
***
Ini sudah hari ke Delapan perjalanan rombongan Alden menuju perbatasan Barat.
Sore hari itu menjadi kesempatan untuk mereka beristirahat nenggelar tenda pasukan. Prediksi akan sampai ke perbatasan adalah besok.
"Bunda, kapan kita sampai? " tanya Dafa turun dari kereta kuda yang dinaiki nya dan Reva.
"Besok hari, pameran ku" sahut Alden datang dari hadapan nya di tuntun oleh Devan.
"Ayah... Ayah dari mana saja, Dafa dan Bunda dari tadi menunggu Ayah di kereta" rengek nya manja naik ke pangkuan Alden.
"Ahhh.. Apa benar Bunda mu merindukan Ayah? "
"iyah itu benar. Bunda terlihat sangat khawatir Karna Ayah belum kembali"
"Anak yang manis, Ayah akan memberikan mu pedang sungguhan nanti" tambah Alden mengecup pucuk Kepala Dafa.
"Akhh terima kasih Ayah, sekarang aku ingin makan bersama bibi Seira" ia turun dari pangkuan Alden dan lari menuju Seira yang sudah membawa nampan berisi makanan.
Alden tersenyum puas mendapati Fakta yang di lontarkan anak sulung nya. Yah Alden selalu merasa Dafa adalah anak sulung nya karna ia akan memiliki banyak anak lain nya.
Satu isyarat tangan Alden membuat Devan mengerti untuk pergi, saat Reva kini sudah ada di hadapan nya.
"Mengkhawatirkan Aku? " tanya Alden, menarik sudut bibir nya menyungging kan senyuman tipis.
"Aku masih terlalu waras untuk memikirkan hal itu" sanggah nya, namun Alden tahu dengan jelas Reva yang sekarang sedang berbohong.
"AHHHHHH!!! "
Mendengar teriakan itu Alden dan Reva segera mendekat keperkemahan yang merupakan Asal suara itu. Reva sendiri yakin dengan jelas bahwa itu suara dari Aruna.
__ADS_1
"Aruna? " lirih nya, menatap Aruna yang sudah seperti orang gila menunduk menggeliat meronta - ronta mencakar tanah hingga tanah itu memenuhi ujung - ujung kuku nya. Aruna terus meronta berteriak dengan sangat keras.
"Bunda! " teriak Dafa berlari menghampiri Reva. Tidak tahu kenapa Aruna rasanya ingin mencabik Dafa, ia terbang mencoba menerkam Dafa kecil yang berlari.
Tanpa ba-bi-bu lagi Alden bangkit dari kursi nya dan menendang keras Aruna hingga jatuh tersungkur. Bukan nya menangis, Aruna semakin mengamuk, matanya berwarna merah menyala. Tak ada ekspresi terkejut sedikit pun dari mereka. Pasal nya mereka yang di bawa ini adalah pasukan Khsus Alden yang sering berperang bersama nya. Tentu saja juga tahu bahwa Alden hanya berpura - pura lumpuh. Aila sendiri pasti sudah menduga nya. Yah, hanya sisa Seira yang polos lah yang tercengang.
Reva masih sangat shock dengan apa yang di lihat nya sekarang. Apa yang terjadi pada Aruna? Ia masih setia mendekap memberikan ketenangan pada Dafa kecil di sana. Dafa sangat ketakutan menatap Aruna yang seperti monster ini.
"Seira, bawa kembali Dafa" titah Reva yang langsung di angguki Seira, ia langsung membopong tubuh kecil Dafa kembali ke tenda.
Akibat amukan Aruna sendiri, mengakibat kan baju di kedua lengan nya sobek. Memperlihatkan tanda Rambell di salah satu lengan nya. Tentu saja ini membuat Shock mereka semua. Alden hanya menatap Reva penuh selidik.
Aila sendiri lah yang langsung menyerang Aruna mencoba menghentikan amukan Aruna. Aila sadar Aruna memiliki bakat medis yang luar biasa, sangat cocok untuk menjadi pion nona nya. Ia tak ingin kehilangan Aruna.
Usaha Aila yang mencoba menghentikan Aruna dengan tidak melukai nya itu sangat sulit.
"Aila! " teriak Reva, menangkis kecepatan serangan dari belakang Aruna.
"Kalian gila?! Kenapa diam saja! Cepat bunuh dia dan selamat kan permaisuri! Dia dari bangsa Rambell! Dia ingin menyakiti permaisuri!! " titah Devan.
"Diam di tempat! Pangeran Alden tidak perlu repot, aku lah Reva yang membawa nya ke kediaman. Dan aku pula lah yang akan mengatasi masalah nya. Bukan kah ini yang pangeran maksud. Bertanggung jawab atas perbuatan mu sendiri? " pekik Reva membalas tatapan penuh selidik Alden tadi.
Saat ini Reva menatap Intens Aruna atau lebih tepat nya monster dengan mata menyala di hadapan nya ini. Yah dia adalah monster dari bangsa Rambell.
Kenapa begini?! Aku tidak menyangka Aruna adalah keturunan bangsa Rambell. Tapi, apa yang memacu nya untuk mengamuk. Aku yakin, Aruna tak ingin membuat kekacauan ini.
Batin Reva masih diam tak bergeming menatap Aruna yang berupa monster ini.
Sesaat kemudian Aruna dengan kilat nya sudah menyerang Reva dari berbagai arah. Reva sendiri mampu mengimbangi kecepatan Aruna. Bahkan mendarat kan pukulan yang barakibat Fatal bagi Aruna sendiri.
Kali ini Alden di buat sangat tercengang. Ia benar - benar tidak tahu jika permaisuri nya menguasai bela diri tingkat tinggi ini.
__ADS_1
Huh! Tidak sia - sia Delapan tahun waktu ku berkelana bersama Guru!
Aruna yang sepertinya tidak pernah kelelahan atau bahkan tak merasakan sakit meski banyak luka fatal akibat pukulan Reva. Masih dengan brutal menyerang nya.
Hanya dengan sekali gerakan lagi, Reva bisa dengan sempurna membunuh Aruna.
"Nyonya Re-Va.. Bu.. Nuh saya" lirih nya menatap lemah Reva Dengan mata nya yang tak lagi menyala, namun sesaat kemudian ia menyerang balik Reva dengan mata nya yang menyala.
Reva menghindar namun. SHHH!! rasa sakit di bahu Reva begitu menghujam nya. Ia merasa otot bahu nya terkikis oleh pisau yang tajam. Sangat sakit dan perih. Sakit itu membuat Reva gagal menghindari serangan Aruna monster.
Dengan gerakan super kilat nya Alden berhasil melindungi Reva. Ia melawan Aruna. Tapi dengan cekatan Alden tak melukai Aruna. Hanya butuh dua puluh menit untuk melunpuh kan Aruna tanpa membunuh nya, meski harus melancarkan serangan fatal di titik tertentu.
"Bawa dia dan ikat, obati luka - luka nya" titah Alden.
"Tapi.. Tuan.. Dia ini Bangsa Rambell" sanggah Ferry.
"Dia juga merupakan pelayan yang permaisuri ku bawa. Kalau ada orang yang ingin membunuh nya dia adalah Reva"
Devan dan Ferry kehabisan kata - kata. Mereka hanya bisa melakukan titah tuan nya.
"maaf kan ak--" permintaan maaf dari Reva belum selesai. Tapi Alden sudah memeluk begitu Erat tubug mungil Reva.
"Bahaya apapun tidak perlu kamu yang maju ke depan. Biar Aku saja. Tetap lah di belakang ku. Tidak tahukah Kau, seberapa takut nya aku saat melihat bahaya di sekeliling mu. Berjanjilah padaku untuk tak terjerat dalam bahaya lagi" lirih Alden yang masih setia memeluk Reva.
Entah lah, kali ini jantung Reva benar - benar berdegub sangat kencang. Ia juga tak tahu apa yang sebenarnya di rasakan. Yang jelas, di cintai oleh Alden dengan cinta yang tiada tara membuat nya begitu bahagia.
***
Ayoo tinggalkan jejak kalian, dengan cara like, komen, and Vote yah.
Story by Rini IR
__ADS_1