Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
07. Takdir Bulan


__ADS_3

***


Ferry mengelus dadanya seketika,  menatap hal aneh dari kereta Alden dan Reva. Namun,  apa dayanya? Ia hanya prajurit biasa. Tak kan mampu dan tak punya kuasa menegur Alden sang pangeran. Apalagi,  Alden akan menjadi Raja,kan?


Ya ampun pangeran. Semoga tak ada yang menyadari hal itu. Kau keterlaluan.


Batin Ferry. Ia masih berusaha mengalihkan fokus Dafa.


***


Akhirnya setelah cukup lama,  dan melewati beberapa hari Rombongan Alden sampai di Gerbang Mansiom Ksatria Murni. Banyak sekali orang yang Menyambut Alden. Yah mereka tentu sudah terbiasa dengan kedatangan Alden.


"Tuan Muda,  Istirahat lah dulu. Habis dari perjalanan panjang. Anda lelah kan? Kalian bisa menemui Tuan besar Arsan besok. Sekarang ia juga sedang istirahat. " Tawar pengawal itu. Yah,  pria yang cukup tua. Wajar di panggil Paman. Alden kenal betul dengan pria bersuara berat itu.


"Yah baiklah paman. Tapi,  kali ini aku tidak sendiri. Aku membawa istri dan Anak ku. Perkenalkan. Dia Reva,  Permaisuri tercinta ku. Dan dia Dafa. Anak ku. "


Alden memperkenalkan mereka satu - satu. Yah,  ini bentuk kesopanan Alden pada tangan kanan kakek nya itu. Kakeknya si pemimpin bangsa Ksatria Murni.


"Aku Reva,  Salam paman. " Sapa Reva hangat. Mencoba mencari kesan yang baik tentunya. Tak kalah Ramah,  Paman itu juga tersenyum.


"Aku Kasan. Tangan Kanan Pemimpin Bangsa Ksatria Murni. "


"Halo paman Kasan. Aku Dafa,  Anak nya Ayah Alden dan Bunda Reva. " Dengan ramah dan polosnya Dafa mencium punggung tangan Kasan.


Deg.


Ada yang tidak beres dari Ekspresi Kasan. Seperti nya ia menyadarinya. Hal yang membuat Alden dan Reva datang jauh - jauh.

__ADS_1


"Baiklah kalian semua masuk dulu. Kita akan membicarakan permasalahan nya besok pagi. " Kata Nya,  Kasan menuntun rombongan itu masuk.


Alden menggenggam erat tangan Reva.


"Jangan di lepas... Aku takut kamu hilang. Kalau hilang,  Aku gak akan bertemu permaisuri seperti mu lagi. " Bisik Alden pelan. Sangat pelan hingga hanya Reva yang bisa mendengar nya.


Banyak para pelayan yant menatap kagum pada kecantikan Reva. Ada yang iri,  tentu. Yah Begitulah.


***


Reva mengangkat tangan nya sebelah. Dengn arti,  Aila harus terpisah dari rombongan. Dan memeriksanya. Akan kah tempat ini benar - benar Aman?


Aku sudah tak memiliki kekuatan apapun lagi. Harus ekstra waspada. Mengandalkan Alden?  Anak ini kadang tak waras.


Aila mengangguk pasti. Ia celingukan kanan kiri melihat keadaan. Mencoba mencari selip untuk terpisah dari rombongan. Ah,  bukan Aila namanya jika tidak berhasil kabur.


Hem hem hem


Gumam Aila mulai mengelilingi Mansion ini. Sejauh pengamatan nya semua baik - baik saja.


"Tidak perlu begitu waspada. Ini kediaman Bangsa Ksatria Murni. Tak kan ada yang bisa melukai Permaisuri Reva. " Pekik Halus Ferry yang kinu sudah ada di depan Aila.


"Wah,  ketahuan yah? Lalu apa salahnya? Aku hanya mengkhawatirkan Nona ku. " Sahut Aila enteng.


"Sudah ada tuan Alden yang akan melindungi nya. Kau tak perlu khawatir. Lebih baik,  kembali ke kamar mu sekarang. "


Aila menghela napas berat. Ia tak ingin berdebat dengan Ferry. Dengan langkah gontai Aila kembali ke kamarnya.

__ADS_1


baiklah, Berdebat dengan nya tak se menyenangkan berdebat dengan Tuan Ryuza.


***


"Alden? Tidak bisa kah kita menemuni kakek mu malam ini? Aku sangat khawatir pada Dafa. Aku ingin segera bertanya padanya. " Keluh Reva,  bergelayut manja di lengan kekar suaminya.


"Kakek sedang istirahat sayang. Mengertilah,  dia sudah tua. Kita tunggu besok pagi,  oke? " Sahut Alden menatap makna istrinya ini.


Reva mendengus kasar. Ia juga tak tega membangunkan pria tua hanya untuk keegoisan nya semata.


"Sekarang ayo tidur. Agar,  besok pagi lebih cepat datang. "


"Aku enggak bisa tidur. Aku enggak ngantuk. "


"Jalan - jalan keluar sebentar bagaimana? Di halaman belakang ada air terjun. Mau lihat? Terkadang,  juga ada kunang - kunang. " Ajak Alden. Reva mengangguk antusias. Akhirnya Alden mengajak permaisuri kecilnya berjalan sebentar.


***


"Alden,  kenapa bayangan bulan nya sempurna di Kolam ini. Tapi,  lihatlah di atas sana hanya ada setengah bulan?" Tanya Reva bingung saat melihat bulan yang di labgit berbeda dengan bulan yang di pantul kan.


"Itu karna ini kolam ilusi. Ia hanya akan memperlihatkan apa yang ingin orang itu lihat. Tapi, kau? Kenapa keinginan mu begitu sederhana. Hanya melihat bulan yang sempurna? " tanya balik Alden. Ini cukup aneh baginya.


"Maksudnya apa? Kenapa aku tak mengerti? "


"Ini namanya kolam ilusi. Ia akan memantulkan hal yang ingin di lihat oleh si pelihat. Jadi apa yang kau lihat di kolam ini adalah hal yang ingin kau lihat. " terang Alden,  ia melepas jubah nya. Memakaikan nya pada permaisuri tercinta nya. Saat menyadari bahwa angin dingin mulai menerpa.


"Lalu kenapa Aku hanya melihat bulan yang bulat sempurna? " tanya Reva lagi heran.

__ADS_1


"Kau Takdir yang spesial nak. " Suara berat itu berasal dari arah belakang Alden dan Reva. Mereka menoleh seketika.


***


__ADS_2