"Diam kau! Ini ulah mu! Ini karna mu! Jika kau tidak muncul Reva tak kan mungkin meninggalkan ku! Kau ini hanya manusia sampah yang tidak berguna! Kau lumpuh! Kau cacat! Kau--" PLAKKK. ucapan Zefan terputus dengan tangan Reva yang menggantung di udara di hadapan nya. Reva baru saja menampar seorang pangeran di depan Raja.


"Reva, aku sungguh mencintai mu! "


"Cinta? Apa kau sungguh mencintai Nona ku?! Katakan yang sejujurnya! " sambar Aila. Seketika Zefan diam klakap.


"yah.. Dulu aku yang salah, aku berpikir hanya ingin memanfaatkan Reva guna mendapat dukungan perdana mentri. Tapi.. Saat dia menikah dengan adik ke empat aku merasa sakit sekali... Bahkan aku juga merencanakan satu hal... " jelasnya.


"oh Rencana apa yang pangeran maksud, katakan! " lanjut Aila. Pangeran Zefan dengan menurut nya juga menceritakan segalanya.


"Aku dan Riana mencoba mempermalukan Reva di penjamuan kali ini. Aku sudah memberinya obat perangsang di minuman nya. Tapi itu tak bereaksi"


Semua hadirin diam, sedari tadi Raja menanyainya. Zefan sering berkilah dan mengalihkan topik. Tapi kenapa jika Aila yang bertanya langsung di jawab dengan jujur?

__ADS_1


"Kurang ajar! Kau Sialan! Mulai hari ini Kerajaan Leezhart tidak memiliki pangeran seperti mu! Kau bukan lagi pangeran dan kembalikan dia ke kampung halaman ibunya!! " titah Raja yang sifat nya mutlak. Para pengawal begitu cepat telah nenyeret Zefan yang meronta dan menyebut nama Reva.


"dan untuk putri perdana mentri Riana! Dia di jatuhi hukuman kurungan penjara selama 10 tahun!! Kalian nikmatilah pesta nya! Aku ingin beristirahat! " titah Raja lagi berjalan pergi. Dengan kasar pengawal juga menyeret Riana pergi.


Haha! Rencana Nyonya memang selalu sempurna dan menyakitkan. Bagi seorang pangeran, kenatian lebih baik daripada pelepasan gelar pangeran yang di sandang nya.


Batin Aila mengingat kembali semua kenangan nya. Ingatan dimana rencana ini Nyonya nya lah yang menyusun nya. Sudah menjadi trik pasaran menggunakan obat perangsang. Kali ini Reva menggunakan efek bunga penurut dan metode hipnotis yang di lakukan Aila. Yah menghipnotis pangeran Zefan saat dirinya menculik nya.


Hehe... Satu dendam telah terbalaskan. Satu masalah selesai. Hanya tinggal fokus kemasalah ku sendiri yang sudah menumpuk.


Batin Reva mengusung senyum puas. Pangeran pertama yang tak sengaja menatap Reva juga mengikuti alunan senyuman nya.


Reva... Yah? Menarik... Mungkin bisa aku pertimbangkan untuk menjadi permaisuri masa depan ku


Batin Pangeran pertama yang benar - benar terpanah pada Reva.


***


"ada apa? Apa kau cemburu? " sahut Reva yang selalu berusaha keras melepas lilitan Alden yang menimpanya setiap malam.


"Yah... Aku cemburu, untuk itu aku tak mengizinkan mu dekat dengan pria manapun. Apa kau paham?? " pekik Alden secara Halus yang sukses membuat Reva diam.


"Aku hanya akan dekat dengan pria lain jika aku menjadi janda. Aku ini wanita terhormat"


"kalau begitu aku tak kan pernah membuatmu menjadi janda" ucap Alden yang sudah naik menatap sejajar wajah Reva sebelum ia akhirnya mendaratkan beberapa ciuman di pelipis, kening, dan Pipi Reva. Membuat Reva merasa geli.


***


Reva menggeliat pagi itu, khas nya orang baru bangun tidur. Ia sesekali meraba sebelahnya, kosong. Tidak seperti pagi hari biasa yang dimana Reva harus berjuang keras melepaskan lilitan lengan kekar suaminya itu. Belum lagi tingkah aneh nya yang bermanja setiap pagi.


Tapi ada yang aneh. Reva merasakan perasaan tidak nyaman dan tidak suka saat tak mendapati suaminya ketika bangun.


Apa ini? Kenapa aku tidak nyaman? Apa ini karna... Alden?! Apa aku mulai men... Tidak! Aku masih memiliki banyak masalah, belum memikirkan hal itu! Dan mungkinkah dia hanya memanfaatkan ku! Demi tujuan politiknya?!

__ADS_1


Batin nya berjalan menuju meja rias nya. Menatap penampilan acak nya, terlihat ada bintik merah di leher jenjang Reva. Dapat di pastikan ini jejak yang suaminya sengaja tinggalkan. Namun, entah kenapa bukan marah Reva malah tersenyum tipis. Namun sesaat lagi mengusung wajah lesu.


***


Reva langsung menghampiri Bibi Ayana saat tak mendapati Dafa ada di kamar.


"bibi Ayana, dimana Dafa? " tanya nya sedikit khawatir.


"Tuan muda Dafa bermain dengan ayah nya permaisuri" sahut bibi Ayana.


"oh bermain? Dimana? "


"halaman belakang"


Reva mengucapkan terima kasih dan bergegas ke halaman belakang menghampiri Suami dan Anak nya. Ketika melihat Alden dan Dafa sedang bermain, Reva merasa sangat senang dan lega. Rasanya sangat menyenangkan memiliki keluarga kecil. Reva kembali menggelengkan kepala nya saat ucapan Alden yang meminta banyak anak terlintas di kepalanya. Bagaimana Reva bisa melupakan nya saat Alden membicarakan nya setiap malam.


"Bunda!! Eh, tapi kenapa bunda menggelengkan kepala?! Apa bunda sakit?! " teriak Dafa menyadari keadaan bunda nya. Ia langsung menghentikan aksi berlatih pedang dengan ayah nya dan menghampiri bunda nya.


"Bunda tidak sakit sayang" sahut nya hangat.


"Aku pikir bunda lagi pusing karna sedang mengandung adik ku" keluh nya dengan raut wajah kecewe. Reva terkesiap, ketika mendengar ucapan polos putra kecil nya yang bahkan belum genap lima tahun.


"sayang, siapa yang mengatakan pada mu hal ini? "


"Ayah yang mengatakan nya.. Dia selalu bilang akan memberikan ku banyak adik, tapi bahkan satu pun belum ada kepastian nya! "


Reva tentu saja sudah menduga nya. Ini semua karna ulah kurang kerjaan suami nya. Alden mengusung senyuman menang saat Reva sendiri melotot tajam pada nya.


***


Ayoo like, komen, and vote yah


Jangan lupa follow me and cek it out my profil, di sana banyak cerita berbagai genre loh hehe..

__ADS_1


__ADS_2