
***
"Ibu Ratu, Apa tidak ada kemungkinan untuk Alden tak memiliki selir?"
"Tidak ada nak. Itu sudah menjadi kebiasaan pada Kerajaan Flawyard. Semakin banyak selir, semakin tampak berkuasa lah sang Raja. Apalagi jika Selir nya berasal dari Bangsawan atau putri kerajaan lain. "
"Baiklah ibu Ratu. Reva akan kembali. Reva ingin memikirkan segalanya. " Reva menunduk lalu pergi.
"Tunggu Reva... " Yang Mulia Ratu mengejar Reva. Ia melepas hiasan rambutnya, memakaikan nya pada Reva. "Sayang, Ibu selalu berdoa agar kau bahagia. Jika kau bisa, minta Alden untuk mundur menjadi Raja. Ibu tak suka bila kisah cinta kalian ternoda. " Lanjutnya, ia mengelus lembut wajah Reva.
"Apakah ibu Ratu mengatakan ini, agar aku meminta Alden untuk mundur menjadi Raja. Agar, Riekai anak angkat ibu, bisa menjadi Raja? Awalnya aku berpikir bahwa Ibu memang berempati padaku. Tapi, nyatanya... Humm" Pekik halus Reva, ia menjauhkan tangan Ratu dari wajahnya.
"Sudah ibu duga, kamu akan mengatakan itu. Baiklah, Kamu bisa melakukan Apapun. Menuduh ibu apapun, Tapi, ibu selalu mendoakan semoga kamu dan Alden bahagia. " Ibu Ratu memeluk Reva erat. Entah lah, Reva merasa Ratu tak begitu jahat.
"Baiklah, Reva izin pergi bu... " Reva berbalik kembali, keluar dari kamar Agung sang Ratu.
Reva, Semoga kau pikirkan apa yang ibu katakan. Minta Alden untuk mundur, maka kau akan bahagia. Menjadi Ratu adalah kesakitan sendiri bagi sisi kewanitaan. Dimana, kau harus membagi Suami mu. Sepanjang sejarah, kerajaan Flawyard Tak ada Raja yang tak memiliki selir. Kau harus mengerti Reva. Aku tak masalah kau anggap kejam, Asal kau bahagia. Aku tak ingin melihat mu sakit hati. Kau terlalu baik dan murah hati.
Batin ibu Ratu, ia berbalik menuju meja riasnya, membuka kotak berisikan Sebuh kain putih, dan hitam.
Mundur lah Reva, maka kau akan bahagia. Aku juga tak ingin Kai menjadi Raja. Aku ingin dia hidup dan bahagia. Aku ingin kalian bahagia. Menjadi Ratu, kau terancan nyawa nak. Iyah kan Ratu pertama?
Lanjut Ratu, ia mengikat kedua potong kainnya.
__ADS_1
***
Apa yang Ratu katakan ada benarnya? Jika Alden jadi Raja. Maka ia juga akan memiliki selir. Aku tak bisa! Aku enggak bisa membagi suami ku! Aku tak bisa membagi Alden!
Batin Reva, Ia menenggelamkan wajahnya di bak mandi. Reva masuk ke sana. Berendam, masih memikirkan segala perkataan Ratu.
Apa aku harus meminta Alden untuk mundur menjadi Raja? Tapi, ini adalah impian dan tujuannya. Menguasai kerajaan ini dan Dunia. Aku enggak bisa egois dengan meminta Alden mundur hanya karna kecemburuan ku. Tapi, Aku juga tidak ikhlas jika harus membagi Alden.
Jantung Reva berdegub begitu kencang, Kepalanya sakit, Hatinya tak tenang.
Satu jam Lagi sudah upacara penaikan Takhta Alden. Lalu besok pagi, kepergian permaisuri dan para selir.
"Apa yang permaisuri tercinta ku lakukan? Kenapa belum siap? Sayang? " Alden tanpa rasa malu masuk ke ruang mandi Reva. Membuat wanita yang ada di dalam bak diam membeku.
"Baiklah, aku bersiap. Kau keluarlah. "
"Sayang sekali. Tiba - tiba aku merasa panas dan gerah. Jadi, Aku ingin mandi bersama mu. Hehe" Alden tanpa permisi sudah masuk ke dalam bak yang sama dengan Reva.
"Alden apa yang kau lakukan?!! "
"Mandi dengan permaisuri tercintaku." Sahut Alden enteng.
***
__ADS_1
"Permaisuri, Ayo keluar semua sudah menunggu Anda di Istana utama!" Seru Seira yang baru masuk.
"Baiklah, Ayo keluar. "
"Nona? Apa yang terjadi dengan anda? Apa ada masalah? Aku merasa ada sesuatu yang salah? " tanya Aila. Aila tentu tau perubahan drastis di wajah Nonanya.
"Tidak ada. Ayo pergi. " Ketus Reva.
-
-
-
Reva memasuki Aula istana utama, tentu berdampingan dengan Alden, yang masih setia mengenakan topeng.
Sudah banyak tamu yang berdatangan. Mulai dari bangsawan, hingga semua orang yang berkaitan dengan politik.
"Pangeran Alden, kemarilah..." panggil Raja. Alden menghampiri Ayahnya. Begitu juga Reva yang sudah duduk di sebelah Ratu.
"Aku mengundang kalian semua datang kesini untuk menyaksikan upacara Kenaikan Takhta. Mulai hari ini, Alden lah yang akan menjadi Raja. Aku menyerahkan seluruh Takhta dan kekuasaan Kerajaan Flawyard pada putra ku! Alden Kertlan!! " Teriak Raja. Suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Maaf yang mulia, tapi anda harus berpikir dua kali untuk itu. Untuk menjadi seorang Raja, Pangeran tidak boleh cacat mental ataupun fisik. Tapi, pangeran Alden, ia memiliki kecacatan di wajah. " Sangkal seseorang dari barisan para mentri. Alden kenal dia. Yah dia adalah Paman dari pangeran ketiga.
__ADS_1
***