Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tiga puluh Tujuh


__ADS_3

Ayoo tinggalkan jejak


Silah like, komen, and vote yah. Hehe


Kalau bisa komen di setiap Chapter. Kalau banyak Author mungkin akan up lebih dari satu episode per hari. Hehe


.


***


Sebuah anak panah yang datang dari arah Barat menembus kereta yang Reva naiki.  Dengan cepat Ferry pergi mengejar nya, Ferry yakin ia melihat bayangan hitam dari balik pohon itu.


Segera Alden melihat nya, Reva baik - baik saja. Ia berhasil menghindari Anak panah itu.


"Kau baik - baik Saja?" tanya Alden mendekap erat tubuh Reva. Dia menuntun Reva turun dari kereta nya.


"Anak panah ini? " gumam Devan mencabut anak panah yang tertancap itu,  ia langsung menunjukkan nya pada Alden.


"Cari tahu pemilik Anak panah itu! Jika tahu,  bawa kehadapan ku,  aku lah yang akan menyiksa dia sampai dia mati! " geram Alden.  Yah dia sangat emosi,  bagaimana tidak jika nyawa istri dan anak nya lah yang sedang dipertaruhkan.


"Pelan kan suara mu,  Dafa masih tertidur" sahut Reva mendapati erangan Dafa yang terusik.


"berikan dia padaku, aku lah yang akan menggendong nya" pinta Alden menarik Dafa dari pelukan Reva.


"Siapa pria itu?  Kenapa terluka? " tanya Reva melihat seorang pria tengah terbaring lemah di sana. Dengan Aila yang sedang mengobati nya.


"Dia adalah orang yang kami temui di desa ini putri.  Dia terluka" sahut Aila.


"Apa cukup parah? "

__ADS_1


"yah putri,  banyak sekali luka luar nya.  Syukurlah ini tak ada yang mengenai organ vital nya hingga dia masih selamat"


Reva mengernyitkan dahi nya,  menatap orang itu. Reva dapat melihat nya,  kepulan asap hitam yang terpancar dari orang itu.


"Ampuni hamba pangeran dan putri.  Ini salah saya, silahkan hukum saya.  Saya tidak berjaga dengan baik sehingga putri dan pangeran Dafa hampir terluka" lapor Ferry,  ia baru kembali dari pengejaran nya.


"Apa kau mendapatkan orang itu? "  tanya Alden,  di penuhi aura dendam yang membara.


"Maaf kan saya pangeran.  Dia berhasil lepas,  tapi satu yang dapat saya paatikan. Dia adalah orang dari bangsa Rambell.  Saya berhasil merobek lengan baju nya,  melihat tanda Rambell itu bersinar"


"Baikalah,  tetap tenang.  Tingkatkan keamanan.  Ayo kita menuju benteng perbatasan Utara. Lebih baik kita sampai sebelum gelap" titah Alden.  " bawa warga desa itu juga" tambah nya lagi.


Akhir nya rombongan itu kembali Melanjut kan perjalanan. Alden kali ini setia menemani Reva di dalam kereta nya.


Keamanan semakin mereka tingkatkan. Pria yang mereka temui di Desa itu juga belum kunjung sadar.


***


"kami menerima sambutan mu" sahut Reva yang menuntun Alden di kursi khusus nya.  Alden memang sengaja ingin kembali ke reputasi pangeran cacat nya.


Setelah malam, mereka akhir nya sampai di benteng perbatasan,  yang langsung di sambut oleh jendral Fatas.


"Pangeran, Pria yang terluka ini siapa? " tanya Fatas lagi, ia melihat seorang prajurit menggendong pria yang terluka itu.


"Dia warga desa dekat sini. Kami menemukan nya tergeletak dengan luka yang parah. Kami memutuskan untuk membawa nya dan mengobati nya. Juga ingin menanyakan beberapa hal pada nya" sahut Ferry. Ini tentu saja membuat Jendral Fatas geram. Dia menanyakan hal itu pada pangeran, tapi yang menjawab malah pelayan nya.


Hanya pangeran cacat! Betapa sombong nya dia!


Batin Fatas memaki Alden.

__ADS_1


Reva tersenyum miring, ia melihat jelas ekspresi Jendral Fatas yang sudah menjelaskan segalanya.


"Baiklah pangeran. Di benteng kami juga tersedia beberapa medis, Kami pasti akan menyembuhkan nya. Oh yah, pangeran. Apa dia pangeran Dafa Putra anda? " Tanya Fatas menunjuk Dafa yang di gendong oleh Seira.


"Benar, dia putra ku! " sahut Alden menatap Sinis Fatas. Yang artinya jangan pernah menyinggung putra nya. Fatas menelan saliva nya susah, tatkala tatapan Alden begitu menusuk tulang.


"Silahkan ikuti saya yang mulia. Saya akan menunjukkan kamar anda" pinta Fatas menuntun jalan.


Reva dan Alden saling tatap sebentar, entah apa maksud tatapan mereka berdua. Reva menggerakkan tangan nya, mengisyaratkan Aila untuk mengecek situasi. Tanpa siapapun sadari Aila sudah menghilang dari rombongan.


Reva mengedarkan pandangan nya. Di beberapa sudut daerah, dia sesekali mengernyit kan dahi nya. Entah apa maksud nya.


"Ahhhh... Air mancur itu indah sekali yah Jendral. Aku menyukai nya" celetuk Reva tiba - tiba. Jari telunjuk nya mengarah pada Air pancur di sebelah kiri nya. Sebelum nya Reva melihat dengan jelas, Aura hitam yang sama seperti aura hitam pria yang terluka itu.


"Itu benar putri. Itu sangat cantik, kami juga memelihara beberapa ikan di sana" sahut nya ramah.


"Begitu kah, Besok pagi aku akan melihat nya"


"Aku akan menemani mu" sambar Alden, ada percikan api cemburu di sana.


"Baiklah, besok kita akan melihatnya bersama" tambah Reva, dia mencium pipi Alden yang masih tertutup topeng.


Tentu ini mengagetkan semua orang di sana.. Khusus nya para penjaga benteng Utara. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak jijik mencium kulit yang terbakar?


Kita lihat, sebagus apa permainan kalian?! Hehe


Batin Reva, ada rasa menggebu - gebu di hati nya.


***

__ADS_1


__ADS_2