Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Hai hai guys


Silah tinggal jejak yah


Aku up lebih dari satu episode yah


Dan jika bisa Vote dong.. Hehe biar Author semakin semangat


***


Malam itu Reyza dan Ryuza datang berkunjung ke kediaman pangeran Alden, guna mengajak Reva pulang agar bisa bertemu kakek Arthaft. Namun, sangat di sayangkan Reva dan Alden sudah pergi ke perbatasan Utara. Tentu perginya adik kecil kesayangan nya ke tempat yang berbahaya berhasil menyulut emosi kedua kakak nya.


"Sial! Berani sekali Alden mengajak Reva ke sana! " maki Ryuza, dia sudah tak perduli jika salah satu pelayan di kediaman Alden mendengar nya. Yah memang tidak mungkin di dengar, karna memang mereka sudah keluar dari gerbang utama kediaman Alden.


"Bersiap, besok kita ke perbatasan Utara. Jika ada yang berani menyakiti adikku. Tak kan kubiar kan arwah nya tenang! " geram Reyza. Ia mengepalkan tangan nya kuat, sebelum akhir nya lompat naik ke kuda milik nya.


"Reyza??  Siapa orang itu? Kenapa dia datang ke kediaman pangeran Alden?! Dia datang dengan mengendap ?! Hanya orang bodoh yang tak curiga " ucap Ryuza.


"Yuza, tangkap dia hidup - hidup. Pakaian serba hitam di tengah malam, melompat mengendap. Humph! Sudah jelas niat nya untuk menyakiti! " sahut Reyza,  dia kelihatan menyeramkan. Yah Reyza memang selalu seperti itu jika ini menyangkut adik kecil nya.


Pandangan mereka tajam menatap pria serba hitam itu, yang baru saja melompat masuk ke kediaman Alden. Tanpa berlama - lama lagi, Ryuza sudah menarik orang itu dan menyeretnya menjauh dari kediaman.


Ryuza dan pria itu bertengkar hebat. Kemampuan mereka bisa di katakan imbang, tebasan dan pukulan Ryuza mampu di hindari oleh pria itu.


Reyza dengan cepat membantu Ryuza, dengan melemparkan jarum pelumpuh. Membuat pria itu berlutut tertunduk dia tak sadarkan diri. Pedang tajam nan mengkilat milik Ryuza sudah siap sedia di layang kan untuk memotong tangan orang itu.


"Yah hanya tangan tak kan membuat mu mati, jadi santai saja" anggar Ryuza.

__ADS_1


Kkkrrtkkk


Tebasan itu sudah di layang kan, namun pedang Ryuza tak bisa menggores kulit pria itu. Hanya baju nya yang robek. Reyza dan Ryuza terkejut terheran - heran tentunya. Ini bagai teka - teki baru bagi mereka.


Ryuza sudah bersumpah di depan pedang phoenix legenda bahwa dia tak kan bisa menyakiti anggota keluarfa bangsawan Arthaft. Lalu, kenapa dengan pria itu? Apa mungkin--


Batin Reyza dia dengan cepat membuka kain yang menutupi wajah pria itu.


"pangeran Riekai?! " pekik mereka bersamaan, nendapati wajah itulah yang ada di balik kain hitam.


"Aku hanya bersumpah tidak akan menyakiti bangsawan Arthaft. Lalu, kenapa aku tidak bisa menyakiti mu" ucap Ryuza, ia menarik sobek baju bagian bahu Riekai. Tampak tanda mawar merah menyala di sana.


"Mawar merah?! Dia anggota bangsawan Arthaft! " pekik Ryuza lagi, ia semakin merasa tercengang.


"Mawar merah?! Mungkin kah dia Putra nya bibik Naraya yang hilang?! Tambah Reyza, ia dengan intens dan teliti memperhatikan tanda mawar merah itu.


"Dia Adik Sepupu kita yang hilang?! " ucap mereka bersamaan, Menayadari hanya ada satu hal kemungkinan itu.


***


"Bagaimana Aila, menemukan hal yang janggal? " tanya Reva, dia kini sudah berada diluar benteng perbatasan. Dengan jubah biru yang berkibar.


"hal yang janggal? Hampir setiap hal di sini janggal" sahut Aila, dia mulai memainkan belati yang di pegang nya.


Tak tak


Tampak Dua pria berseragam Prajurit dari benteng Perbatasan Utara itu keluar mengendap.

__ADS_1


"Hehe, mereka mulai memainkan aksinya? " tanya Aila berbisik, memperhatikan gelagat dua orang pria ini.


"Aila, menurut mu berapa banyak orang bangsa Rambell yang menyamar menjadi prajurit di Benteng Utara? " tanya Reva yang tentunya memiliki maksud.


"Tidak tahu, yang jelas aku tahu. Mereka berdua adalah salah satu nya" pekik Aila, dengan cepat ia sudah melemparkan belati nya dengan sempurna di jantung salah satu mereka.


"Pelan - pelan bocah. Jangan berisik, kau tau aku suka main bersih dan tenang" koreksi Reva, ia sudah menutup wajah nya dan memakai jubah biru yang mampu menutupi identitas nya. Begitu juga Aila yang memakai pakaian serba hitam.


Setelah belati itu menancap akurat di jantung, Aila belum puas. Dendam darah bangsa Netcher terhadap bangsa Rambell masih mendidih panas di tubuh nya, tanpa belas kasih ia menusuk organ vital nya lagi, menebas wajah pria itu hingga menyisahkan luka di wajah nya.


Tskkkk


Pria yang satu nya lagi tentu harus menghadapi bengis nya Reva. Tanpa ampun Reva menusuk perut pria itu dengan pedang nya. Hingga pedang nya menembus tubuh pria itu. Tak puas, Reva sekali lagi menebas kan pedang nya berhasil memisahkan tangan pria itu dari tubuh nya. Sayang sekali, pria itu belum mati, membuat Reva sekali lagi harus menunjukkan sikap kejam nya, Reva menusuk jantung pria itu, mulut pria itu yang ingin berteriak, Reva sumpal dengan kakinya. Darah itu muncrat begitu saja, Reva menghindar dari salah satu tetes cipratan nya.


Berbeda dengan Reva yang main pelan dan bersih, tanpa ada setetes noda darah pun di jubah nya. Aila, masih menghajar habis pria di hadapan nya meski dia sudah tidak bernapas lagi. Aila di selimuti oleh dendam membara, membuatnya berhati keji.


"Sudah lah, ayo bereskan mayat nya" saran Reva, Aila menghentikan kegiatan nya.


"Hehe.. Nyonya Permaisuri , Anda pergi membunuh orang di tengah malam begini, tidak takut kah pangeran mencari" ledek Aila dengan nada khas nya.


"Jangan khawatir, dia banyak sekali urusan yang harus di selesaikan nya. Dan membunuh orang? Haha aku hanya membunuh monster jahat, guna menegakkan keadilan. Itulah prinsip hidup ku"


"yah itu memang kesalahan nya, Siapa suruh mereka jadi orang yang jahat" sahut Aila santai.


***


Ayooo tinggal kan jejak kalian yah.

__ADS_1


Silah tinggal Like, komen, and vote.


Diusahakan hari ini bakal up satu chapter lagi loh. Yah hehe


__ADS_2